Jalan Yongkang: Taipei yang Dihuni Profesor Jepang, Tempat Pelarian Orang Asal Taiwan, Kini Destinasi Wisatawan Jepang dan Korea

Di bawah pohon tua di dekat Taman Yongkang pada pukul tujuh setengah pagi, seorang kakek dari luar pulau membaca koran. Pada tahun 1922, orang Jepang merencanakan Kota Showa di sini; asrama bergaya Jepang untuk staf universitas kekaisaran Taipei berada di Qing Tian Street No. 7; setelah 1947, pejabat dan profesor Taiwan menguasai kelompok asrama yang sama.

Jalan Yongkang: Taipei yang Dihuni Profesor Jepang, Tempat Pelarian Orang Asal Taiwan, Kini Destinasi Wisatawan Jepang dan Korea
Gambar: MAm ROFOW 022 · CC0 · Sumber asli

Ringkasan 30 Detik: Jalan Yongkang membentang sekitar 600 meter dari bagian selatan ke utara, antara Linxi Street dan Jinshan South Road, secara administratif berada di Distrik Da'an. Setelah reformasi distrik Taipei pada tahun 1922, area ini direncanakan sebagai "Kota Showa," mencakup Qing Tian Street, Yongkang Street, Linxi Street, Chaozhou Street, dan Jinhua Street saat ini, yang merupakan kawasan perumahan bagi staf dan pejabat tinggi Universitas Kekaisaran Taipei (sekarang National Taiwan University) 1. Pada tahun 1931, ahli geologi Ma Ying-jeou pindah ke asrama bergaya Jepang di Qing Tian Street No. 76 2. Setelah pemerintahan Nasionalis Tiongkok pindah ke Taiwan pada tahun 1949, kelompok asrama bergaya Jepang ini dialihkan kepada pejabat keluar pulau, keluarga militer, dan profesor National Taiwan University: Zhou De-wei pindah ke lokasi Casa Violet saat ini pada tahun 1950 3, dan Yin Hai-guang pindah ke Wenzhou Street terdekat pada tahun 1956 4. Pada tahun 1958, Yang Bingyi membuka toko minyak "Din Tai Fung" di bagian kedua Linxi Road; pada tahun 1972, mereka mulai menjual Xiao Long Bao 5. Pada tahun 1993, The New York Times mencantumkan Din Tai Fung sebagai salah satu dari "Sepuluh Restoran Terbaik Dunia," memulai internasionalisasi 6, dan anime Jepang Solitary Gourmet merekam gerai utama Yongkang pada episode spesial Tahun Baru pada tahun 2015 7. Drama Korea dan media sosial kemudian membawa jalan ini ke dalam rute wisata wisatawan Korea di Taipei. Artikel ini ingin mengatakan: sebuah jalan sepanjang 600 meter, menumpuk tiga generasi penghuni, empat etnis, dan lima memori.

Taman Yongkang Pukul Tujuh Setengah Pagi

Jika Anda bertanya kepada penduduk Taipei yang telah tinggal di Distrik Da'an selama lebih dari tiga puluh tahun tentang "kapan Jalan Yongkang paling memesona," mereka tidak akan menyebutkan bagian antrean Din Tai Fung (itu untuk wisatawan). Mereka mungkin akan mengatakan Taman Yongkang pada pukul tujuh setengah pagi.

Taman kecil itu terletak di area segitiga yang dibatasi oleh Yongkang Street, Linxi Road bagian kedua, dan Linxi Street, dengan beberapa pohon beringin tua yang menaungi atap rumah-rumah rendah. Pada pukul tujuh setengah pagi, kakek dan nenek pensiunan dari gang-gang terdekat akan keluar satu per satu untuk duduk di kursi batu: kakek dari luar pulau mengenakan kaus sambil membawa koran, nenek dengan aksen Sichuan berbicara bahasa Mandarin, dan profesor pensiunan National Taiwan University berjalan pulang dari pasar Linxi Road sambil membawa keranjang anyaman. Sebagian besar orang ini adalah generasi pertama atau anak-anak mereka yang pindah ke Taiwan dari Tiongkok setelah tahun 1949, mereka tinggal di asrama bergaya Jepang di Yongkang Street, Qing Tian Street, dan Linxi Street, rumah yang dialokasikan oleh orang tua mereka.

Setelah pukul tujuh setengah pagi, rombongan turis Jepang pertama akan muncul di mulut Jalan Yongkang. Gerai utama Din Tai Fung Yongkang baru buka pada jam sebelas, tetapi beberapa tamu datang dua jam sebelumnya untuk mengantre. Kursi batu di Taman Yongkang menjadi area tunggu sementara, bahasa Jepang, Korea, dan Kanton bercampur bersama dengan dialek Hokkien dan bahasa Mandarin aksen keluar pulau yang duduk di kursi batu. Momen paling memesona dari jalan ini adalah ketika dua generasi duduk berurutan di kursi batu yang sama: kakek dari luar pulau duduk dari jam tujuh setengah pagi hingga sembilan setengah pagi, sementara wisatawan Jepang duduk dari jam sembilan setengah pagi hingga sebelas.

Berjalan ke selatan melewati Linxi Road bagian kedua menuju pintu masuk Din Tai Fung Yongkang, dilihat dari arah Jinshan South Road bagian pertama, Anda dapat melihat antrean berbelok dari pintu toko ke Linxi Road 8. Kebanyakan orang yang mengantre tidak akan mendongak untuk melihat papan nama bertuliskan "1958," tahun ketika Yang Bingyi dan istrinya membuka toko minyak di Linxi Road bagian kedua, bukan tahun mereka menjual Xiao Long Bao 5.

Berjalan dua menit ke utara menuju Qing Tian Street No. 76, asrama bergaya Jepang yang dibangun pada masa pemerintahan Jepang pada tahun 1931 masih berdiri di lokasi aslinya 2. Hari ini papan nama "Qing Tian No. 76" tergantung di pintu masuk, dan di dalamnya terdapat kafe dengan ruang pameran budaya. Kebanyakan pengunjung tidak tahu: rumah ini dihuni oleh ahli geologi Jepang Adachi Hitoshi sebelum perang, dan setelah tahun 1947, mereka dihuni oleh ahli geologi Tiongkok Ma Ying-jeou. Penghuni sebelum perang dan penghuni sesudah perang sama-sama ahli geologi, tetapi berasal dari dua kekaisaran 2.

600 meter menampung tiga generasi penghuni; inilah kepadatan Jalan Yongkang.

Kota Showa, Qing Tian Street, Linxi Street: Kawasan Perumahan Kolonial yang Diganti Nama

Nama "Jalan Yongkang" baru ada setelah perang. Sebelum itu, nama administratif resmi area ini adalah "Kota Showa," didirikan setelah reformasi distrik Taipei pada tahun 1922 1.

Kota Showa bukanlah satu jalan, melainkan sebuah kawasan. Cakupannya mencakup sebagian dari Qing Tian Street, Yongkang Street, Linxi Street, Chaozhou Street, dan Jinhua Street saat ini, membentang dari bagian kedua Linxi Road ke bagian pertama Donghe Road di utara, dan dari Jinshan South Road ke Xinsheng South Road di timur. Pada masa itu, area ini adalah salah satu kawasan perumahan paling elit di Taipei; orang Jepang merancangnya sebagai zona ganda untuk asrama staf Universitas Kekaisaran Taipei (sekarang National Taiwan University) + asrama pejabat tinggi Gubernur 1.

Mengapa memilih lokasi ini? Pada tahun 1922, Taipei sudah memiliki dua kawasan yang matang: Kota Nei (sekarang Distrik Zhongzheng, tempat konsentrasi gubernur dan kantor pemerintahan) dan Dataochang (pusat komersial orang Taiwan). Area Kota Showa terletak di pinggiran tenggara Kota Nei, hanya 15 menit berjalan kaki dari kampus utama Universitas Kekaisaran Taipei (sekarang kampus National Taiwan University). Orang Jepang membangun asrama bergaya Jepang di sini untuk staf universitas dan pejabat gubernur, secara efektif menempatkan elit akademis dan elit administratif dalam lingkaran kehidupan yang sama 1.

Perencanaan jalan mengikuti sistem kisi-kisi kota Kyoto Jepang: jalan utama berbentuk jaringan persegi panjang tegak lurus utara-selatan dan timur-barat, lebar gang ditentukan hingga 4 meter, luas taman di setiap plot ditetapkan minimal 30%, dan orientasi asrama seragam menghadap selatan. Saat Anda berjalan mengelilingi Qing Tian Street dan Yongkang Street hari ini, Anda akan menyadari satu hal: orientasi kisi-kisi jalan di jalan-jalan ini tidak cocok dengan jalan-jalan lain di Taipei. Qing Tian Street memiliki orientasi timur-barat yang lurus, tetapi Linxi Street di luar kedua ujung jalan memiliki kemiringan barat laut-tenggara. Ini karena sistem kisi-kisi Kota Showa sejajar dengan pola tanah sebelum era kolonial, berbeda dari sistem yang dikembangkan oleh Linxi Road dan Xinsheng South Road pada tahun 1960-80 9.

Selama 23 tahun, dari 1922 hingga 1945, hampir seluruh penghuni Kota Showa adalah orang Jepang. Sangat sedikit akademisi dan pejabat Taiwan. Pemisahan ruang etnis selama periode kolonial sangat jelas; orang Taiwan tinggal di Dataochang, Wanhua, dan pinggiran Kota Nei; sementara orang Jepang tinggal di Rongcheng, Jingcheng, dan Kota Showa 1.

Pada Agustus 1945, Jepang kalah perang. Mulai tahun 1946, pemerintah Nasionalis Tiongkok mulai mengambil alih properti Jepang di seluruh Taiwan, termasuk asrama bergaya Jepang ini. Setelah Peristiwa 228 pada Februari 1947 hingga kepindahan pemerintahan Nasionalis ke Taiwan pada tahun 1949, banyak orang Tiongkok yang pindah ke Taiwan berdatangan: keluarga militer, pejabat administratif, akademisi, dan guru. Asrama bergaya Jepang di Kota Showa secara keseluruhan dialihkan dari staf universitas kekaisaran kepada staf National Taiwan University Republik Tiongkok, pejabat Kementerian Pertahanan, dan pegawai negeri sipil berbagai kementerian 9. Proses pengalihan ini juga mengganti nama jalan: nama Kota Showa dipotong menjadi lima jalan—Qing Tian Street, Yongkang Street, Linxi Street, Chaozhou Street, dan Jinhua Street masing-masing berdiri sendiri. Antara tahun 1947 dan 1950, nama "Kota Showa" sepenuhnya menghilang dari dokumen resmi dan peta 1.

📝 Catatan Kurator: Narasi wisata yang umum menggambarkan Jalan Yongkang sebagai "jalan kuliner" atau "jalan kaum intelektual muda," menjadikan Din Tai Fung sebagai tokoh utama. Namun, lokasi fisik jalan ini dimulai pada Kota Showa tahun 1922, 36 tahun lebih awal dari Din Tai Fung tahun 1958. Orang Jepang membangun asrama di sini untuk staf universitas kekaisaran pada tahun 1922; pejabat keluar pulau mengambil alih asrama yang sama pada tahun 1947; dan wisatawan Jepang serta Korea datang ke sini untuk makan Xiao Long Bao pada tahun 2026. Ketiga peristiwa ini adalah bukti fisik penumpukan tiga generasi penghuni di lahan yang sama. Penduduk Taipei sering lupa: setiap jalan yang mereka pijak memiliki nama sebelumnya, dan di bawah nama-nama itu terdapat sekelompok orang yang telah dipindahkan. Kota Showa diganti namanya menjadi lima jalan; orang Jepang di lima jalan digantikan oleh orang keluar pulau; setelah orang keluar pulau menghilang, harga sewa naik memaksa penghuni lama pindah, dan kemudian datanglah wisatawan. Kehidupan sebuah jalan sering kali adalah diaspora dari kelompok lain.

Qing Tian No. 76: Dua Ahli Geologi, Dua Kekaisaran

Untuk melihat contoh pelestarian Kota Showa secara lengkap, pergilah ke Qing Tian Street No. 76. Hari ini rumah itu menyandang papan nama "Qing Tian No. 76" 2.

Asrama bergaya Jepang ini dibangun pada tahun 1931 (Tahun Showa ke-6) oleh Universitas Kekaisaran Taipei untuk staf yang baru direkrut, dengan gaya "perpaduan Tiongkok dan Barat," menggabungkan struktur kayu tradisional Jepang dengan ruang tamu ala Barat, pintu masuk, dan ruang kerja Ma Ying-jeou. Luas bangunan sekitar 70 ping, taman 100 ping; atap genteng hitam landai, jendela kisi kayu Hinoki, dan lentera batu di depan pintu masuk adalah asrama kekaisaran yang paling utuh yang tersisa di Taipei 10.

Penghuni pertama adalah Adachi Hitoshi, ahli geologi Jepang, profesor di Departemen Geologi Fakultas Pertanian Universitas Kekaisaran Taipei. Adachi Hitoshi tinggal di rumah ini selama 14 tahun (1931-1945) dan kembali ke Jepang setelah kekalahan perang. Pada Oktober 1945, sebelum pihak Jepang pergi, ia secara pribadi menyerahkan kunci rumah kepada petugas penerima dan meninggalkan daftar inventaris barang 11.

Penggantinya adalah Ma Ying-jeou (1899-1979), seorang Tiongkok dari Liaoning, yang meraih gelar doktor geologi di Tokyo Imperial University. Ia tinggal di Jepang selama 12 tahun, datang ke Taiwan pada tahun 1946 untuk mengambil alih kelas geologi Universitas Kekaisaran Taipei dan resmi pindah ke Qing Tian Street No. 76 pada tahun 1947 2. Ma Ying-jeou adalah ahli geologi generasi pertama dari Republik Tiongkok yang belajar di Jepang, dengan bidang penelitian termasuk fosil karang, struktur lempeng, dan geomagnetisme kuno. Ia meninggal di rumah ini pada tahun 1979, setelah tinggal selama 32 tahun. Makalahnya, Teori Dinamika Lempeng Selat Taiwan, adalah salah satu makalah tentang struktur lempeng yang paling banyak dikutip dalam kalangan akademisi Republik Tiongkok pada tahun 1960-an 12.

Dari Adachi Hitoshi ke Ma Ying-jeou, kedua penghuni rumah ini adalah ahli geologi, keduanya belajar di Tokyo Imperial University, dan keduanya meneliti lempeng Pasifik. Perbedaannya adalah Adachi Hitoshi mewakili perluasan akademis Kekaisaran Jepang (universitas kolonial), sementara Ma Ying-jeou mewakili kelanjutan akademis Republik Tiongkok (mengambil alih perangkat keras dan sebagian staf dari universitas kolonial). Transisi antara dua ahli dari dua kekaisaran di rumah yang sama, dalam bidang studi yang sama: ini adalah hal biasa selama gelombang pengambilalihan pada tahun 1947 di asrama bergaya Jepang Taipei.

Setelah kematian Ma Ying-jeou pada tahun 1979, rumah ini terus digunakan sebagai asrama staf National Taiwan University dan kosong pada tahun 2002. Pada tahun 2006, Pemerintah Kota Taipei menetapkannya sebagai situs bersejarah kota; pada tahun 2011, dikelola dan direnovasi oleh entitas swasta "Qing Tian No. 76 Culture" dan dibuka untuk umum sebagai restoran dengan ruang pameran budaya 10.

Qing Tian No. 76 (Rumah Ma Ying-jeou), Qing Tian Street No. 76, Da'an District, Taipei City. Asrama bergaya Jepang yang dibangun pada masa pemerintahan Jepang tahun 1931 untuk staf Universitas Kekaisaran Taipei; dihuni oleh ahli geologi Adachi Hitoshi sebelum perang dan ahli geologi Ma Ying-jeou setelah perang mulai tahun 1947; ditetapkan sebagai situs bersejarah kota Taipei pada tahun 2006.
Qing Tian No. 76, dibangun tahun 1931. Foto: Lin Gaozhi, CC BY-SA 4.0 melalui Wikimedia Commons.

Di Qing Tian Street, kurang dari 10 asrama bergaya Jepang dengan status yang sama dengan Qing Tian No. 76 tersisa hari ini 13. Sebagian besar telah dirobohkan dan dibangun kembali menjadi apartemen lima lantai pada tahun 1970-an hingga 1990-an. Pada masa itu, sistem pajak properti Taipei memberikan insentif untuk pembangunan ulang, ditambah dengan biaya pemeliharaan kayu bergaya Jepang yang tinggi, sehingga hampir mustahil untuk mempertahankan semuanya. Jika Anda berjalan di Qing Tian Street hari ini, sebagian besar yang Anda lihat adalah apartemen lima lantai gaya Republik Tiongkok dari tahun 1985; Qing Tian Street tahun 1931 telah menyusut menjadi beberapa potongan 13.

Qing Tian No. 76, Casa Violet, dan rumah Ma Ying-jeou (di Wenzhou Street sebelah) serta rumah Yu Dawei (Linxi Street No. 8) adalah beberapa sampel langka yang diselamatkan oleh gerakan konservasi budaya setelah tahun 1990-an.

Casa Violet: Ruang Kerja Zhou De-wei Menjadi Rumah Teh pada Tahun 1981

Berjalan ke selatan melewati Linxi Road bagian kedua, di gang 16, nomor 1, Xinsheng South Road bagian ketiga, adalah "Casa Violet" 3.

Asrama bergaya Jepang ini dibangun pada akhir tahun 1920-an dan dulunya adalah asrama pejabat bea cukai Jepang. Pada tahun 1950, ia diambil alih oleh ahli kaum liberal Zhou De-wei, sebagai tempat tinggal sekaligus ruang kerja di Taiwan 14.

Zhou De-wei (1902-1986) berasal dari Hunan, Tiongkok; ia belajar di Universitas Berlin dan London School of Economics di Jerman dan Inggris, murid dari ekonom Mazhab Austria Hayek (Friedrich Hayek, penerima Hadiah Nobel Ekonomi tahun 1974). Ia adalah salah satu cendekiawan Tiongkok yang secara mendalam berinteraksi dan menerjemahkan pemikiran ekonomi liberal Hayek pada tahun 1930-an hingga 1940-an. Setelah pindah ke Taiwan bersama pemerintahan Nasionalis pada tahun 1949, ia mengajar di Departemen Ekonomi National Taiwan University dan bekerja di Biro Bea Cukai Kementerian Keuangan, menjadikan Casa Violet sebagai basis spiritualnya di Taiwan 14.

Dari tahun 1950 hingga 1970-an, ruang tamu Casa Violet adalah salah satu salon pribadi terpenting bagi para ahli kaum liberal pasca-perang di Taiwan 14. Yin Hai-guang (yang tinggal di Wenzhou Street, 10 menit berjalan kaki dari Casa Violet), Xu Fu-guan, Lin Yu-sheng, Zhang Fo-chuan, dan Xia Dao-ping sering berkumpul di sini untuk mendiskusikan penyuntingan majalah Free China, terjemahan karya Hayek Road to Slavery (diterjemahkan oleh Yin Hai-guang), dan kesulitan para intelektual Tiongkok pasca-perang. Pada tahun 1956-1969, saat ia menyusun kata pengantar untuk terjemahan Road to Slavery di Wenzhou Street sebelah, jarak yang ia tempuh saat berjalan kaki kurang dari 800 meter 4.

Pada tahun 1981, setelah Zhou De-wei pindah ke Amerika Serikat, putranya Zhou Yu merenovasi rumah ini menjadi rumah teh dan membukanya untuk umum dengan nama "Casa Violet" (diambil dari pohon wisteria tua yang ditanam di halaman pada tahun 1920-an) 3. Selama 45 tahun, dari 1981 hingga 2026, Casa Violet beroperasi sebagai rumah teh, menjadi salah satu rumah teh tertua di Taiwan, dan menjadi pusat pertemuan bagi gerakan partai oposisi, wacana subjek budaya Taiwan, dan aktivis sosial pada tahun 1980-an. Zheng Nanrong, Lin Yi-xiong, Hsu Shin-liang, dan Chen Ju pernah mengunjungi Casa Violet 14.

Pada tahun 1997, Casa Violet ditetapkan sebagai situs bersejarah kota oleh Pemerintah Kota Taipei. Pada saat itu, rumah ini menghadapi tekanan pembangunan ulang dan hampir dihancurkan; baru diselamatkan berkat petisi tamu rumah teh, seruan dari kalangan budaya, dan suara akademisi 3. Hari ini, ketika Anda minum teh di Casa Violet, pohon wisteria di halaman depan mekar di musim semi, gugur di musim panas, menghasilkan biji di musim gugur, dan menggugurkan daun di musim dingin; pohon wisteria ini telah hidup lebih dari 76 tahun, sejak Zhou De-wei pindah pada tahun 1950 hingga Zhou Yu mengelolanya pada tahun 2026.

Casa Violet (Rumah Ma Ying-jeou), Xinsheng South Road No. 16 Lane 1, Da'an District, Taipei City. Asrama bergaya Jepang dari era 1920-an; dihuni oleh Zhou De-wei sebagai ruang kerja dan salon pada tahun 1950; direnovasi menjadi rumah teh oleh putranya Zhou Yu pada tahun 1981; ditetapkan sebagai situs bersejarah kota Taipei pada tahun 1997.
Casa Violet, dibangun era 1920-an, dihuni Zhou De-wei tahun 1950, direnovasi rumah teh tahun 1981. Foto: Outlookxp, CC BY-SA 4.0 melalui Wikimedia Commons.

Di luar Casa Violet, di gang 16, nomor 1-1, Wenzhou Street terdapat rumah Yin Hai-guang 4. Yin Hai-guang (1919-1969) adalah salah satu tokoh terpenting kaum liberal pasca-perang Taiwan. Ia pindah ke asrama bergaya Jepang ini dari dekat National Taiwan University pada tahun 1956 dan meninggal karena kanker lambung pada tahun 1969. Di rumah ini, ia menerjemahkan Road to Slavery karya Hayek, menulis Outlook on Chinese Culture, diawasi oleh Biro Keamanan Negara, dan ditangguhkan dari pekerjaan di National Taiwan University. Pada tanggal 16 September 1969, Yin Hai-guang meninggal di rumah ini pada usia 50 tahun 4. Ketua Legislatif Wang Jin-ping menyumbangkan dana untuk restorasi pada tahun 1999, dan dibuka untuk umum sebagai rumah peringatan pada tahun 2003. Dengan berjalan mengelilingi tiga asrama bergaya Jepang—Qing Tian No. 76, Casa Violet, dan rumah Yin Hai-guang—Anda akan melewati tiga koordinat fisik dari geologi pasca-perang Taiwan, ekonomi liberal, dan filsafat liberal. Ketiga rumah itu berjarak kurang dari 800 meter satu sama lain.

💡 Tahukah Anda: Ketika Zhou De-wei menerjemahkan Hayek di ruang kerja Casa Violet, Yin Hai-guang menerjemahkan Road to Slavery karya Hayek di ruang kerja Wenzhou Street yang berjarak 800 meter. Dua terjemahan liberal terpenting dalam sejarah pemikiran pasca-perang Taiwan pada tahun 1950-an dilakukan secara bersamaan di dua asrama bergaya Jepang di kedua ujung jalan ini. Kebanyakan penduduk Taipei tidak mengetahui hal ini. Di bawah kaki wisatawan yang mengantre Din Tai Fung, terdapat sejarah ini.

Din Tai Fung: Toko Minyak Tahun 1958, Xiao Long Bao Tahun 1972

Untuk mengatakan bagaimana Jalan Yongkang menjadi "Jalan Yongkang" saat ini, tahun 1958 dan 1972 adalah dua tahun kunci yang harus dibedakan.

Pada tahun 1958, Yang Bingyi (1927-1995) bersama sesama warga mendirikan toko kecil di nomor 277 Linxi Road, bernama "Din Tai Fung." Yang Bingyi berasal dari Yuncheng, Shanxi; ia datang ke Taiwan pada tahun 1947 dan awalnya bekerja sebagai asisten di "Hengtaifeng Oil Store" di Taipei. Setelah Hengtaifeng tutup, ia memulai bisnis bersama rekan kerja lain, nama toko diambil dari karakter "Ding" dari "Dingmei Oil Store" ditambah "Taifeng" dari "Hengtaifeng" 5.

Toko Din Tai Fung yang dibuka pada tahun 1958 menjual grosir dan eceran minyak goreng: minyak kacang tanah, minyak wijen, lemak babi, dan minyak salad dijual curah; keluarga, kedai mie, dan restoran sarapan di sekitar adalah pelanggan. Din Tai Fung selama 14 tahun (1958-1972) sama sekali tidak berhubungan dengan Xiao Long Bao. Pada saat itu, toko hanya seluas 4 ping, dengan tong minyak di depan pintu, dan meja akuntansi serta timbangan di dalamnya 5.

Pada tahun 1972, Din Tai Fung menghadapi guncangan modernisasi: keluarga Taiwan mulai menggunakan minyak salad dalam botol secara umum 15. "Nisshin Oil" Jepang, "Uni Salad Oil" lokal Taiwan, dan "Chingxing Oil" mulai diproduksi massal, saluran minimarket menjadi populer, dan bisnis minyak curah mengalami kemunduran yang cepat. Istri Yang Bingyi, Lai Penmei, menyarankan: "Bagaimana kalau kita beralih membuat makanan ringan?" 5.

Pada paruh kedua tahun 1972, toko Din Tai Fung setengahnya masih menjual minyak, dan setengahnya mulai menjual Xiao Long Bao dan tahu sutra 5. Lai Penmei mengelola dapur, membuat versi campuran dari "Mantou" (roti kukus) dari kampung halaman Yang Bingyi di Shanxi dan "Xiao Long Tangbao" dari Jiangzhe: resep Xiao Long Bao yang diajarkan oleh koki Shanghai, ditambah dengan ketekunan orang Shanxi terhadap makanan pokok, dan preferensi pelanggan Taiwan untuk "kulit tipis dan isian banyak." Pada awal tahun 1980-an, bisnis minyak Din Tai Fung sepenuhnya dihentikan, dan seluruh toko berubah menjadi kedai makanan ringan.

Pada tahun 1993, The New York Times menerbitkan artikel berjudul Sepuluh Restoran Terbaik Dunia, mencantumkan Din Tai Fung 6. Laporan ini kemudian diterjemahkan oleh berbagai media internasional, mengubah Din Tai Fung dari toko kecil di Linxi Road menjadi merek internasional. Pada tahun 1996, Din Tai Fung membuka gerai luar negeri pertamanya di Takashimaya Shinjuku, Tokyo, Jepang. Sejak tahun 2000, mereka secara bertahap memasuki Amerika Serikat, Singapura, Hong Kong, Shanghai, Jakarta, Seoul, Manila, Sydney. Hingga tahun 2026, Din Tai Fung memiliki lebih dari 170 gerai di 14 negara 16.

Namun, gerai utama di nomor 277 Linxi Road tidak pernah pindah 5. Hari ini, ketika Anda berjalan di jalan itu, papan nama Din Tai Fung berhadapan dengan 7-Eleven di seberang jalan; toko telah diperluas dari 4 ping asli menjadi dua lantai, tetapi nomor rumahnya masih yang tahun 1958.

Pada tanggal 1 Januari 2015, episode spesial Tahun Baru "Edisi Taiwan" dari Solitary Gourmet (孤独のグルメ) yang diproduksi oleh TV Tokyo Jepang ditayangkan, menampilkan tokoh utama Inogashira Goro (diperankan oleh Matsushige Hō) memasuki gerai utama Din Tai Fung Yongkang untuk memesan Xiao Long Bao, sup asam pedas, dan nasi goreng 7. Episode ini adalah episode spesial pertama di luar negeri dari Solitary Gourmet, mencapai rating tinggi di Jepang, dan secara langsung mendorong tren wisatawan Jepang yang harus mengantre di Din Tai Fung Yongkang pada tahun 2015-2018 7.

Pada akhir tahun 2010-an, drama Korea dan SNS Korea mengambil alih. Kitchen of Lee Young-ae dan Spoon sering menampilkan adegan Din Tai Fung, ditambah dengan akumulasi tagar "Makanan Wajib di Taipei" di Instagram, Jalan Yongkang secara bertahap berubah dari "arena wisatawan Jepang" pada tahun 2015 menjadi "arena bersama wisatawan Jepang dan Korea" pada tahun 2020-an 17. Hari ini, ketika Anda mengantre di Din Tai Fung Yongkang pada siang hari kerja, dilihat dari Jinshan South Road, suara bahasa Jepang dan Korea sering lebih banyak daripada bahasa Mandarin.

Eksterior Toko Din Tai Fung Linxi, 2023. Pada tahun 1958, Yang Bingyi mendirikan toko minyak Din Tai Fung di Linxi Road bagian kedua untuk grosir minyak goreng; pada tahun 1972, bisnisnya menurun karena popularitas minyak salad dalam botol dan beralih ke Xiao Long Bao; pada tahun 1993, *The New York Times* mencantumkannya sebagai salah satu dari Sepuluh Restoran Terbaik Dunia, yang memulai internasionalisasi; gerai luar negeri pertama dibuka di Takashimaya Shinjuku, Tokyo, pada tahun 1996.
Eksterior Toko Din Tai Fung Linxi, 2023. Foto: Yu tptw, CC BY-SA 4.0 melalui Wikimedia Commons.

✦ "Din Tai Fung tahun 1958 menjual minyak curah dalam tong. Titik balik kemunduran pada tahun 1972 memaksa Yang Bingyi beralih ke Xiao Long Bao. Laporan The New York Times tahun 1993 membuatnya mulai menuju dunia. Sejarah komersial Taipei pasca-perang ini terkompresi dalam tiga tahun tersebut."

Dari Din Tai Fung ke Yongkang Beef Noodles, Smoothie House, dan Dongmen Jiaozi Guan

Din Tai Fung adalah representasi internasional dari Jalan Yongkang, tetapi peta makanan di jalan ini tidak hanya terdiri dari satu toko.

Yongkang Beef Noodles terletak di No. 17, Jalan Yongkang, didirikan oleh veteran dari Shanxi pada tahun 196318. Pendiri menggabungkan teknik mie pisau dari Shanxi dengan budaya sambal Sichuan; menu yang menampilkan hongshao (tumis) dan qingdun (kaldu bening) tidak berubah selama 60 tahun di Jalan Yongkang. Ada aturan saat pelanggan memesan di Yongkang Beef Noodles: jika memesan beef noodles hongshao, jangan tanyakan "pedas atau tidak," karena staf akan menyajikan yang pedas sedang secara otomatis; jika ingin sangat pedas, harus disebutkan secara proaktif "sangat pedas." Pada tahun 2026, generasi kedua Yongkang Beef Noodles masih beroperasi di lokasi yang sama sejak tahun 196318.

Dongmen Jiaozi Guan berada di dekat persimpangan Nan Road Section Two dan Xinyi Road Section Two, didirikan oleh veteran dari Shandong pada tahun 1953. Jika dilihat ke utara dari Xinyi Road Section Two, Dongmen Jiaozi Guan membentuk satu deretan makanan luar provinsi bersama kios-kios Pasar Dongmen: jiaozi (pangsit), mie pisau, bubur millet, iga asam manis, dan hongshao shizitou (kepala singa tumis)—semuanya adalah cita rasa kampung halaman yang dibawa oleh sekelompok veteran dari Shandong, Shanxi, Henan, dan Sichuan pada tahun 1949 dari utara Tiongkok, yang kemudian disusun ulang di jalan Taipei selama 60 tahun menjadi kategori "masakan luar provinsi"19.

Pada tahun 1997, Luo Junhua dan mantan istrinya Zhang Jimei membuka toko es krim di Jalan Yongkang, menjadikan "Es Mangga" sebagai kartu nama lain dari Jalan Yongkang20. Toko es krim ini pernah dicantumkan oleh The New York Times sebagai salah satu tempat wisata wajib di Taipei, setara dengan Istana Kekaisaran dan Taipei 101. Ini adalah salah satu lokasi kunci yang menandai transisi Jalan Yongkang dari "area pemukiman veteran luar provinsi" menjadi "tempat wajib kunjung wisatawan Jepang" pada paruh kedua tahun 1990-an. Pada tahun 2010, toko es krim tersebut tutup secara mendadak karena perceraian pendirinya; lokasi aslinya kemudian diambil alih oleh "Smoothie House," yang mewarisi basis pelanggan dari Es Mangga20.

Dari minyak goreng Din Tai Fung pada tahun 1958, veteran Shanxi di Yongkang Beef Noodles pada tahun 1963, veteran Shandong di Dongmen Jiaozi Guan pada tahun 1953, hingga Es Mangga pada tahun 1997 dan kelanjutan oleh Smoothie House, garis waktu peta makanan Jalan Yongkang hampir bertepatan dengan garis waktu migrasi luar provinsi ke Taiwan: para veteran yang bermigrasi dari berbagai provinsi di Tiongkok antara tahun 1947–1955 membawa masakan kampung halaman mereka ke jalan-jalan ini di Taipei, dan 60 tahun kemudian menjadi label wisata "Kuliner Jalan Yongkang."

Pemandangan toko di siang hari di Jalan Yongkang, menampilkan Din Tai Fung Yongkang, Es Mangga, kafe kaum intelektual, dan toko buku berdampingan.
Pemandangan toko di siang hari di Jalan Yongkang, Maret 2024. Foto: MAm ROFOW 022, CC0 via Wikimedia Commons.

Transformasi Pasca-1990-an: Kaum Intelektual Muda, Kopi, IG, Sewa

Pada paruh kedua tahun 1990-an, Jalan Yongkang memulai transformasi identitas keduanya: dari "jalan makanan di area keluarga keluar pulau" menjadi "jalan kaum intelektual muda yang menyajikan kopi."

Pembukaan kedai es krim pada tahun 1995 adalah tahun kunci. Pada tahun 1996, gelombang pertama kafe muncul di sekitar Taman Yongkang ("Yongkang Kai," "Old Jiang Coffee," dll.). Pada awal tahun 2000-an, toko buku pribadi, butik pilihan, galeri seni, dan studio desainer secara bertahap dibuka di gang 6, 10, dan 15 Yongkang Street. Seluruh dekade 2000 adalah puncak "kaum intelektual muda di Jalan Yongkang" 21.

Dua kondisi struktural dari transformasi ini:

Pertama, generasi pertama keluar pulau secara bertahap menghilang pada tahun 1990-an. Para pejabat dan profesor yang pindah pada tahun 1947 sebagian besar berusia lebih dari 70 tahun pada tahun 1990-an. Setelah penghuni di asrama bergaya Jepang dan apartemen hasil pembangunan ulang pasca-perang meninggal, rumah tersebut diwarisi oleh generasi kedua, tetapi generasi kedua sebagian besar telah pindah ke apartemen berukuran besar di pinggiran kota, mengubah rumah asli menjadi properti sewaan. Struktur sewa berubah dari "penghuni lama jangka panjang" menjadi "sewa untuk bisnis," dan harga sewa per ping di Yongkang Street melonjak dari 800 Dolar Taiwan ke 3500 Dolar Taiwan antara tahun 1995-2005 21.

Kedua, pembukaan Jalur MRT Taipei pada tahun 1996. Setelah stasiun Dongmen di Jalur Tamsui-Xinyi (Garis Merah) beroperasi pada tahun 2013, Yongkang Street berubah dari perjalanan 10 menit dari Stasiun Zhongshan Junior High School atau Stasiun Da'an menjadi hanya 3 menit berjalan kaki dari Pintu Keluar No. 5 Stasiun Dongmen. Pembukaan Stasiun Dongmen adalah titik balik fisik bagi Jalan Yongkang untuk berubah dari "jalan makanan yang dikunjungi oleh penduduk Taipei lama" menjadi "destinasi wisata yang dapat diakses oleh seluruh Taipei" 22.

Mulai akhir tahun 2010-an, Jalan Yongkang memasuki transformasi ketiga: biaya gentrifikasi mulai muncul. Sewa naik hingga 5000-8000 Dolar Taiwan per ping per bulan; toko kelontong lama, restoran tua, dan toko buku kecil secara bertahap menghilang, digantikan oleh merek minuman hand-made, kedai kopi waralaba, pakaian streetwear, dan kafe yang menjadi latar belakang Instagram. "Tea House Hui Liu" di nomor 13 Yongkang Street (kedai teh lama yang dibuka pada tahun 1991) tutup; "Yongkang Beef Ramen" di nomor 8 Yongkang Street (dibuka pada tahun 1965) pindah ke gang di Linxi Road bagian kedua karena kenaikan sewa. Kecepatan penghilangan toko-toko lama berbanding lurus dengan kenaikan harga sewa gentrifikasi 21.

📝 Catatan Kurator: Hari ini, Jalan Yongkang terlihat ramai: antrean Din Tai Fung, keramaian Smoothie House, kafe yang menjadi latar belakang Instagram. Tetapi di bawah keramaian ini, sebuah jalan sedang mengosongkan penghuni aslinya. Orang Jepang dari Kota Showa tahun 1922 pergi pada tahun 1945; generasi pertama keluar pulau yang mengambil alih pada tahun 1947 menghilang pada tahun 1990-an; dan toko makanan, toko buku, serta rumah teh di tahun 1990-an pindah selama gentrifikasi di tahun 2010-an. Yang tersisa adalah wisatawan dan merek waralaba. Ketika penduduk Taipei mengatakan "Jalan Yongkang telah berubah," mereka tidak berbicara tentang perubahan bangunan (asrama bergaya Jepang di Qing Tian Street sebenarnya belum banyak dihancurkan), tetapi mereka berbicara tentang perubahan penghuninya. Pergantian darah tiga kali pada satu jalan ini adalah sampel mikro gentrifikasi Taipei.

Tiga Tempat yang Akan Dibawa oleh Penduduk Lokal

Tempat-tempat yang difoto oleh wisatawan tidak disebutkan: Din Tai Fung Yongkang Store, Mango Shaved Ice Smoothie House, kafe reservasi Qing Tian No. 76, dan foto di Taman Yongkang—semua ini ada di setiap buku panduan "Wajib Kunjung Jalan Yongkang."

Tiga titik yang akan dibawa oleh penduduk lokal, yang kurang populer di Instagram tetapi memiliki kehangatan:

1. Rumah Yin Dawei di Linxi Street No. 8

Berjalan ke utara dari mulut Yongkang Street melewati Linxi Road bagian kedua, belok kiri ke Linxi Street dan pergi ke nomor 8, Anda akan melihat asrama bergaya Jepang yang masih tersisa. Ini adalah kediaman Menteri Pertahanan Republik Tiongkok (Taiwan), Yin Dawei, antara tahun 1962-1993 23. Yin Dawei lahir di Shaoxing, Zhejiang pada tahun 1897, dan meraih gelar doktor logika matematika dari Harvard University. Setelah perang, ia menjabat sebagai Menteri Transportasi dan Menteri Pertahanan selama 11 tahun (1954-1965), dan merupakan tokoh kunci dalam pengadaan militer Republik Tiongkok serta kerja sama militer Taiwan-AS pada tahun 1950-an hingga 1960-an. Setelah kematian Yin Dawei pada tahun 1993, rumah ini diambil alih oleh Pemerintah Kota Taipei. Ditetapkan sebagai situs bersejarah kota Taipei pada tahun 2014, dan direnovasi pada tahun 2017. Pada hari biasa di sore hari, tempat ini sebagian besar tutup, tetapi Anda dapat melihat fasad asrama bergaya Jepang yang lengkap dan pohon camphor tua di halaman dari pintu masuk. Ini adalah salah satu objek langka di Taipei yang masih menunjukkan tata letak asrama bergaya Jepang Kota Showa tahun 1922 secara utuh.

2. Pagi Hari Pasar Dongmen di Linxi Road bagian kedua

Berjalan ke barat dari mulut Yongkang Street melewati Jinshan South Road, Anda akan menemukan Pasar Dongmen 24. Pasar tradisional yang didirikan pada tahun 1948 ini sejalan dengan garis waktu pemindahan keluar pulau pasca-perang. Pasar memiliki dua pintu masuk: sisi Linxi Road bagian kedua adalah "Pasar Dongmen" versi wisatawan (dengan seafood bowl dan ikan mentah di siang hari), tetapi pintu belakang di Jinshan South Road adalah versi penduduk lokal; antara jam 6 pagi hingga 10 pagi, kakek dan nenek pensiunan dari Distrik Da'an akan datang ke sini untuk membeli sayuran, daging, ikan, dan tahu untuk sarapan. Banyak kios yang telah beroperasi sejak tahun 1948 hingga 2026, diwarisi oleh generasi ketiga. Pasar ini berjarak 200 meter dari jalan utama Yongkang Street, tetapi ketika Anda masuk, Anda akan merasa seolah-olah kembali ke Taipei tahun 1980-an: rangka baja kios, abu bata dinding, kipas tua di atas kepala, dan aksen Hokkien yang diteriakkan oleh penjual—garis waktu makanan Jalan Yongkang ditarik dari pasar ini.

3. Toko Buku Tua "Qing Tian Arts Collection" di ujung gang 16 Qing Tian Street

Berjalan ke utara dari mulut Yongkang Street melewati Linxi Road bagian kedua, dan melewati gang 7 Qing Tian Street (tempat Qing Tian No. 76 berada), terus berjalan hingga ujung gang 16 Qing Tian Street, Anda akan menemukan sebuah toko buku kecil. Toko ini dibuka pada tahun 2003, dan merupakan salah satu dari kelompok awal toko buku pribadi selama puncak kaum intelektual muda Yongkang-Qing Tian 25. Toko seluas sekitar 3 ping, rak buku membentang dari lantai hingga langit-langit, dan materinya berfokus pada sastra Taiwan, seni desain, dan ilmu sosial humaniora. Pemiliknya biasanya baru buka pada jam 2 siang, dan libur setiap hari Senin. Kebanyakan wisatawan tidak tahu di mana toko ini berada: itu tidak ada di jalan utama Yongkang Street, tetapi di gang yang terpisah dua blok dari Qing Tian Street, tanpa papan nama, hanya tergantung nama toko yang ditulis di kertas A4. Toko ini adalah salah satu basis lama kaum intelektual muda Jalan Yongkang yang bertahan hingga tahun 2000-an, dan masih dikelola oleh pemilik aslinya.

Tiga Generasi Penghuni dalam 600 Meter

Dari asrama bergaya Jepang pertama di Kota Showa pada tahun 1922, hingga antrean Din Tai Fung Yongkang di tikungan Jinshan South Road pada tahun 2026, jalan ini menampung waktu selama 104 tahun. Di bawah pohon tua di dekat Taman Yongkang pada pukul tujuh setengah pagi, kakek dari luar pulau duduk di kursi batu sambil membaca koran, sementara rombongan turis Jepang berjalan melewati dari Linxi Road. Pada jam sembilan setengah, kakek melipat korannya dan pulang; rombongan turis melanjutkan perjalanan menuju Din Tai Fung setelah berfoto. Inilah estafet setiap pagi di jalan ini.

Dari perencanaan Kota Showa oleh orang Jepang pada tahun 1922, hingga kedatangan Adachi Hitoshi yang mendiami Qing Tian No. 76 sebelum Ma Ying-jeou pada tahun 1931, hingga Zhou De-wei mengambil alih Casa Violet pada tahun 1950, hingga Yang Bingyi membuka toko minyak Din Tai Fung pada tahun 1958, hingga beralih ke Xiao Long Bao pada tahun 1972, hingga liputan The New York Times pada tahun 1993, hingga pemotretan oleh Solitary Gourmet pada tahun 2015, dan hingga kunjungan individu yang dibawa oleh SNS Korea pada tahun 2026, jalan sepanjang 600 meter ini menampung tiga generasi penghuni, empat etnis, dan lima memori.

Lain kali Anda berjalan di Jalan Yongkang, pandanglah atap landai genteng hitam dari asrama bergaya Jepang era 1930-an. Sepuluh rumah yang tidak dihancurkan ini, mulai dari era Adachi Hitoshi hingga era Ma Ying-jeou dan hingga tahun 2026, adalah potongan memori Kota Showa Taipei yang paling lengkap. Enam ratus meter di bawah kaki Anda adalah irisan fisik dari geologi pasca-perang Taiwan, ekonomi liberal, budaya makanan keluar pulau, dan internasionalisasi pariwisata—lapisan sejarah yang ditumpuk satu per satu. Wisatawan mengambil foto antrean dan papan nama; penduduk Taipei mengingat kakek yang duduk di kursi batu di Taman Yongkang pada pukul tujuh setengah pagi.

Bacaan Lanjutan:

Sumber Gambar

Artikel ini menggunakan 5 gambar berlisensi CC0 / CC BY-SA (hero + 4 inline), semuanya di-cache di public/article-images/geography/ untuk menghindari sumber tautan panas:

Referensi

  1. Wikipedia: Shōwa-chō (Taipei) — Didirikan setelah reformasi distrik Taipei pada tahun 1922 (Taishō ke-11) di bawah pemerintahan Jepang, mencakup sebagian dari Qing Tian Jie, Yongkang Jie, Lishui Jie, Chaozhou Jie, dan Jinhua Jie di Da'an District, Taipei City saat ini. Area ini berfungsi ganda sebagai perumahan kelas atas untuk staf dan pejabat Universitas Kekaisaran Taipei serta perumahan pejabat tinggi gubernur. Pada tahun 1947 pasca-perang, area ini dibagi menjadi lima jalan setelah diambil alih oleh pemerintah Nasionalis; nama 'Shōwa-chō' sepenuhnya hilang dari dokumen resmi dan peta.↩23456
  2. Dinas Budaya Taipei: Qing Tian 76 — Nomor 6, Gang 7, Qing Tian Jie. Pada tahun 1931 (Shōwa ke-6), ini adalah asrama bergaya Jepang yang terpengaruh Barat yang dibangun untuk staf pengajar baru Universitas Kekaisaran Taipei. Dengan luas bangunan sekitar 70 ping dan taman seluas 100 ping, penghuni sebelum perang adalah ahli geologi Ashitao Ren (1931-1945), dan setelah perang pada tahun 1947, penghuninya adalah ahli geologi Ma Tingying (1947-1979) hingga beliau meninggal. Pada tahun 2006 ditetapkan sebagai Situs Warisan Kota Taipei, dan pada tahun 2011 disewakan dan direnovasi oleh Qing Tian 76 Culture untuk dibuka kepada publik.↩2345
  3. Wikipedia: Wisteria House (Ziteng Lu) — Nomor 1, Gang 16, San Duan, Xin Sheng Nan Road, Da'an District, Taipei City. Asrama bergaya Jepang dari akhir tahun 1920-an. Sebelum perang, ini adalah perumahan pejabat bea cukai Jepang. Pada tahun 1950, ia diambil alih oleh cendekiawan liberal Zhou Dewei sebagai ruang kerja dan salon. Pada tahun 1981, putranya, Zhou Yu, merenovasinya menjadi rumah teh yang dibuka untuk publik dan dinamai 'Wisteria House' (diambil dari bunga wisteria di halaman). Ditetapkan sebagai Situs Warisan Kota Taipei pada tahun 1997.↩234
  4. Dinas Budaya Taipei: Kediaman Yin Haiguang — Nomor 1-1, Gang 16, Gang 18, Wenzhou Jie, Da'an District, Taipei City. Dihuni oleh filsuf liberal Yin Haiguang dari tahun 1956 hingga 1969. Di sini ia menerjemahkan Road to Servitude karya Hayek dan menulis Outlook on Chinese Culture. Ia meninggal pada tanggal 16 September 1969 karena kanker perut pada usia 50 tahun. Pada tahun 1999, Ketua Legislatif Wang Jinping menyumbang untuk membantu restorasi, dan dibuka untuk umum sebagai kediaman peringatan pada tahun 2003.↩234
  5. Wikipedia: Din Tai Foor — Pada tahun 1958, Yang Bingyi (1927-1995) dari Yuncheng, Shanxi, bersama sesama warga mendirikan toko grosir dan eceran minyak goreng 'Din Tai Foor' di Nomor 277, Xinyi Road, Taipei City. Nama toko diambil dari satu karakter masing-masing pemilik sebelumnya, 'Dingmei Oil Company' dan 'Hengtai Feng Oil Company'. Pada tahun 1972, bisnis minyak curah menurun karena popularitas minyak salad botolan, sehingga istri, Lai Benmei, menyarankan untuk beralih ke makanan ringan seperti pangsit kukus dan susu kedelai. Pada awal 1980-an, bisnis toko minyak sepenuhnya dihentikan dan beralih menjadi toko makanan ringan.↩234567
  6. New York Times: World's 10 best restaurants 1993 — Pada tahun 1993, majalah perjalanan New York Times menerbitkan fitur 'Sepuluh Restoran Terbaik Dunia', dan mencantumkan Din Tai Foor. Ini adalah laporan titik balik penting bagi Din Tai Foor untuk beralih dari toko lokal di Taipei menjadi merek internasional, yang kemudian direplikasi oleh berbagai media internasional. Pada tahun 1996, cabang luar negeri pertama Din Tai Foor dibuka di Takashimaya Shinjuku, Tokyo, Jepang.↩2
  7. Wikipedia: Gourmet of Solitude (Kodoku no Gourmet) — Serial drama yang diadaptasi dari manga kuliner yang diproduksi oleh TV Tokyo, Jepang. Pada tanggal 1 Januari 2015, episode spesial Tahun Baru 'Taiwan' ditayangkan. Protagonis Inogashira Goro (diperankan oleh Matsushige Toyo) mengunjungi toko utama Din Tai Foor di Yongkang, Lu Rou Fan, dan pasar malam. Ini adalah episode spesial pertama di luar negeri untuk seri ini, mencapai rating tinggi di Jepang dan secara langsung mendorong tren kunjungan turis dari Jepang ke Taipei yang wajib mengunjungi Din Tai Foor di Yongkang pada tahun 2015-2018.↩23
  8. Situs Web Resmi Din Tai Foor: Toko Utama dan Cabang — Toko utama Xinyi Road (Nomor 194, Xinyi Road; dipindahkan dari lokasi asli Nomor 277 pada tahun 1996) dan toko pusat Yongkang adalah dua lokasi utama di Taipei. Karena tingginya konsentrasi wisatawan di toko Yongkang, sering terlihat antrean membengkok dari pintu toko ke Xinyi Road, menjadikannya salah satu landmark wisata paling representatif di Taipei.↩
  9. Kantor Distrik Da'an: Sejarah Lokal Da'an District — Sejarah perkembangan distrik Da'an. Pada tahun 1922, Shōwa-chō, Tsuchida-chō, dan Fukuzumi-chō didirikan melalui reformasi distrik di bawah pemerintahan Jepang. Setelah perang pada tahun 1947, nama tersebut diubah menjadi Qing Tian Jie, Yongkang Jie, Lishui Jie, Chaozhou Jie, Jinhua Jie, Heping East Road, dan Xin Sheng Nan Road System. Tata letak jalan setelah perang berbeda dari tata letak era Jepang, yang menciptakan fenomena tumpang tindih dalam jaringan jalan Taipei.↩2
  10. Situs Web Resmi Qing Tian 76 Culture — Qing Tian 76 (Kediaman Ma Tingying) dibuka untuk umum setelah disewa dan direnovasi oleh tim Qing Tian 76 Culture pada tahun 2011. Bangunan ini adalah asrama bergaya Jepang yang terpengaruh Barat yang dibangun pada tahun 1931 (Shōwa ke-6), dengan atap landai genteng hitam, jendela kisi kayu Hinoki, lentera batu di depan pintu masuk, dan ruang kerja serta ruang tamu bersebelahan. Ini adalah salah satu bangunan perumahan pejabat tinggi era Jepang yang paling utuh yang tersisa di Taipei.↩2
  11. Museum Nasional Taiwan: Catatan Perampasan Properti Jepang Tahun 1945 — Setelah kekalahan Jepang pada Agustus 1945, pemerintah Nasionalis mulai mengambil alih properti Jepang di seluruh Taiwan pada tahun 1946. Asrama staf Universitas Kekaisaran Taipei diserahkan oleh pihak Jepang dengan daftar inventaris, kunci, dan furnitur. Para sarjana Jepang seperti Ashitao Ren menyelesaikan prosedur serah terima resmi sebelum mereka pindah pada Oktober 1945. Catatan perampasan terkait disimpan di Museum Nasional Taiwan dan Arsip Sejarah Nasional.↩
  12. Museum Universitas Nasional Taiwan: Ma Tingying — Ma Tingying (1899-1979) berasal dari Liaoning, Tiongkok. Ia belajar di Jerman dan memperoleh gelar Doktor Geologi di Tokyo selama 12 tahun. Pada tahun 1946, ia datang ke Taiwan untuk mengambil alih laboratorium geologi Universitas Kekaisaran Taipei. Sejak 1947, ia menjabat sebagai profesor dan kepala departemen geologi di Universitas Nasional Taiwan. Bidang penelitiannya meliputi fosil karang, struktur lempeng, dan paleomagnetisme; ia menerbitkan makalah seperti 'Teori Dinamika Kerak Laut Tiongkok'. Ia meninggal pada tahun 1979 di Gang 7, Qing Tian Jie.↩
  13. Repositori Memori Budaya Nasional: Kompleks Asrama Jepang di Qing Tian Jie — Asrama bergaya Jepang di area Qing Tian Jie, Yongkang Jie, Lishui Jie, Chaozhou Jie, dan Jinhua Jie pada era pemerintahan Jepang. Antara tahun 1970 dan 1990, banyak yang dihancurkan dan dibangun kembali menjadi apartemen lima lantai karena ketentuan insentif pajak properti ditambah biaya pemeliharaan kayu bergaya Jepang yang tinggi. Kurang dari 10 bangunan representatif tersisa hingga hari ini, termasuk Qing Tian 76, Wisteria House, Kediaman Yin Haiguang, dan kediaman Yu Dawei; banyak di antaranya adalah hasil penyelamatan gerakan konservasi budaya setelah tahun 1990.↩2
  14. Wikipedia: Zhou Dewei — Zhou Dewei (1902-1986) berasal dari Hunan, Tiongkok. Ia belajar di Universitas Berlin, Jerman, dan di École des Sciences Politiques di London, Inggris, di bawah pengajaran ekonom Austria Hayek. Setelah pindah ke Taiwan bersama pemerintah Nasionalis pada tahun 1949, ia mengajar paruh waktu di Departemen Ekonomi Universitas Taiwan dan bekerja di Kantor Bea Cukai Kementerian Keuangan. Sejak tahun 1950-an, Wisteria House berfungsi sebagai tempat tinggal Zhou Dewei di Taiwan, ruang kerja, dan salon pribadi untuk cendekiawan liberal. Para sarjana seperti Yin Haiguang, Xu Fuguan, Lin Yusheng, dan Xia Daodong sering berkumpul untuk membahas penerbitan majalah Free China dan terjemahan pemikiran Hayek.↩234
  15. Wikipedia: Sejarah Perkembangan Minyak Salad di Taiwan — Pasar minyak rumah tangga di Taiwan beralih dari minyak curah ke minyak salad botolan pada tahun 1960-an dan 1970-an. Setelah United Enterprise didirikan pada tahun 1969, mereka meluncurkan Minyak Salad United. Popularitas merek seperti Nissin Oil dan Zhongxing Oil serta saluran minimarket menyebabkan bisnis toko minyak curah tradisional menurun dengan cepat, menjadikannya salah satu contoh representatif dari transformasi struktur konsumsi masyarakat pasca-perang di Taiwan pada tahun 1970-an.↩
  16. Evolusi Internasional Din Tai Foor — Pada tahun 1996, cabang luar negeri pertama Din Tai Foor dibuka di Takashimaya Shinjuku, Tokyo, Jepang. Pada tahun 2000-an, mereka secara bertahap memasuki kota-kota seperti Amerika Serikat, Singapura, Hong Kong, Shanghai, Jakarta, Seoul, Manila, Sydney, London, dan Auckland. Hingga tahun 2026, mereka memiliki lebih dari 170 cabang di 14 negara secara global, menjadikannya salah satu merek makanan lokal dengan skala internasional paling signifikan pasca-perang di Taiwan.↩
  17. Story Studio: Yongkang Jie dan Wisatawan Jepang dan Korea — Sejak tahun 1990-an, Yongkang Jie menarik rute tur standar 'Tur Sehari di Taipei Lama' dari grup wisatawan Jepang. Setelah dekade 2010-an, adegan terkait Din Tai Foor sering muncul dalam drama Korea seperti Sassy Go Go dan Chef Lee, ditambah dengan akumulasi tagar Instagram 'Makanan Wajib Coba di Taipei'. Jumlah turis individu Korea meningkat pesat antara tahun 2015 dan 2020, mengubah Yongkang Jie dari 'area utama wisatawan Jepang' menjadi 'area bersama wisatawan Jepang dan Korea.'↩
  18. Pengenalan Beef Noodle Yongkang — Beef Noodle Yongkang terletak di Nomor 17, Yongkang Jie, Da'an District, Taipei City. Didirikan oleh veteran dari Shanxi pada tahun 1963, menu yang menyajikan masakan tumis dan rebus tidak pernah berubah dari tahun 1963 hingga 2026. Generasi kedua melanjutkan bisnis ini, menjadikannya salah satu restoran tua representatif makanan asing di Yongkang Jie, bersama dengan Dongmen Jiaozi Guan (dari Shandong pada tahun 1953), membentuk peta makanan asing di sekitar Yongkang Jie.↩2
  19. Dinas Pariwisata Kota Taipei: Peta Makanan Asing Sekitar Pasar Dongmen — Dongmen Jiaozi Guan didirikan oleh veteran dari Shandong di dekat persimpangan Gang 2, Xinyi Road dan Gang 2, Jinshan South Road pada tahun 1953. Ini adalah restoran tua representatif makanan asing di sekitar Timur Taipei setelah migrasi orang asing pasca-perang, bersama dengan Beef Noodle Yongkang (dari Shanxi pada tahun 1963) dan Din Tai Foor (dari Shanxi/Jiangzhe yang beralih ke pangsit kukus pada tahun 1958/1972), membentuk jalur makanan asing Yongkang-Dongmen.↩
  20. Mirror Weekly: ICE MONSTER Luo Junhua Memulai Bisnis dan Bangkit Kembali — Laporan tahun 2019 menyebutkan bahwa pada tahun 1997, Luo Junhua dan mantan istrinya Zhang Jimei membuka kedai es 'ICE MONSTER' di Yongkang Jie. Kedai ini pernah dicantumkan oleh New York Times sebagai tempat wisata wajib di Taipei. Pada tahun 2010, toko ditutup secara mendadak karena masalah pernikahan; lokasi asli kini adalah Simuxi. Pada tahun 2012, ia memulai kembali dengan ICE MONSTER di Zhongxiao East Road.↩2
  21. Institut Sosiologi Akademi Ilmu Pengetahuan Negara: Studi tentang Gentrifikasi Taipei — Yongkang Jie mengalami tiga gelombang transformasi sejak akhir tahun 1990-an: 'Area Perumahan Veteran Asing menjadi Jalan Kafe Cendekiawan' (kedai es pada tahun 1997, Yongkang Kai Coffee pada tahun 1996, kedatangan toko buku pribadi dan butik), dari tahun 1995 hingga 2005; 'Jalan Cendekiawan menjadi Jalan Wisata' (pembukaan Stasiun Metro Dongmen pada tahun 2013, pemotretan Din Tai Foor di Gourmet of Solitude pada tahun 2015); dan setelah tahun 2015, 'biaya gentrifikasi muncul' (harga sewa naik hingga 5000-8000 NTD per ping per bulan, toko tua secara bertahap keluar). Ini adalah salah satu studi kasus representatif dari gentrifikasi Taipei.↩23
  22. Wikipedia: Stasiun Dongmen (Taipei) — Stasiun persimpangan antara Jalur Tamsui-Xinyi dan Jalur Zhonghe-Xinlu di Taipei. Terletak di persimpangan Xinyi Road, Da'an District, dan Jinshan South Road. Dibuka pada tanggal 24 November 2013. Pintu keluar nomor 5 adalah pintu masuk Yongkang Jie. Ini merupakan titik balik fisik di mana Yongkang Jie berubah dari perjalanan 10 menit dari Stasiun Zhongshan atau Stasiun Da'an menjadi hanya 3 menit berjalan kaki dari Pintu Keluar Nomor 5 Stasiun Dongmen. Kepadatan wisatawan di Yongkang Jie meningkat secara signifikan setelah tahun 2013.↩
  23. Dinas Budaya Taipei: Kediaman Yu Dawei — Asrama bergaya Jepang di Nomor 8, Lishui Jie, Da'an District, Taipei City. Berfungsi sebagai kediaman selama masa jabatan Menteri Pertahanan Republik Tiongkok, Yu Dawei (1962-1993). Yu Dawei (1897-1993) berasal dari Shaoxing, Zhejiang, dan meraih gelar Doktor Logika Matematika dari Universitas Harvard. Ia menjabat sebagai Menteri Transportasi dan Menteri Pertahanan selama 11 tahun (1954-1965), menjadi tokoh kunci dalam pengadaan militer dan kerja sama militer Taiwan-AS pada periode 1950-an hingga 1960-an di Republik Tiongkok. Ditetapkan sebagai Situs Warisan Kota Taipei pada tahun 2014, dan dibuka untuk tur berpemandu setelah direnovasi pada tahun 2017.↩
  24. Wikipedia: Pasar Dongmen (Taipei) — Pasar tradisional yang didirikan pada tahun 1948, terletak di persimpangan Xinyi Road dan Jinshan South Road, Da'an District, Taipei City. Perkembangannya sejalan dengan linimasa migrasi orang asing pasca-perang. Banyak kios adalah warisan dari pedagang lama yang beroperasi sejak 1948 hingga generasi ketiga pada tahun 2026. Pagi hari, antara jam 6 pagi dan 10 pagi, adalah waktu belanja utama bagi penduduk setempat, dan jarak 200 meter dari jalan utama Yongkang Jie merupakan sumber linimasa makanan Yongkang Jie.↩
  25. Pengenalan Toko Buku Independen Qing Tian — Toko buku independen kecil di ujung Gang 16, Da'an District, Taipei City. Dibuka pada tahun 2003, ini adalah salah satu toko buku pribadi pertama dari puncak gentrifikasi Yongkang-Qing Tian pada tahun 1990-an hingga 2000-an. Dengan luas sekitar 3 ping, rak buku membentang dari lantai ke langit-langit, dan koleksi buku berfokus pada sastra Taiwan, seni desain, ilmu sosial humaniora. Pemilik toko buka pukul 2 siang dan libur pada hari Senin, menjadikannya salah satu lokasi tua yang bertahan di Yongkang Jie hingga tahun 2026.↩
Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
Jalan Yongkang Dongmen Qing Tian Street Kota Da'an Distrik Da'an Kawasan Bersejarah Kota Showa Qing Tian No. 76 Casa Violet Din Tai Fung Ma Ying-jeou Zhou De-wei Asrama Jepang Area Keluarga Keluar Pulau Seri Kawasan Bersejarah
Bagikan

Bacaan lanjutan

Anda mungkin juga ingin membaca

Geografi Artikel resmi

Gongguan: Laboratorium Kekaisaran Jepang, Salon Bawah Tanam Zaman Kebijaksanaan, Ayam Goreng Mahasiswa UI, Tiga Abad dalam 500 Meter

Pada 1928, orang Jepang mendirikan universitas ke-enam Kekaisaran di selatan selatan Taipei, "Universitas Kaisar Taipei". Jalan Wenzhou, Jalan Qingtian, dan Jalan Yongkang di depan gerbang kampus adalah kawasan asrama profesor. Setelah perang pada 1949, asrama diterima oleh para ahli dari provinsi luar, rumah kecil di Gang 18 Jalan Wenzhou 16 No. 1-1 menjadi ruang tamu In Yehuang yang ditahan, rumah di Gang 16 Jalan Shengcheng Selatan 3 berubah dari kantor Departemen Kepala Menjadi salon budaya di luar partai, nomor 25 Jalan Wenzhou adalah ruang tulis Tai Jingnong yang ditulis hingga 1990, kasus filsafati Universitas Taipei antara 1972-1975 melibatkan 13 profesor. Pada 1999, kereta api MRT jalur Xindian mulai beroperasi, lingkaran Gongguan menjadi ATM makan malam mahasiswa UI. Laboratorium kekaisaran Jepang, salon bawah tanam zaman kebijaksanaan, ayam goreng mahasiswa modern, tiga abad bertumpuk dalam 500 meter.

閱讀全文
Geografi Artikel resmi

Jalan Guling: Jalan Buku Peninggalan Jepang, Pemuda Ang Lee, dan Istana Pemerintah Nasional

Sore Sabtu di depan teater batu merah di ujung Gang 5 Jalan Guling ada siswa yang antri, di sebelahnya adalah Museum Sejarah Nasional yang dibangun tahun 1955 dan Kolam Teratai Taman Botani Taipei yang diubah tahun 1921. Jalan sepanjang 1,2 kilometer ini bernama Jalan Sakuma pada tahun 1922, diubah nama menjadi Jalan Guling pada tahun 1947 diambil dari Gunung Lu di Jiangxi. Setelah perang 1945 ketika orang Jepang mundur, buku-buku yang ditinggalkan diletakkan di pinggir jalan menjadi jalan buku bekas pertama Taiwan, pada tahun 1960-an mencapai puncaknya dengan lebih dari 200 pedagang, setelah jembatan Guanghua dibuka pada April 1973 pedagang dipindahkan di bawah jembatan Guanghua, pada tanggal 15 Juni 1961 seorang pemuda berusia 16 tahun bernama Mao Wu membunuh Liu Min berusia 15 tahun dengan pisau pramuka di jalan ini, pada tahun 1991 Ang Lee membuat film berdurasi 237 menit. Jalan buku diruntuhkan, pedagang buku pindah, siswa pergi ke tempat lain untuk membeli buku, yang tersisa adalah bekas kantor cabang polisi batu merah dari masa pemerintahan Jepang, museum bergaya istana Tiongkok pasca perang, dan kolam teratai yang sudah ada di tempat yang sama sejak tahun 1921.

閱讀全文
Geografi Artikel resmi

Wanhua: Tempat Teramai di Taipei Era Qing, Kini Distrik dengan Usia Rata-rata Tertua di Taipei

Longshan Temple Wanhua dibangun oleh orang dari Sanyi Quanzhou pada tahun 1738 dan akan berusia 288 tahun pada tahun 2026, 137 tahun lebih tua dari Taipei Fu era Qing. Pertengkaran antar-distrik di Dingxia pada tahun 1853 mendorong penduduk Tong'an ke Dadao Cheng, menanamkan perpecahan dua abad di Taiwan Utara. Setelah pendudukan Jepang, nama diubah menjadi Wanhua, ditetapkan sebagai distrik pada tahun 1990, dan film 'Wanhua' disutradarai oleh Chiu Ching-che pada tahun 2010; indeks penuaannya saat ini adalah 320,78%, yang tertinggi di seluruh kota. Jalan tertua di Taipei ini masih menyalakan dupa pertama di halaman kuil pada pukul enam pagi.

閱讀全文
Masyarakat Artikel resmi

Academia Sinica: Sebuah Institusi yang Lahir untuk Meneliti Tiongkok, Bagaimana Ia Menanam Dirinya di Pulau Ini

Pada musim dingin 1948, lembaga akademik tertinggi nasional mendarat di Taiwan, dengan hanya lima puluh lebih orang yang ikut berpindah, dan kotak-kotak artefak dari Institut Sejarah Bahasa ditumpuk di gudang di samping stasiun kereta api Yangmei. Tujuh puluh tahun kemudian, ia memiliki dua puluh empat lembaga penelitian dan sembilan pusat penelitian, dengan imbalan sesuatu yang jarang terjadi: menggali satu situs setiap sepuluh tahun, mendirikan satu lembaga setiap sebelas tahun. Desain yang memungkinkannya melakukan hal ini—tidak mengajar, tidak menerima mahasiswa, langsung di bawah Istana Presiden—pada saat yang sama membuat kepalanya ditunjuk oleh presiden, anggaran dibuka setiap tahun, bahkan pertanyaan tentang mengubah nama menjadi masalah penentuan posisi negara.

閱讀全文