Kristen di Taiwan: Dari Kabar Angin "Mengorek Mata dan Jantung" ke Deklarasi Negara Baru dan Merdeka

Pada tahun 1865, James Laidlaw Maxwell membuka klinik di Kanxi Street, Tainan, namun terpaksa ditutup 23 hari kemudian karena kabar angin "mengorek mata dan jantung". Sejarah ini—dari kesalahpahaman medis, pencabutan 20.000 gigi, konflik kuil Shinto masa penjajahan Jepang, hingga "agama tepung terigu" bantuan AS—mencatat bagaimana Kristen berkembang dari agama "fan merah" asing menjadi pendorong kunci gerakan demokrasi Taiwan.

Ringkasan 30 Detik: Perkembangan Kristen di Taiwan adalah marathon panjang dari "kesalahpahaman" menuju "simbiosis". Misionaris abad ke-19 membuka pintu masyarakat dengan "satu tangan Alkitab, satu tangan tang pencabut gigi", dan George Leslie Mackay sendirian mencabut lebih dari 20.000 gigi. Setelah melewati tekanan sembahyang kuil Shinto masa penjajahan Jepang dan era bantuan AS "agama tepung terigu" pasca perang, kekuatan ini pada era hukum darurat beralih ke politik, dengan Gereja Presbyterian mempertaruhkan nyawa menerbitkan Deklarasi Hak Asasi Manusia, menjadi suara yang tak terabaikan dalam proses demokratisasi Taiwan. Sementara kini, misionaris Mormon berjas putih hitam yang bersepeda menjadi pemandangan khas lain di jalanan Taiwan.

Pada 16 Juni 1865, dokter Skotlandia James Laidlaw Maxwell menyewa sebuah rumah panggung di Kanxi Street, Tainan—bagian depan untuk khotbah, bagian belakang untuk praktek medis. Ini adalah klinik kedokteran Barat pertama di Taiwan, namun hanya bertahan 23 hari. Saat itu di kota kerajan beredar kabar bahwa golongan "fan berambut merah" ini mengorek mata dan jantung orang untuk dijadikan obat, massa marah mengepung klinik, dan Maxwell terpaksa melarikan diri ke Takao (sekarang Kaohsiung). 1

Kacauan "mengorek mata dan jantung" ini adalah pembukaan nyata pengakuan Kristen di Taiwan.

Satu Tangan Alkitab, Satu Tangan Tang Pencabut Gigi

Jika Maxwell menggunakan bedah medis untuk membuka jalan di Taiwan selatan, maka pionir Taiwan utara George Leslie Mackay mengandalkan sepasang tang pencabut gigi. Tiba di Tamsui pada 1872, Mackay menemukan masyarakat Taiwan menderita sakit gigi parah tanpa tempat pengobatan. Ia mulai mengelilingi desa sambil menyanyikan mazmur di lapangan terbuka, lalu mencabut gigi warga secara gratis. 2

Menurut otobiografi Mackay yang diterbitkan 1895, selama tiga puluh tahun di Taiwan ia mencabut lebih dari 21.000 gigi. 3 Strategi "atasi penderitaan jasmani dulu, sampaikan injil rohania kemudian" ini sangat berhasil. Alat pencabut gigi saat itu bahkan dibuat oleh pandai besi lokal Taiwan berdasarkan petunjuk Mackay. Pelayanan medis tidak hanya menurunkan rasa tolak terhadap "agama Barat", lebih dari itu membangun kepercayaan mendalam di tingkat akar rumput.

📝 Catatan Kurator: Di era tanpa anestesi, 20.000 gigi bukan sekadar angka, melainkan 20.000 kali koneksi paling langsung, paling sakit, sekaligus paling mendalam dengan orang-orang lokal.

"Fumi-e" Masa Penjajahan Jepang: Konflik Salib dan Bendera Matahari Terbit

Masuk era penjajahan Jepang, Kristen menghadapi tantangan sistematis. Tahun 1930-an, seiring bangkitnya militarisme Jepang, Pemerintahan Jenderal Gubernur memaksa gerakan "Japanisasi" (Kōminka), mewajibkan semua organisasi agama sembahyang ke kuil Shinto. Bagi orang Kristen yang teguh pada "selain Tuhan tidak ada tuhan lain", ini adalah ujian iman yang berat.

Sekolah Menengah Presbyterian Tainan (sekarang SMA Chang Jung) karena menolak mengajak siswa sembahyang ke kuil Shinto, menghadapi nasib kepala sekolah diganti dan misionaris dideportasi. 4 Demi bertahan, sebagian gereja terpaksa mendefinisikan sembahyang kuil sebagai "upacara kewarganegaraan non-agamis", kompromi yang disebut para sarjana kemudian sebagai "fumi-e" versi modern. 5 Di era ini gereja bertahan di celah, namun justru mengasah ketahanan untuk nanti menentang rezim otoriter.

Bantuan AS dan "Agama Tepung Terigu": Injil yang Mengenyangkan Perut

Awal pasca perang, Taiwan kekurangan barang sangat parah. Selama periode bantuan AS 1951–1965, Kristen dan Katolik menjadi saluran penting distribusi bantuan. Saat itu banyak warga Taiwan ke gereja bukan untuk mendengar khotbah, melainkan menerima tepung terigu, susu bubuk, minyak kedelai, dan pakaian bekas bergambar jabat tangan "Kerja Sama AS–Republik Tiongkok". 6

"Selesai ibadah ambil tepung" menjadi kenangan bersama generasi itu, Kristen pun dijuluki "agama tepung terigu". 7 Meskipun sebagian jemaat pergi setelah bantuan berhenti, periode ini benar-benar membawa Kristen ke keluarga-keluarga grassroots Taiwan, bahkan mengubah kebiasaan makan (seperti penyebaran budaya makanan berbasis tepung).

Bayangan Sepeda di Jalan-jalan Desa

Di era transportasi sulit, sepeda adalah "mobil injil" misionaris menembus pedalaman. Di Taitung, pendiri Rumah Sakit Kristen Taitung, Dr. Frank Dennis, awalnya sering naik "motor bekas" atau sepeda melintasi pantai timur. Warga ingat, saat Dr. Dennis tidak naik motor melainkan sepeda, biasanya karena uang bensin ditabung untuk bantuan orang miskin. 8

Di Puli, Nantou, "Kakek Puli" asal Norwegia Bjarne Gislefoss adalah teladan keliling desa bersepeda. Ia sering bersepeda di lorong-lorong kecil Puli, merawat anak penderita polio dan anak yatim piatu. 9 Bagi banyak orang tua Taiwan, orang asing tinggi, berambut pirang bermata biru, naik sepeda sambil bicara bahasa Taiwan atau bahasa suku asli yang tidak lancar, adalah lambang paling hangat Kristen.

Selain itu, di jalanan Taiwan ada juga sekelompok misionaris muda asing berjas putih, celana panjang hitam, helm, berdua naik sepeda berkeliling kota dan desa—mereka misionaris Gereja Yesus Kristus Orang Kudus Zaman Akhir (dikenal sebagai Mormon). 10 Biasanya berasal dari Utah, AS, lulus SMA lalu sukarela ke Taiwan menginjilkan, dan giat belajar bahasa Mandarin lancar, menjadi pemandangan khas di perkotaan dan pedalaman Taiwan. 11

Dari Mezbah ke Jalanan: Guntur Politik 1977

Masuk paruh kedua abad ke-20, warna Kristen Taiwan berubah drastis. Pasca 1945, "Gereja Bahasa Mandarin" yang datang bersama KMT mayoritas mendukung sistem partai-negara; namun Gereja Presbyterian yang selama berabad-abad menggarap Taiwan menggunakan bahasa ibu dan masuk ke akar rumput, berikatan erat dengan nasib Taiwan asli. 12

16 Agustus 1977, saat AS berpotensi putus hubungan diplomatik dengan Republik Tiongkok (Taiwan) dan masyarakat dalam ketakutan, Gereja Kristen Presbyterian Taiwan menerbitkan Deklarasi Hak Asasi Manusia yang menggemparkan seluruh Taiwan. Deklarasi tegas menyatakan: "Masa depan Taiwan harus ditentukan oleh 17 juta penduduk Taiwan", dan menuntut pemerintah "menjadikan Taiwan sebuah negara baru dan merdeka". 13 Ini pertama kalinya di era hukum darurat ada organisasi lokal yang terbuka mengusung pendirian kemerdekaan Taiwan, pendeta Kao Chun-ming dan pemimpin lain kemudian dipenjara.

Tantangan Modern: Saat Konservatif dan Progresif Bertemu di Gereja

Masuk abad ke-21, Kristen di Taiwan menghadapi retakan internal baru. Laporan perkembangan gereja 2024 menunjukkan proporsi orang Kristen Taiwan sekitar 3%–4% dan tren menurun. 14

Tantangan lebih nyata datang dari isu sosial. Sepuluh tahun terakhir, gereja-gereja Taiwan terlibat perdebatan sengit soal "perkawinan setara". Meskipun di internal Gereja Presbyterian ada suara mendukung kesetaraan gender, mayoritas gereja konservatif (seperti Roti Kehidupan, Gereja Ibadah Bahasa Mandarin, dll.) menjadi kekuatan inti anti perkawinan sejenis. 15 Perubahan citra ini dari "pendorong demokrasi" ke "kekuatan konservatif budaya" juga memicu refleksi ulang generasi muda peran gereja.

📝 Catatan Kurator: Sejarah Kristen di Taiwan, adalah sejarah evolusi yang terus tarik-menarik di antara "asing" dan "lokal", "medis" dan "politik", "konservatif" dan "progresif".

Referensi

  1. Kenangan Baru Bangunan Lama—Mengingat Bapak Misi Medis James Laidlaw Maxwell — Majalah Taiwan Panorama, 2001-10
  2. Dokter Mackay dan Murid-muridnya Mencabut Gigi Warga di Terbuka — Bank Memori Budaya Nasional
  3. George Leslie Mackay著,Lin Wan-sheng譯,《Catatan Formosa: Kenangan Mackay di Taiwan》,Penerbit Frontline,2007。
  4. Masalah Sembahyang Kuil di Sekolah Menengah Presbyterian Tainan — Arsip Sejarah Pendeta Lai Yong-xiang
  5. Gereja Presbyterian Taiwan di Bawah Gerakan Japanisasi — Galeri Grafis Hsu Chung-mao, 2026-04-20
  6. Selesai Ibadah Ambil Tepung: Tinjauan Gereja Taiwan di Bawah Bantuan AS Pasca Perang — Zheng Mu-qun (lihat detail di tautan asli)
  7. Era Bantuan AS—Barang Bantuan — Bank Memori Budaya Nasional
  8. Frank Dennis◎Liputan Terkait — Rumah Sakit Kristen Taitung
  9. Cinta dari 8.000 km Norwegia: Kakek Puli Bjarne Gislefoss Pulang ke Pangkuan Tuhan — Christian Tribune, 2022-12-30
  10. Rasul di Atas Sepeda—50 Tahun Mormon di Taiwan — Majalah Taiwan Panorama
  11. Misionaris Asing Usia 19 Tahun Menginjilkan Melalui Bersepeda — Fion News, 2023-11-29
  12. Hari Ini dalam Sejarah: Gereja Presbyterian Menerbitkan Deklarasi Hak Asasi Manusia — Yayasan Perdamaian Taiwan Baru, 2023-08-16
  13. Dekade 1970, Gereja Kristen Presbyterian Taiwan Sudah Menerbitkan Tiga Deklarasi Politik Penting — Threads @sixmouths.sixsuns, 2024-08-20
  14. 【Laporan Sensus Gereja Kristen Taiwan 2024】Proporsi Orang Kristen Turun ke 3,03% — Christian Tribune, 2026-01-30
  15. Pasca Jatuh: Bincang-bincang Masalah Gereja Taiwan — Majalah Campus, 2021-12
Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
Kristen Sejarah Taiwan Gereja Presbyterian George Leslie Mackay James Laidlaw Maxwell Frank Dennis Bjarne Gislefoss Bantuan AS Masa Penjajahan Jepang Mormon
Bagikan

Bacaan lanjutan

Anda mungkin juga ingin membaca

Budaya

Douli: Pasangan di Samping SMP Longdu, Menenun Bambu Ketan Enam Puluh Tahun ke Dalam Sebuah Topi

Pada tahun 2017, Lin Rong-chun di Meinong, Kaohsiung, yang berusia delapan puluhan masih mengasah bilah bambu; pada 2014, nenek Chen Lian-chin di Longxi, Tainan, yang berusia 86 tahun dapat membuat satu topi dalam satu jam; di Fuli, Hualien, Xu Gui-zhu menjual satu buah pada 2016 seharga hanya 150 yuan; pada 2022, dokumenter 'Chuan, Chuan' dari Asosiasi Komunikasi Publik Tionghoa merekam Wu Jin-yun dan Xu Bao-mei di Miaoli yang telah melakukannya selama lima puluh tahun. Di Xionglin, Hsinchu, saat masa kejayaannya, setiap rumah menumpuk bambu ketan; di Lukitzi, Taoyuan, tiga puluh rumah memproduksi seratus topi sehari—saat ini, sebagian besar guru yang bisa membuat *douli* (topi bambu) kasar di seluruh pulau berusia di atas tujuh puluh tahun. Setelah kompensasi larangan penebangan di lahan cadangan penduduk asli ditingkatkan menjadi 60.000 yuan per hektar pada 2024, bahkan pasokan bahan bambu ketan pun terputus. *Douli* tidak hilang dari ladang; yang hilang adalah sepasang tangan yang mampu menyelipkan daun bambu ke dalam kerangka bilah bambu dan mengikatnya dengan benang kapas lapis demi lapis.

閱讀全文
Budaya

Nama Pasar Tradisional

Di jalanan Taiwan, jika seseorang berteriak "Shu-fen" atau "Chia-hao", berapa orang yang akan menoleh? Nama-nama ini adalah cerminan masyarakat Taiwan, mencatat imajinasi kolektif generasi berbeda tentang "kehidupan yang indah".

閱讀全文
Budaya

Dcard

Sebuah situs web yang ditulis oleh seorang anak Tainan di asrama NTU agar ia lebih mudah berkenalan dengan teman baru, berkembang menjadi platform media sosial paling berpengaruh bagi anak muda Taiwan, lalu terus berkembang sambil menghadapi pertanyaan "apakah Dcard akan runtuh?".

閱讀全文
Budaya

Gambar Salaman Lansia: Kelembutan Digital dan Medan Perang Informasi di Balik Teratai dan Buddha

Gambar salaman lansia tidak hanya bukti kaum lansia Taiwan melintasi kesenjangan digital, melainkan juga sarana pertukaran emosional di platform media sosial; namun bentuknya yang khas justru menjadi media penyebaran hoaks, dan di kalangan generasi muda berevolusi menjadi budaya meme yang unik.

閱讀全文