Ikhtisar 30 detik: Pada 2006, Ang Lee menjadi orang Asia pertama dalam sejarah Oscar yang meraih penghargaan Sutradara Terbaik. Ia kembali memenanginya pada 2013 dan hingga kini merupakan satu-satunya sutradara Asia yang dua kali memperoleh penghargaan tersebut. Namun, pada intinya, kisah “kebanggaan Taiwan” ini adalah tentang seorang anak keluarga waishengren—keluarga pendatang pascaperang dari Tiongkok—yang seumur hidup bergulat dengan ayahnya, represi, serta ketakutan bahwa “aku hampir tidak sanggup lagi.” Setiap membuat film, ia selalu merasa tidak mampu. Setelah lulus magister, ia memasak di rumah selama enam tahun sambil menunggu skenarionya diterima. Saat yang paling ia takuti justru adalah “ketika saya merasa sangat aman.” Kelembutannya lahir dari represi; kebesarannya lahir dari kemampuannya mengubah segala sesuatu yang tak lagi dapat ditekan menjadi film.
Maret 2006, Kodak Theatre, Los Angeles. Ang Lee berdiri di panggung Oscar dengan piala Sutradara Terbaik di tangannya—belum pernah ada sutradara Asia, Taiwan, ataupun Tionghoa yang berkulit serupa dengannya meraih penghargaan itu. Seluruh dunia menanti apa yang akan ia katakan. Ia membuka pidatonya dalam bahasa Inggris dengan mengutip kalimat Jack dalam Brokeback Mountain, “I wish I knew how to quit you,” lalu beralih ke bahasa Mandarin dan berkata ke arah kamera, “Terima kasih atas perhatian kalian.”1
Kalimat itu terdengar janggal dalam sebuah pidato penerimaan penghargaan. Kata “perhatian” lebih terdengar seperti ucapan seorang perantau kepada orang-orang di kampung halamannya di seberang lautan: “Saya baik-baik saja. Saya berhasil melewatinya. Jangan khawatir.” Dua tahun sebelumnya, proses pembuatan Hulk membuatnya ingin pensiun. Ia menemui ayahnya, yang selalu menentang kariernya di dunia film, tetapi untuk pertama kalinya sang ayah justru menyuruhnya terus berkarya. Belum genap dua minggu setelah mengatakan itu, ayahnya meninggal mendadak.2 Orang yang berdiri di panggung tersebut baru saja kehilangan ayahnya dan baru saja diragukan para kritikus. Kini, sembari memegang penghargaan terpenting di dunia perfilman, yang pertama kali terlintas di benaknya justru orang-orang di rumah yang selama ini mencemaskannya.
Dunia mengenangnya sebagai kebanggaan Taiwan dengan dua piala Oscar. Namun, sepanjang hidupnya, yang ia filmkan adalah represi, ketakutan, dan seorang putra yang tak sempat mengucapkan selamat tinggal dengan layak kepada ayahnya.
Anak yang selalu “nyaris berhasil” di rumah dinas kepala sekolah di Tainan
Ang Lee lahir pada 23 Oktober 1954 di Kota Chaozhou, Kabupaten Pingtung.3 Ayahnya, Lee Sheng, lahir pada 1917 di De’an, Jiangxi. Ia datang ke Taiwan bersama pemerintahan Nasionalis pada 1949 dan mengabdikan seluruh hidupnya pada dunia pendidikan. Ia pernah menjadi kepala Sekolah Normal Hualien dan Sekolah Menengah Atas Kedua Tainan, kemudian memimpin Sekolah Menengah Atas Pertama Tainan selama empat belas tahun.4 Di Tainan pada masa itu, sebutan “putra Kepala Sekolah Lee” sudah memiliki bobot tersendiri.
Bobot itu menekan seorang anak yang, bagaimanapun orang memandangnya, tidak tergolong istimewa. Ang Lee semula bersekolah di Sekolah Menengah Atas Kedua Tainan, lalu mengikuti ujian pindah ke Sekolah Menengah Atas Pertama Tainan, yang kelak dipimpin ayahnya. Ia dua kali mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dan dua kali gagal, meskipun selisih nilainya tidak besar. Bagi putra seorang kepala sekolah, rasa malu di hadapan seluruh lingkungan pendidikan Taiwan selatan itu sulit ditanggung dan jauh melampaui persoalan nilai semata. Ayahnya memimpin sekolah menengah terbaik di Tainan, sedangkan seluruh keluarganya memperlakukan “melanjutkan pendidikan” nyaris seperti sebuah keyakinan. Gagal masuk perguruan tinggi selama dua tahun berturut-turut menimbulkan rasa malu yang tidak mudah dicerna oleh dirinya yang masih remaja. Pada akhirnya, ia diterima di jurusan Teater dan Film, National Arts School. Ia mulai berkuliah pada 1973 dan lulus pada 1975.5 Dalam keluarga pegawai militer, negeri, dan pendidikan yang menganggap pendidikan akademis sebagai satu-satunya jalan yang benar, memilih teater sama artinya dengan menyatakan bahwa dirinya telah menyimpang. Keputusan itu menjadi retakan nyata pertama dalam hubungan ayah dan anak tersebut.
📝 Catatan kurator
Ang Lee kemudian pernah mengatakan sesuatu yang sulit langsung dipahami orang luar: “Saya sangat mengidentifikasi diri dan bersimpati kepada pihak yang kalah. Keluarga kami juga datang dari Tiongkok ke Taiwan karena kalah. Taiwan berada dalam posisi lemah di tengah masyarakat internasional, dan ketika tiba di Amerika Serikat saya tetap berada di pihak yang lemah.”6 Kalimat ini adalah kunci untuk memahami seluruh filmnya. Ia bukan pencerita yang berdiri di pihak pemenang: ayah tua yang tidak mampu menyesuaikan diri dalam Pushing Hands, dua lelaki yang tidak diizinkan saling mencintai dalam Brokeback Mountain, mahasiswi yang tak kuasa menentukan nasibnya sendiri dalam Lust, Caution, dan anak lelaki dalam Life of Pi yang terombang-ambing di laut tanpa memiliki apa pun. Semua tokohnya adalah orang-orang yang didorong ke sudut, bertahan, lalu kalah. Seorang anak yang sejak kecil didefinisikan oleh kata “nyaris” dan tumbuh dalam narasi kekalahan keluarga waishengren kelak menjadi sutradara yang paling piawai menggambarkan martabat pihak yang kalah.
Setelah lulus dari sekolah seni dan menuntaskan wajib militer, ia berangkat ke Amerika Serikat pada akhir 1970-an. Ia mula-mula mempelajari teater di University of Illinois dan memperoleh gelar sarjana pada 1980. Setelah itu, ia masuk program pascasarjana produksi film di New York University dan meraih gelar magister pada 1984.7 Di NYU, salah seorang teman seangkatannya adalah Spike Lee, yang kelak menjadi sutradara ternama. Ang Lee bahkan pernah menjadi asisten sutradara untuk karya kelulusan Spike Lee.8 Karya-karyanya selama menjadi mahasiswa terus berkembang: dari film pendek bisu tahun pertama, The Runner, hingga I Wish I Was by That Dim Lake pada 1982, yang meraih Film Drama 16 Milimeter Terbaik dalam Golden Harvest Awards Taiwan ke-6, kemudian film kelulusannya, Fine Line, yang memberinya Wasserman Award untuk Sutradara Terbaik dari New York University.9 Dari luar, kariernya tampak membentuk kurva yang menanjak dengan indah.
Selama enam tahun, ia menjadi suami yang memasak di rumah
Kemudian kurva itu terputus.
Lulus dari NYU pada 1984 semestinya menjadi titik awal kariernya. Namun, selama enam tahun berikutnya, Ang Lee tidak berhasil membuat satu film pun. Tidak ada yang mencari sutradara Asia yang ingin membuat film bertema keluarga berbahasa Mandarin. Skenario yang ditulisnya ditolak satu demi satu; semua yang dikirimkannya lenyap tanpa kabar. Selama enam tahun itu, istrinya, Jane Lin, menjadi pencari nafkah keluarga. Ia seorang ahli mikrobiologi, lulusan Jurusan Kimia Pertanian National Taiwan University yang meraih gelar doktor mikrobiologi dari University of Illinois, lalu menjadi profesor riset patologi di New York Medical College.10 Mereka menikah di New York pada Agustus 1983, dan putra sulung mereka, Mason Lee, lahir pada 1984.11
Seorang pria bergelar magister perfilman yang pernah meraih penghargaan penyutradaraan menghabiskan harinya dengan membaca, menonton film, serta menulis skenario yang tidak diinginkan siapa pun. Sisa waktunya digunakan untuk berbelanja bahan makanan, memasak, dan mengasuh anak. Dalam pandangan keluarga Tionghoa pada masa itu, posisi ini nyaris merupakan keadaan paling memalukan bagi seorang laki-laki: suami-suami lain berjuang mencari nafkah di luar rumah, sedangkan ia berada di dapur. Seorang istri ilmuwan menanggung kehidupan suami sutradara yang tak kunjung menghasilkan karya—sesuatu yang nyaris belum pernah terjadi dalam masyarakat Tionghoa kala itu. Tidak sulit membayangkan pandangan orang lain maupun pikiran para tetua keluarga. Ia kemudian menggambarkan perasaan itu sebagai ketidakamanan tanpa dasar yang kokoh. Justru ketidakamanan tersebut kelak menjadi mesin kreativitasnya. Dari Pushing Hands hingga Eat Drink Man Woman, kisah-kisah tentang keluarga, meja makan, dan siapa yang menanggung kehidupan siapa selalu membawa aroma enam tahun tersebut.
✦ “Ketakutan mencambuk saya untuk terus memperbaiki diri karena tidak ada perasaan yang lebih kuat daripada ketakutan. Dorongan untuk terus mencoba berasal dari rasa tidak aman.”12

Ang Lee menghadiri Hong Kong Asian Film Festival pada 2007. Foto: WikiCantona. CC BY-SA 3.0 melalui Wikimedia Commons.
Titik balik datang pada 1990. Dalam kompetisi Skenario Unggulan yang diselenggarakan Government Information Office, Ang Lee mengirimkan dua naskah sekaligus. Pushing Hands meraih juara pertama dengan hadiah NT$400.000, sedangkan The Wedding Banquet meraih juara kedua.13 Uang NT$400.000 itu, ditambah ketajaman naluri Hsu Li-kong, wakil direktur Central Motion Picture Corporation, mengangkatnya keluar dari dapur. Hsu melihat potensi pendatang baru yang belum pernah membuat film panjang tersebut dan memutuskan mendanai Pushing Hands dengan biaya produksi sekitar NT$12 juta hingga NT$13,5 juta. Pesan Hsu kepadanya keras, tetapi realistis: “Hanya NT$12 juta, tidak lebih satu sen pun.”14 Putra keduanya, Ang Lee, juga lahir pada tahun itu.15
Enam tahun menganggur akhirnya berakhir ketika ia berusia 36 tahun. Namun, enam tahun itu tidak berlalu sia-sia. Masa tersebut memaksanya memahami sedalam-dalamnya perasaan “tidak memiliki pijakan”, yang kemudian menjadi warna dasar seluruh karyanya.
Lung Sihung tiga kali memerankan ayahnya
Dalam tiga film berturut-turut, Ang Lee meminta aktor yang sama—Lung Sihung—memerankan sosok ayah: guru taijiquan dalam Pushing Hands, perwira purnawirawan dalam The Wedding Banquet, dan koki pensiunan dalam Eat Drink Man Woman. Karena itu, ketiganya disebut “Trilogi Ayah” atau “Trilogi Keluarga”. Namun, yang benar-benar mempersatukan ketiga film tersebut bukan sekadar wajah Lung Sihung, melainkan satu persoalan yang berulang kali diolah Ang Lee: bagaimana seorang putra menghadapi ayah yang sekaligus ia segani, takuti, dan tidak mampu ia ajak berkomunikasi?
Pushing Hands (1991) menjadi titik awal. Lung Sihung memerankan Chu, mahaguru taijiquan yang dibawa ke Amerika Serikat untuk tinggal bersama putranya, tetapi tidak mampu menyesuaikan diri dengan menantu perempuannya yang berkebangsaan Amerika maupun dengan seluruh kehidupan Barat. Seorang tetua yang sangat dihormati dalam kebudayaannya sendiri berubah menjadi sosok yang dianggap berlebihan di negeri asing. Film debut ini memberi Ang Lee penghargaan Film Terbaik pada Asia-Pacific Film Festival ke-37 dan Sutradara Pendatang Baru Terbaik di Amiens International Film Festival, Prancis. Di Golden Horse Awards Taiwan, Lung Sihung meraih Aktor Terbaik, Wang Lai meraih Aktris Pendukung Terbaik, dan filmnya menerima Penghargaan Khusus Juri.16
Trailer Pushing Hands yang dirilis Film Movement: debut film panjang Ang Lee, dengan Lung Sihung sebagai guru taijiquan yang datang ke Amerika Serikat untuk tinggal bersama putranya, tetapi tidak mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya.
Film kedua, The Wedding Banquet (1993), mengangkat persoalan ini ke sisi yang lebih tajam. Seorang laki-laki gay asal Taiwan yang tinggal di New York mengadakan pernikahan palsu dengan perempuan yang membutuhkan kartu izin tinggal permanen demi menghadapi orang tuanya yang datang dari Taiwan. Namun, pesta pernikahan palsu itu akhirnya menyeret semua orang ke dalam kebohongan. Dibintangi Winston Chao, Gua Ah-leh, dan Lung Sihung, film komedi ini mempertemukan homoseksualitas secara langsung dengan etika keluarga tradisional. Film tersebut meraih Beruang Emas pada Berlin International Film Festival ke-43—bersama Woman Sesame Oil Maker karya Xie Fei—masuk nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik pada Academy Awards ke-66, serta memenangkan lima penghargaan Golden Horse, termasuk Film Cerita Terbaik dan Sutradara Terbaik.17 Kisah tentang kemampuan seorang ayah Tionghoa menerima diri putranya yang sebenarnya membuat dunia mulai mengingat nama Ang Lee.
Dalam Eat Drink Man Woman (1994), sang ayah tidak lagi sekadar menjadi objek pengamatan; ia pun menyimpan rahasia yang tak dapat diungkapkan. Lung Sihung memerankan Chu, koki pensiunan yang setiap akhir pekan menyiapkan hidangan luar biasa mewah untuk ketiga putrinya—diperankan oleh Yang Kuei-mei, Jacklyn Wu, dan Wang Yu-wen—meskipun jarak di antara para anggota keluarga justru semakin lebar setiap kali mereka duduk bersama di meja makan. Adegan panjang memasak pada pembukaan film menampilkan keterampilan pisau yang luar biasa cepat. Tangan itu sebenarnya bukan tangan Lung Sihung; tim produksi menggunakan koki profesional sebagai pemeran pengganti, dan pengambilan gambar adegan tersebut saja memakan waktu lebih dari satu minggu.18 Film ini juga masuk nominasi Film Berbahasa Asing Terbaik di Oscar, membuat Ang Lee dua tahun berturut-turut masuk daftar nominasi kategori tersebut melalui The Wedding Banquet dan Eat Drink Man Woman. Hollywood kemudian membuat ulang film ini dengan judul Tortilla Soup (2001).19
📝 Catatan kurator
Pembahasan umum tentang Trilogi Ayah cenderung menyebutnya sebagai “penggambaran halus Ang Lee atas benturan budaya Timur dan Barat”. Namun, rumusan itu keliru menempatkan titik beratnya. Yang benar-benar menghubungkan ketiga film tersebut bukan “kebudayaan”, melainkan sosok konkret bernama “ayah”—dan orang itu berada di rumah Ang Lee sendiri. Sepanjang hidupnya, Lee Sheng menentang putranya membuat film karena menganggapnya bukan profesi yang layak. Sepanjang hidupnya pula, Ang Lee berulang kali membentuk, berdamai, tetapi tetap tidak pernah benar-benar mampu mencapai ayah tersebut melalui film-filmnya. Dengan menggunakan wajah yang sama—Lung Sihung—ketiga film itu sebenarnya mengolah persoalan yang tidak dapat Ang Lee selesaikan dalam kehidupan nyata. Di permukaan, persoalannya tampak sebagai kebudayaan; di bawahnya, terdapat kata-kata seorang putra yang tidak mampu disampaikan kepada ayahnya.
Seorang Tionghoa membuat film tentang rumah bangsawan Inggris abad ke-19
Pada 1995, Ang Lee melakukan sesuatu yang kala itu nyaris tidak masuk akal. Setelah menyelesaikan tiga film keluarga berbahasa Mandarin, sutradara asal Taiwan ini menerima tawaran mengadaptasi novel Jane Austen menjadi Sense and Sensibility, sebuah film berbahasa Inggris sepenuhnya tentang pernikahan dan kelas sosial di lingkungan rumah bangsawan Inggris abad ke-19. Skenarionya ditulis sendiri oleh pemeran utama, Emma Thompson. Ia kemudian meraih Oscar untuk Skenario Adaptasi Terbaik dan menjadi satu-satunya orang dalam sejarah Oscar yang pernah memenangi penghargaan untuk akting sekaligus penulisan skenario.20
Trailer resmi Sony Pictures Entertainment: film Hollywood pertama Ang Lee, tentang seorang sutradara Tionghoa yang merekam pernikahan dan kelas sosial di rumah bangsawan Inggris abad ke-19.
Jika dilihat kemudian, pilihan itu sama sekali tidak mengherankan. Austen menulis tentang orang-orang yang terikat tata krama: perempuan tidak dapat menyatakan cinta secara langsung, perasaan harus disembunyikan di balik perilaku yang patut, dan seluruh gejolak harus ditekan di bawah ketenangan permukaan. Itulah hal yang paling dikuasai Ang Lee. Setelah tiga kali membuat film tentang represi dalam keluarga Tionghoa, ia memindahkan latarnya ke rumah bangsawan Inggris. Bentuk represinya berubah, tetapi hakikatnya tetap sama. Sense and Sensibility memperoleh tujuh nominasi pada Academy Awards ke-68, dengan Thompson membawa pulang penghargaan Skenario Adaptasi Terbaik. Pada tahun yang sama, film tersebut juga memberi Ang Lee Beruang Emas di Berlin International Film Festival ke-46. Bersama penghargaan yang diraih The Wedding Banquet, pencapaian itu menjadikan Ang Lee satu-satunya sutradara dalam sejarah perfilman yang dua kali meraih Beruang Emas Berlin.21
Film berikutnya, The Ice Storm (1997), membuktikan bahwa ia tidak hanya mampu menangani satu jenis tema. Kali ini, ia mengarahkan kamera ke keluarga kelas menengah di kawasan pinggiran Amerika Serikat pada 1973 dan menciptakan alegori dingin tentang keruntuhan moral. Film tersebut meraih penghargaan Skenario Terbaik di Festival Film Cannes. Penulis skenarionya adalah James Schamus, rekan yang telah mendampingi Ang Lee sejak Pushing Hands. Perusahaan yang kemudian mereka dirikan bersama direstrukturisasi menjadi Focus Features, studio yang berfokus pada film independen Amerika.22
Tidak setiap langkah berhasil. Ride with the Devil (1999), yang berlatar Perang Saudara Amerika, gagal secara komersial dan hanya memperoleh sekitar US$630.000 di box office Amerika Utara.23 Namun, karier Ang Lee tidak dibangun dengan selalu mencetak keberhasilan. Ia membangunnya melalui kesediaan untuk memasuki tema baru yang belum tentu mampu ia tangani setiap kali mengalami kegagalan. Baginya, sesuatu yang pasti dapat dibuat dengan baik justru berbahaya.
✦ “Menjadi sutradara adalah satu-satunya hal yang saya ketahui, satu-satunya rasa aman yang saya miliki. Namun, rasa aman itu harus diperoleh melalui pengambilan risiko. Pada dirinya sendiri, hal itu sangat bertentangan.”24
Saat mereka terbang di hutan bambu, untuk pertama kalinya dunia melihat wuxia berbahasa Mandarin dengan cara seperti ini
Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000) adalah pertaruhan besar Ang Lee untuk menyatukan impian wuxia masa kecil, estetika Tionghoa, dan industri Hollywood. Diadaptasi dari novel karya Wang Dulu, film ini mempertemukan Chow Yun-fat sebagai Li Mu Bai, Michelle Yeoh sebagai Yu Shu Lien, Zhang Ziyi sebagai Yu Jiao Long, serta Chang Chen. Yuen Woo-ping menjadi koreografer laga, Peter Pau menangani sinematografi, Tan Dun menggubah musik, dan Yo-Yo Ma memainkan selo.25 Adegan yang paling melekat dalam ingatan dunia adalah pertarungan qinggong di hutan bambu: manusia melayang di atas pucuk-pucuk bambu dan kilatan pedang mengalir di antara dedaunan hijau. Penonton Barat belum pernah menyaksikan wuxia seperti itu.
Trailer resmi Sony Pictures Classics: hutan bambu dan qinggong dalam Crouching Tiger, Hidden Dragon membuat dunia untuk pertama kalinya memandang film wuxia berbahasa Mandarin dengan cara seperti ini.
Film tersebut memperoleh sepuluh nominasi pada Academy Awards ke-73 dan memenangi empat penghargaan: Film Berbahasa Asing Terbaik, Sinematografi Terbaik untuk Peter Pau, Tata Artistik Terbaik untuk Tim Yip, dan Musik Orisinal Terbaik untuk Tan Dun.26 Pendapatan box office-nya pun mencatat sejarah: sekitar US$128 juta di Amerika Utara dan US$213 juta di seluruh dunia. Rekor sebagai film berbahasa asing terlaris di Amerika Utara bertahan selama sekitar seperempat abad dan baru terpecahkan pada pertengahan 2020-an.27
Namun, bagian paling mengharukan dari Crouching Tiger, Hidden Dragon sebenarnya bukan adegan laganya. Li Mu Bai dan Yu Shu Lien saling mencintai sepanjang hidup, tetapi tidak seorang pun mampu mengungkapkannya. Mereka menekan perasaan di bawah aturan dan tanggung jawab hingga kematian memisahkan segalanya. Ini kembali menjadi tema lama Ang Lee: cinta terasa paling kuat justru di tempat yang tidak dapat diucapkan. Keringanan hutan bambu hanya tampilan luarnya; bobot represi adalah isinya. Kilatan pedang dalam dunia persilatan hanyalah kemasan. Yang benar-benar menyala lalu padam di pusat film adalah dua orang yang kehilangan satu sama lain karena terikat perguruan, batas kepatutan, dan seluruh aturan yang belum tentu mereka yakini tetapi tetap tidak berani mereka langgar. Dunia melihat tontonan Timur berupa manusia terbang; Ang Lee merekam kata-kata yang terlambat diucapkan oleh dua orang yang menua. Bagi seorang anak dari keluarga waishengren yang sejak kecil diajari untuk bersikap dewasa, membanggakan keluarga, dan menyimpan emosinya, rasa sakit karena “jelas-jelas peduli tetapi tidak boleh mengatakannya” tidak perlu diteliti. Ia telah memahaminya sejak kecil.
💡 Tahukah Anda?
Pada awalnya, tanggapan terhadap Crouching Tiger, Hidden Dragon di dunia berbahasa Mandarin jauh lebih dingin daripada sambutan yang diterimanya di Barat. Banyak penonton Tionghoa menganggap film wuxia tersebut “terlalu lambat” atau “terlalu artistik”, dan tidak terbiasa mendengar aksen Mandarin Chow Yun-fat. Sebuah karya yang untuk pertama kalinya membuat Barat memandang serius sinema berbahasa Mandarin justru terlebih dahulu dikritik dalam lingkungan budayanya sendiri. Keadaan “lebih dipahami di luar daripada di dalam” ini sangat akrab bagi Ang Lee, sejak menjadi anak yang gagal masuk sekolah seni hingga menantu pengangguran yang merantau ke Amerika Serikat.
Pada usia 49 tahun, ayahnya menyuruhnya “mengenakan helm baja dan maju menerjang”
Hulk (2003) merupakan perubahan arah paling kontroversial dalam karier Ang Lee. Ia menerima proyek adaptasi Marvel dengan Eric Bana, Jennifer Connelly, dan Nick Nolte, lalu mencoba mengubah film pahlawan super menjadi drama psikologis tentang trauma ayah-anak serta kemarahan batin. Hasilnya gagal secara finansial. Biaya produksinya sekitar US$137 juta dan, setelah memperhitungkan pemasaran, film tersebut sebenarnya merugi. Ulasan kritikus terbelah: sebagian menganggapnya terlalu berat, sementara sebagian lain menilainya terlalu berani. Film itu bukan film buruk, tetapi proses pembuatannya menguras Ang Lee hingga ia sempat ingin pensiun.28
Ia menemui ayahnya—ayah yang sepanjang hidup menentang kariernya di dunia film. Adegan itu sendiri memiliki ironi takdir. Kepala Sekolah Lee, yang sejak kecil menganggap pembuatan film bukan pekerjaan terhormat dan menginginkan putranya menempuh jalan yang lebih stabil, kini menjadi orang terakhir yang dapat memberinya pembenaran untuk berhenti. Ang Lee semula mengira ayahnya akan kembali menyuruhnya meninggalkan profesi tersebut, sehingga memberinya jalan keluar yang terhormat. Di luar dugaan, untuk pertama kalinya Lee Sheng justru memintanya terus membuat film. Kata-katanya tegas: “Kamu baru berusia 49 tahun. Teladan buruk apa yang ingin kamu berikan kepada anak-anakmu?” Lalu muncul kalimat yang kelak dikutip banyak orang: “Kenakan helm bajamu, maju menerjang, dan buatlah film!”29 Ayah yang sepanjang hidup menyuruh putranya menahan diri dan bersikap realistis justru menjadi orang yang mendorongnya maju pada penghujung hidupnya.
Sekitar dua minggu setelah mengatakan itu, Lee Sheng meninggal mendadak pada 2004.30
⚠️ Pandangan kontroversial
Salah satu kalimat yang paling sering dikaitkan dengan Ang Lee adalah “Setiap orang memiliki sebuah Brokeback Mountain di dalam hatinya.” Namun, Ang Lee sendiri tidak pernah mengatakannya. Kalimat itu lebih mungkin berasal dari materi promosi pada masa tersebut; sebagian orang juga menyebut adiknya, Khan Lee, sebagai sumbernya. Setelah lama beredar, kalimat itu akhirnya dilekatkan pada nama Ang Lee. Kalimat yang benar-benar berasal dari kisah ayah dan anak ini, serta dipastikan diucapkan Lee Sheng, adalah “Kenakan helm bajamu dan maju menerjang.” Seorang ayah yang sepanjang hidup menganggap pembuatan film bukan pekerjaan terhormat justru meninggalkan pesan terakhir agar putranya tidak berhenti. Kenyataan ini lebih dekat pada kebenaran daripada kata-kata mutiara mana pun—dan lebih sulit ditanggung.
Ayahnya telah tiada, dan perintah “teruslah membuat film” berubah menjadi pesan terakhir. Dua tahun kemudian, Ang Lee membawa Brokeback Mountain ke panggung Oscar. Penghargaan Sutradara Terbaik tersebut lebih menyerupai pemenuhan janji seorang putra yang baru kehilangan ayahnya dan diminta sang ayah untuk tidak menyerah.
Dua koboi, dua Singa Emas, dan cinta yang tak dapat diucapkan
Brokeback Mountain (2005), yang diadaptasi dari cerita karya Annie Proulx, berkisah tentang Ennis yang diperankan Heath Ledger dan Jack yang diperankan Jake Gyllenhaal—dua lelaki di wilayah Barat Amerika Serikat pada 1960-an yang dilarang saling mencintai oleh seluruh zaman mereka. Ang Lee mengubahnya menjadi tragedi tentang represi: mereka saling mencintai sepanjang hidup, tetapi sepanjang hidup pula tidak dapat mengakuinya. Film ini kembali pada pokok persoalan terpenting dalam karya Ang Lee: perasaan terdalam sering kali terperangkap di tempat yang paling sulit diungkapkan.
Film tersebut mula-mula meraih Singa Emas di Festival Film Venesia ke-62, lalu memperoleh delapan nominasi dan memenangi tiga penghargaan pada Academy Awards ke-78. Ang Lee meraih Sutradara Terbaik dan menjadi sutradara Asia sekaligus nonkulit putih pertama dalam sejarah Oscar yang memenangi penghargaan tersebut.31 Namun, malam itu juga meninggalkan salah satu kontroversi paling terkenal dalam sejarah perfilman. Brokeback Mountain, yang secara luas dijagokan, secara mengejutkan kalah dari Crash dalam kategori Film Terbaik.32
Saat menerima penghargaan, Ang Lee mula-mula mengutip kalimat Jack, “I wish I knew how to quit you,” lalu beralih ke bahasa Mandarin dan menyampaikan ke seberang lautan, “Terima kasih atas perhatian kalian.”33 Dua hal memenuhi pikirannya: ayah yang baru saja pergi dan orang-orang di kampung halaman yang terus mencemaskannya.
✦ “Sebagai sutradara Taiwan, saya harus membuktikan diri. Seberat apa pun keadaannya, saya harus terus bertahan.”34
Dua tahun kemudian, melalui Lust, Caution (2007), Ang Lee mendorong represi hingga ke batas yang paling berbahaya. Diadaptasi dari novel Eileen Chang, film ini berlatar Shanghai pada masa pendudukan Jepang pada 1940-an dan berkisah tentang sekelompok mahasiswa patriotik yang merencanakan pembunuhan seorang kolaborator. Tony Leung memerankan Tuan Yee, Tang Wei memerankan Wang Chia-chih, dan Wang Leehom turut membintangi film tersebut. Seorang mahasiswi perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan pihak yang sesungguhnya ia bela ketika terjepit antara hasrat dan tugas. Film ini memberi Ang Lee Singa Emas Venesia untuk kedua kalinya, menjadikannya sutradara yang dua kali meraih penghargaan tertinggi Venesia. Di Golden Horse Awards, film tersebut memenangi tujuh penghargaan kompetitif.35
Trailer resmi Focus Features: diadaptasi dari karya Eileen Chang, Lust, Caution memberi Ang Lee Singa Emas Venesia untuk kedua kalinya.
Lust, Caution juga harus membayar harga. Di Amerika Serikat film tersebut mendapat klasifikasi NC-17, sedangkan Tang Wei sempat mengalami pelarangan di Tiongkok selama sekitar dua hingga tiga tahun.36 Fakta bahwa sebuah film dapat membuat seorang aktris muda seolah-olah lenyap selama dua atau tiga tahun menunjukkan betapa sensitifnya saraf yang disentuh kisah tersebut. Namun, bagi Ang Lee, film ini menyempurnakan apa yang terus ia lakukan sejak Sense and Sensibility hingga Brokeback Mountain: menekan manusia sampai ke posisi yang tak tertahankan, lalu melihat apa yang tumbuh dari dirinya di tempat tersebut. Hasrat seksual di sini memikul narasi itu sendiri. Ia menjadi tempat sikap politik, cinta, dan identitas diri seseorang runtuh secara bersamaan. Keraguan Wang Chia-chih pada saat terakhir, kata-kata Li Mu Bai yang tidak terucapkan, dan cinta Ennis yang tak berani diakui merupakan perubahan bentuk dari hal yang sama: manusia terjepit antara apa yang “seharusnya” dilakukan dan apa yang “diinginkan”, tanpa mampu bergerak.
Mempertaruhkan harimau digital dan 120 bingkai per detik untuk sesuatu yang belum siap diterima seluruh industri
Pada fase akhir kariernya, Ang Lee berubah menjadi penjudi teknologi. Ia tidak lagi puas sekadar menceritakan kisah dengan baik; ia mulai menggunakan film untuk menguji batas medium itu sendiri.
Life of Pi (2012), yang diadaptasi dari novel Yann Martel, berkisah tentang seorang anak lelaki India yang setelah kecelakaan kapal terombang-ambing di Samudra Pasifik dalam sekoci bersama seekor harimau Benggala. Pemeran utamanya, Suraj Sharma, adalah remaja amatir berusia tujuh belas tahun yang belum pernah bermain film dan terpilih dari lebih dari tiga ribu orang. Harimau yang menjadi jiwa film tersebut sebagian besar dibuat secara digital.37 Film ini memperoleh sebelas nominasi dan memenangi empat penghargaan pada Academy Awards ke-85. Ang Lee meraih Sutradara Terbaik untuk kedua kalinya dan hingga kini tetap menjadi satu-satunya sutradara Asia yang dua kali memenangi penghargaan tersebut.38
Trailer resmi 20th Century Studios: seorang anak lelaki, sebuah sekoci, dan seekor harimau digital—film yang memberi Ang Lee Oscar keduanya sebagai sutradara.
Namun, malam kemenangan Life of Pi menyimpan bayang-bayang yang mencolok. Rhythm & Hues, perusahaan efek visual yang menciptakan harimau dan lautan tersebut, menyatakan bangkrut sekitar dua minggu sebelum film itu meraih penghargaan. Pada malam penganugerahan, ketika pemenang kategori efek visual naik ke panggung dan berusaha menyampaikan beberapa kata untuk industri mereka, suaranya ditutupi musik panggung. Di luar gedung, ratusan pekerja efek visual berunjuk rasa.39 Sebuah film yang memperoleh kemegahan teknis melalui efek visual ternyata ditopang oleh industri yang dieksploitasi hingga bangkrut. Kontras tersebut kemudian kerap dibicarakan dan tetap terasa getir.
Setelah itu, ia melangkah lebih jauh. Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016) menjadi film cerita panjang pertama dalam sejarah yang direkam dengan 120 bingkai per detik—120 fps, 4K, dan 3D. Pada waktu itu, hanya segelintir bioskop di seluruh dunia yang dapat menayangkan sepenuhnya versi yang ingin ia hadirkan. Harganya adalah kegagalan box office: dengan biaya produksi sekitar US$40 juta, film tersebut hanya memperoleh sekitar US$31 juta di seluruh dunia.40 Putra kedua Ang Lee, Mason Lee, memerankan Foo, prajurit keturunan Taiwan dalam regu Bravo.41
Trailer resmi Sony Pictures Entertainment: Billy Lynn’s Long Halftime Walk, film cerita panjang pertama dalam sejarah yang direkam dengan 120 bingkai per detik.
Dalam Gemini Man (2019), ia menggunakan teknologi peremajaan digital agar Will Smith dapat bertarung melawan versi muda dirinya sendiri, sekali lagi dengan perekaman 120 bingkai per detik. Secara komersial, film tersebut tetap merugi; Paramount memperkirakan kerugiannya mencapai sekitar US$110 juta.42 Dalam beberapa tahun terakhir, ia masih mempersiapkan proyek-proyek baru, termasuk film bertema tinju dan film biografi Bruce Lee yang dibintangi Mason Lee, tetapi jadwal produksinya belum pasti.
Trailer resmi Paramount Pictures: dalam Gemini Man, Ang Lee menggunakan peremajaan digital agar Will Smith dapat bertarung melawan versi muda dirinya sendiri.
📝 Catatan kurator
Film-film 120 bingkai per detik pada fase akhir karier Ang Lee lazim dipandang sebagai “kegagalan komersial”. Namun, kerangka tersebut sebenarnya gagal memahami apa yang sedang ia lakukan. Seorang sutradara yang telah meraih dua Oscar dan tidak perlu membuktikan apa pun dapat saja terus membuat film bergengsi yang aman dan menguntungkan. Ia justru menolak jalan itu. Ia memilih format yang nyaris tidak dapat diputar di bioskop mana pun dan hampir pasti merugi karena, baginya, ketakutan sejati bukanlah kehilangan uang, melainkan berhenti di tempat yang aman. Ia pernah berkata, “Ketika saya merasa sangat aman, justru saat itulah saya paling gelisah.”43 Film-film 120 bingkai per detik yang merugi itu merupakan cara termahal seorang manusia yang takut terhadap banyak hal untuk memaksa dirinya terus maju menerjang—seperti yang diminta ayahnya.
Kembali ke Taiwan, berdiri di antara Golden Horse dan politik
Ang Lee tidak pernah melupakan Taiwan. Pada 2018, ia menggantikan Sylvia Chang sebagai ketua Komite Eksekutif Golden Horse Awards. Selama masa jabatannya, ia mendirikan Golden Horse Film Master Class untuk membawa pengalaman perfilman kelas dunia kembali ke Taiwan bagi para kreator muda. Ia mengundurkan diri pada 2022 dan digantikan sinematografer Mark Lee Ping-bing. Pada 2023, ia kembali menjadi ketua dewan juri Golden Horse Awards ke-60.44

Ang Lee menghadiri Festival Film Cannes pada 2013. Foto: Georges Biard. CC BY-SA 3.0 melalui Wikimedia Commons.
Setahun setelah ia menjabat sebagai ketua, Golden Horse diterpa kontroversi. Dalam Golden Horse Awards ke-55 pada 2018, pidato penerimaan penghargaan sutradara dokumenter Fu Yue memicu sengketa lintas selat, dan sejak tahun berikutnya pihak Tiongkok memboikot Golden Horse Awards. Bagi seseorang yang baru saja mencurahkan seluruh tenaganya ke festival film tersebut, ini merupakan masa yang sulit. Ia berusaha melindungi penghargaan untuk sinema berbahasa Mandarin yang terseret ke dalam arus politik di luar kendalinya. Sebagai ketua, sikap Ang Lee dalam wawancara setelah peristiwa tersebut selalu konsisten: yang ia pertahankan adalah kemandirian film itu sendiri. “Pihak Taiwan bebas dan festival ini terbuka”; “Mari membicarakan seni sebagai seni. Semoga tidak ada faktor politik lain yang mengganggu”; “Saya berharap Golden Horse Awards tetap murni. Tolong hormati para pekerja film.”45 Ia tidak memilih posisi politik salah satu pihak, tetapi terus menekankan satu hal: biarkan film tetap menjadi film. Sikap tersebut sebenarnya sama dengan sikap yang hadir sepanjang karyanya. Ia tidak pernah bercerita dari sudut pandang suatu kubu; ia berdiri di samping orang yang terjepit di tengah dan kesulitan memilih arah.
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia telah memberinya hampir semua pengakuan yang mungkin diberikan. Pada 2021, British Academy of Film and Television Arts menganugerahinya BAFTA Fellowship untuk pencapaian seumur hidup. Pada 2025, Directors Guild of America memberinya penghargaan pencapaian seumur hidup.46 Di panggung DGA, Ang Lee yang berusia 71 tahun mula-mula bergurau, “Ini pertama kalinya saya mengenakan kacamata baca untuk menyampaikan pidato. Rupanya inilah saatnya menerima penghargaan pencapaian seumur hidup!” Kemudian ia mengucapkan sebuah kalimat yang merangkum seluruh hidupnya.47
✦ “Saya lahir di Taiwan dan tumbuh besar di Taiwan. Kini, berdiri di panggung ini terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.”47
Represi tidak dikalahkan, tetapi tidak lagi membelenggu
Pada 2016, sekitar masa penyelesaian Billy Lynn’s Long Halftime Walk, Ang Lee akhirnya menjelaskan secara gamblang persoalan yang merentang di seluruh film dan kehidupannya. Ia mengatakan bahwa ada hal-hal yang tidak pernah berhasil ia kalahkan—seperti represi dan ayahnya—dan semuanya terus berubah bentuk.48
Namun, ia kemudian menyampaikan bagian kedua. Di sanalah perdamaian sesungguhnya terjadi: ia masih akan menggambarkan ayahnya dalam film, tetapi tekanan itu telah hilang. Hal yang membelenggunya sepanjang hidup akhirnya tidak lagi menjadi masalah; semuanya telah berlalu.49
✦ “Ada hal-hal yang tidak pernah berhasil saya kalahkan, seperti represi dan ayah saya. Semuanya terus berubah bentuk.”50
Brokeback Mountain itu tidak pernah dipindahkan. Ayah yang sepanjang hidup menentang karier filmnya, tetapi menjelang wafat menyuruhnya “mengenakan helm baja dan maju menerjang”, juga tidak akan kembali untuk mendengar putranya mengucapkan terima kasih. Dunia mengingat dua Oscar, dua Singa Emas Venesia, dan dua Beruang Emas Berlin; seorang anak keluarga waishengren yang menjadi kebanggaan Taiwan dan dikenal di seluruh dunia. Namun, yang sesungguhnya dibuat Ang Lee sepanjang hidupnya adalah kisah seorang putra yang pada 2006 berdiri di panggung setelah baru kehilangan ayahnya, menatap kamera, lalu berkata dalam bahasa Mandarin, “Terima kasih atas perhatian kalian.” Ia bertahan melewati enam tahun di dapur dan berulang kali melampaui ketakutan bahwa “saya hampir tidak sanggup lagi”, kemudian mengubah segala sesuatu yang tak dapat lagi ditekan menjadi film.
Bacaan lebih lanjut:
- Sinema Taiwan — alur lengkap dari film berbahasa Taiwan, realisme sehat, Sinema Baru Taiwan, hingga masa kini; tradisi yang diwarisi Ang Lee lalu dibawanya ke dunia
- Hou Hsiao-hsien — tokoh utama Sinema Baru Taiwan dari generasi yang sama, yang memilih jalur auteur sangat berbeda dari Ang Lee
- Edward Yang — sutradara yang membedah kecemasan modern Taiwan melalui sebuah kota, sekaligus salah satu puncak lain Sinema Baru Taiwan
- Tsai Ming-liang — sutradara auteur Taiwan yang mendorong kesepian dan kelambatan hingga ke batasnya, berlawanan dengan jalur Hollywood Ang Lee
- André Chiang — kreator Taiwan yang juga meraih nama dalam sistem Barat dan mengajukan pertanyaan yang sama, “Siapakah saya?”, melalui masakan Michelin alih-alih kamera film
Sumber gambar
- Hero: Potret Ang Lee, foto oleh Sean Reynolds, CC BY 2.0, Wikimedia Commons
- Gambar isi 1: Hong Kong Asian Film Festival 2007, foto oleh WikiCantona, CC BY-SA 3.0, Wikimedia Commons
- Gambar isi 2: Festival Film Cannes 2013, foto oleh Georges Biard, CC BY-SA 3.0, Wikimedia Commons
Referensi
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Entri menyeluruh tentang riwayat hidup dan filmografi Ang Lee, termasuk kemenangan Oscar 2006, pidato penerimaannya, dan rekor Sutradara Terbaik untuk Brokeback Mountain.↩
- Ang Lee, Sang Lelaki Tua — Mirror Media (2016) — Wawancara tokoh mendalam yang membahas permintaan Lee Sheng agar Ang Lee terus membuat film menjelang wafat, serta kematiannya dua minggu kemudian.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat kelahiran Ang Lee pada 23 Oktober 1954 di Kota Chaozhou, Kabupaten Pingtung, serta latar belakang keluarganya pada masa kecil.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat riwayat Lee Sheng sebagai kepala Sekolah Normal Hualien, Sekolah Menengah Atas Kedua Tainan, dan Sekolah Menengah Atas Pertama Tainan, serta wafatnya pada 2004.↩
- Ang Lee — Taiwan Cinema — Basis data resmi Bureau of Audiovisual and Music Industry Development, Kementerian Kebudayaan, yang mencatat dua kegagalan Ang Lee dalam ujian masuk perguruan tinggi dan masa studinya di jurusan Teater dan Film, National Arts School.↩
- Kebanggaan Taiwan Ang Lee meraih Oscar Sutradara Terbaik melalui Life of Pi — Taiwanese American (2013) — Wawancara 2013 tentang identifikasinya dengan “pihak yang kalah” dan proyeksi dirinya terhadap posisi lemah Taiwan.↩
- Ang Lee — NYU Tisch School of the Arts — Halaman alumni resmi New York University yang mencatat gelar sarjana teater Ang Lee dari University of Illinois dan gelar magister produksi film dari NYU.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat bahwa Ang Lee dan Spike Lee adalah teman seangkatan di NYU serta bahwa Ang Lee pernah menjadi asisten sutradara untuk karya kelulusan Spike Lee.↩
- Ang Lee — Taiwan Cinema — Mencatat urutan karya Ang Lee selama menjadi mahasiswa, termasuk Golden Harvest Award untuk I Wish I Was by That Dim Lake dan Wasserman Award NYU untuk Sutradara Terbaik melalui Fine Line.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat latar belakang istrinya, Jane Lin, sebagai doktor mikrobiologi dan profesor riset patologi.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat pernikahannya di New York pada Agustus 1983 dan kelahiran putra sulungnya, Mason Lee, pada 1984.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Kutipan dari buku karya Chang Liang-pei, A Dream of Cinema: Ten Years On, mengenai ketakutan dan ketidakamanan sebagai daya kreatif Ang Lee.↩
- Kolaborasi Hsu Li-kong dan Ang Lee — Jiemian News — Mencatat kemenangan pertama Pushing Hands dan kemenangan kedua The Wedding Banquet dalam kompetisi Skenario Unggulan Government Information Office 1990, serta pendanaan Pushing Hands oleh Central Motion Picture Corporation.↩
- Kolaborasi Hsu Li-kong dan Ang Lee — Jiemian News — Mengutip pernyataan Wakil Direktur Central Motion Picture Corporation Hsu Li-kong mengenai biaya produksi Pushing Hands: “NT$12 juta, tidak lebih satu sen pun.”↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat bahwa putra keduanya, Mason Lee, lahir pada 1990 dan kemudian menjadi aktor.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat penghargaan Film Terbaik Asia-Pacific Film Festival, Sutradara Pendatang Baru Terbaik di Amiens, Aktor Terbaik Golden Horse untuk Lung Sihung, dan penghargaan lain bagi Pushing Hands (1991).↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat Beruang Emas Berlin untuk The Wedding Banquet (1993), yang diraih bersama Woman Sesame Oil Maker, nominasi Oscar Film Berbahasa Asing, serta lima penghargaan Golden Horse.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat rincian produksi adegan panjang memasak pada pembukaan Eat Drink Man Woman, yang menggunakan koki profesional sebagai pemeran pengganti dan memerlukan pengambilan gambar lebih dari satu minggu.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat nominasi Oscar Film Berbahasa Asing untuk Eat Drink Man Woman dan pembuatan ulang Hollywood berjudul Tortilla Soup (2001).↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat bahwa Sense and Sensibility (1995) ditulis dan dibintangi Emma Thompson, yang melalui karya tersebut menjadi satu-satunya orang dalam sejarah Oscar yang meraih penghargaan untuk akting sekaligus penulisan skenario.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat tujuh nominasi Oscar dan Beruang Emas Berlin untuk Sense and Sensibility, yang menjadikan Ang Lee satu-satunya sutradara dengan dua Beruang Emas.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat penghargaan Skenario Terbaik Cannes untuk The Ice Storm (1997), kolaborasi jangka panjang dengan penulis skenario James Schamus, dan hubungan mereka dengan Focus Features.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat kegagalan komersial Ride with the Devil (1999), dengan pendapatan box office Amerika Utara sekitar US$630.000.↩
- Catatan kelas Golden Horse Film Academy — Komite Eksekutif Golden Horse — Pernyataan Ang Lee dalam kelas Golden Horse Film Academy bahwa rasa aman sebagai sutradara harus diperoleh melalui pengambilan risiko.↩
- Crouching Tiger, Hidden Dragon — Box Office Mojo — Halaman data box office yang juga mencantumkan tim kreatif dan pemeran, termasuk Chow Yun-fat, Michelle Yeoh, Zhang Ziyi, dan Chang Chen.↩
- The Academy Awards — Oscars.org — Data resmi Oscar: Crouching Tiger, Hidden Dragon memperoleh sepuluh nominasi dan empat kemenangan pada Academy Awards ke-73, yakni Film Berbahasa Asing, Sinematografi, Tata Artistik, dan Musik.↩
- Crouching Tiger, Hidden Dragon — Box Office Mojo — Mencatat pendapatan sekitar US$128 juta di Amerika Utara dan US$213 juta di seluruh dunia, serta rekor box office film berbahasa asing di Amerika Utara.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat biaya produksi Hulk (2003) sekitar US$137 juta, kegagalan finansial, dan tanggapan kritikus yang terbelah.↩
- Ang Lee, Sang Lelaki Tua — Mirror Media (2016) — Mengutip ucapan Lee Sheng kepada Ang Lee, “Kenakan helm bajamu, maju menerjang, dan buatlah film,” serta pernyataan “Kamu baru berusia 49 tahun.”↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat bahwa ayahnya, Lee Sheng, meninggal pada 15 Februari 2004.↩
- The Academy Awards — Oscars.org — Data resmi Oscar: Brokeback Mountain memperoleh delapan nominasi dan tiga kemenangan pada Academy Awards ke-78, dengan Ang Lee menjadi orang Asia pertama yang meraih Sutradara Terbaik.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat Singa Emas Venesia untuk Brokeback Mountain serta kontroversi kekalahannya secara mengejutkan dari Crash dalam kategori Film Terbaik.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat bahwa dalam pidato Oscar 2006, Ang Lee mengutip kalimat dari film tersebut lalu menyampaikan ucapan dalam bahasa Mandarin.↩
- Liputan khusus Ang Lee — Taiwan Panorama (2006) — Wawancara 2006 ketika Ang Lee mengatakan bahwa sebagai sutradara Taiwan ia harus membuktikan diri dan terus bertahan seberat apa pun keadaannya.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat Singa Emas Venesia, tujuh penghargaan Golden Horse, dan jajaran pemeran Lust, Caution (2007).↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat klasifikasi NC-17 untuk Lust, Caution di Amerika Serikat serta pelarangan sementara Tang Wei di Tiongkok.↩
- Kebanggaan Taiwan Ang Lee meraih Oscar Sutradara Terbaik melalui Life of Pi — Taiwanese American (2013) — Mencatat bahwa Suraj Sharma merupakan aktor amatir yang dipilih dari tiga ribu orang dan menjelaskan pembuatan harimau digital dalam Life of Pi.↩
- The Academy Awards — Oscars.org — Data resmi Oscar: Life of Pi memperoleh sebelas nominasi dan empat kemenangan pada Academy Awards ke-85, dengan Ang Lee meraih Sutradara Terbaik untuk kedua kalinya.↩
- Kebangkrutan perusahaan efek visual Life of Pi, Rhythm & Hues — Deadline (2013) — Melaporkan kebangkrutan Rhythm & Hues menjelang kemenangan film tersebut, terputusnya pidato penerimaan penghargaan, dan unjuk rasa di luar lokasi penganugerahan.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat bahwa Billy Lynn’s Long Halftime Walk (2016) merupakan film cerita panjang 120 fps pertama serta kegagalan box office-nya.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Tionghoa — Mencatat bahwa putra kedua Ang Lee, Mason Lee, memerankan Foo, prajurit keturunan Taiwan dalam Billy Lynn’s Long Halftime Walk.↩
- Ang Lee — Wikipedia bahasa Inggris — Mencatat teknologi peremajaan digital dalam Gemini Man (2019) dan perkiraan kerugian Paramount sekitar US$110 juta.↩
- Catatan kelas Golden Horse Film Academy — Komite Eksekutif Golden Horse — Pernyataan Ang Lee dalam kelas Golden Horse Film Academy bahwa ketika ia merasa sangat aman, justru saat itulah ia paling gelisah.↩
- Situs resmi Komite Eksekutif Golden Horse Awards — Komite Eksekutif Golden Horse — Situs resmi Golden Horse Awards yang mencatat bahwa Ang Lee menjadi ketua komite eksekutif pada 2018, mendirikan Film Master Class, mengundurkan diri pada 2022, dan menjadi ketua dewan juri pada 2023.↩
- Ang Lee berbicara tentang Golden Horse dan politik — Mirror Media (2021) — Memuat pernyataan Ang Lee sebagai ketua Golden Horse bahwa festival film harus berdiri independen dari politik.↩
- Ang Lee akan menerima DGA Lifetime Achievement Award — DGA — Siaran pers resmi Directors Guild of America yang mengumumkan penghargaan pencapaian seumur hidup untuk Ang Lee.↩
- Ang Lee menerima DGA Lifetime Achievement Award — Global Views Monthly (2025) — Laporan mengenai pidato penerimaan penghargaan DGA Ang Lee pada 2025, termasuk ucapan bahwa ia lahir dan tumbuh di Taiwan serta lelucon tentang kacamata baca.↩
- Ang Lee, Sang Lelaki Tua — Mirror Media (2016) — Wawancara yang memuat pernyataan Ang Lee bahwa “represi dan ayah terus berubah bentuk” sebagai inti tema kreatifnya.↩
- Ang Lee, Sang Lelaki Tua — Mirror Media (2016) — Memuat refleksi perdamaian Ang Lee pada 2016: ia masih akan menggambarkan ayahnya, tetapi tekanan tersebut telah hilang.↩
- Liputan khusus Ang Lee — Taiwan Panorama (2013) — Wawancara Taiwan Panorama 2013 yang menelusuri karier kreatif Ang Lee dan kepedulian utama dalam narasi lintas budayanya.↩