Ia pergi ke sebuah sekolah dasar Paiwan di Kotapraja Sandimen, Kabupaten Pingtung, untuk memberikan demonstrasi. Setelah acara selesai, seorang anak menarik lengan bajunya: Bisakah kamu membawa arak jawawut kami ke dunia internasional?
Wu Pao-chun menjawab: Bisa.
Janji itu kemudian ia tepati—dalam wujud sepotong roti, di Paris pada musim semi 2010.1
Gambaran umum 30 detik: Wu Pao-chun, lahir pada 1970 di kawasan perdesaan Kabupaten Pingtung. Ayahnya meninggal ketika ia berusia dua belas tahun, dan setelah lulus SMP ia pergi ke utara untuk menjadi magang pembuat roti. Pada 2008, ia membawa tim Taiwan meraih medali perak dalam Piala Dunia Roti (Coupe du Monde de la Boulangerie); pada 2010, ia memenangi medali emas Masters de la Boulangerie dengan roti leci mawar, menjadikannya peraih medali emas pertama dunia dalam ajang tersebut. Juri Prancis menyebut roti itu sebagai “roti Prancis paling lezat”.
Dari Desa Lungchuan di Pingtung hingga toko roti di Taipei
Wu Pao-chun adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya meninggal ketika ia berusia dua belas tahun, sehingga ibunya harus seorang diri menopang keluarga. Ia tumbuh di Desa Lungchuan, Kotapraja Neipu, Kabupaten Pingtung. Tidak lama setelah masuk SMA, ia berhenti sekolah. Pada usia lima belas tahun, ia pergi ke utara menuju Taipei dan mulai bekerja sebagai pemagang di sebuah toko roti.2
Jalan hidup semacam itu ditempuh banyak orang di Taiwan pada dekade 1980-an: anak dari daerah terpencil pergi ke utara, bekerja dengan tenaga, dan mencari nafkah. Namun, kebanyakan orang memandang pembuatan roti sebagai sarana penghidupan, sedangkan Wu menjadikannya laku penempaan diri. Ia belajar bahasa Prancis secara otodidak agar dapat membaca buku-buku pembuatan roti dari Prancis, menabung untuk belajar kepada para maestro kelas dunia di Jepang, dan berguru kepada Chen Fu-kuang di Taiwan. Ia membawa pekerjaan yang dianggap tidak menjanjikan itu hingga ke puncaknya.
“Yang sering kali miskin bukanlah kantong seseorang, melainkan batinnya.”
Jika ditempatkan dalam latar kehidupannya, kalimat ini terdengar bukan seperti kata-kata motivasi, melainkan laporan dari pengalaman pribadi.
2008: Medali perak dan semangkuk “cita rasa ibu”
Pada 2006, Wu Pao-chun lolos dari seleksi regional Taiwan. Pada 2007, tim Taiwan memenangi babak kualifikasi Asia di Guangzhou dan mewakili Asia untuk bertanding di Paris. Pada 2008, tim Taiwan tampil di Piala Dunia Roti (Coupe du Monde de la Boulangerie) dan meraih medali perak, hanya kalah dari tim tuan rumah Prancis. Dalam kompetisi tersebut, Wu bertanggung jawab atas kategori roti gaya Eropa dan sekaligus meraih medali emas nomor perseorangan untuk kategori itu.3
Roti yang ia ajukan dalam nomor perseorangan adalah “roti kelengkeng fermentasi”—kelengkeng kering yang direndam dalam arak beras manis, terinspirasi oleh kenangan akan dapur ibunya semasa hidup. Seusai kompetisi, seseorang bertanya dari mana inspirasinya berasal. Melalui seorang juru bahasa, Wu menjawab:
“Barangkali cita rasa ibu itulah yang menyentuh hati para juri.”3
Seorang Taiwan yang bahkan tidak dapat berbicara bahasa Prancis meraih medali emas di Prancis dengan cita rasa yang akrab di rumahnya setelah sang ayah meninggal.
2010: Roti yang menyimpan sebuah janji
Setelah 2008, Wu Pao-chun tidak berhenti melangkah. Ia terus mengingat pertanyaan anak Paiwan tersebut dan mulai meneliti cara memasukkan cita rasa pegunungan Taiwan bagian timur ke dalam roti Prancis: arak jawawut Paiwan dari Sandimen, leci berdaun hitam dari Kotapraja Fenyuan, serta kelopak mawar organik dari Puli. Leci kering direndam semalaman dalam arak jawawut, sementara adonannya difermentasi setidaknya selama lima belas jam. Seluruh proses pengembangannya memakan waktu dua belas bulan.4
Pada 2010, Masters de la Boulangerie diselenggarakan di Paris—edisi pertama yang mempertandingkan nomor perseorangan. Wu tampil membawa roti leci mawar berbentuk segitiga, yang bentuknya terinspirasi oleh citra pegunungan dalam kebudayaan masyarakat adat Taiwan.
Ia meraih medali emas dan menjadi peraih medali emas pertama dunia dalam ajang tersebut. Pernyataan juri Prancis terus dikenang hingga kini:
“Wu Pao-chun telah membuat roti Prancis paling lezat.”5
Bukan “roti Prancis bercita rasa Timur”, bukan pula “pembuatan roti Prancis menurut tafsir orang Asia”—para juri Prancis menilainya sebagai roti Prancis yang paling lezat.
Kembali ke Taiwan, kembali kepada segala yang berasal dari daerah setempat
Lima bulan setelah menjadi juara, pada 4 November 2010, Wu Pao-chun membuka “Wu Pao Chun Bakery” pertamanya di Distrik Lingya, Kaohsiung. Antrean pelanggan tidak pernah berhenti sejak hari pertama.5
Mengenai alasannya menggunakan hasil pertanian Taiwan, ia menjawab dengan lugas: “Pasar Tiongkok memang berpenduduk 1,3 miliar orang, tetapi seluruh dunia berpenduduk lebih dari tujuh miliar. Saya tidak akan memusatkan pandangan hanya pada Tiongkok. Yang saya wakili bukanlah Wu Pao-chun, melainkan Taiwan. Saya ingin turut membawa hasil pertanian Taiwan ke dunia.”
Gerai Eslite Songyan di Taipei dibuka pada 2013; gerai utama Taichung pada 2017; gerai utama Xinyi di Taipei pada 2018; dan gerai Singapura pada 2019. Setiap langkah sengaja diperlambat—menurutnya, ia bukan sedang membuka jaringan toko, melainkan memilih tempat yang tepat untuk menanam sebatang pohon.
“Klausul Wu Pao-chun”: Seorang pembuat roti yang mengubah peraturan pendidikan Taiwan
Pada 2016, Universitas Nasional Singapura (NUS) mengundangnya untuk mengikuti program EMBA. Masalahnya, ia hanya memiliki ijazah SMP, sementara peraturan Taiwan mensyaratkan gelar sarjana untuk mendaftar ke program pascasarjana. NUS membuat pengecualian baginya. Karena itu, Kementerian Pendidikan Taiwan kemudian mengubah peraturan agar orang-orang berbakat dan berprestasi tetap dapat mendaftar ke program pascasarjana meskipun tidak memiliki kualifikasi akademik formal. Masyarakat menyebut perubahan peraturan ini sebagai “Klausul Wu Pao-chun”.6
Pada 18 Juni 2022, “Akademi Pembuatan Roti Wu Pao-chun” diresmikan di Universitas Teknologi Kun Shan, Tainan. Wu menjabat sebagai dekan sekaligus profesor kehormatan—akademi pembuatan roti pertama di Taiwan dengan bentuk semacam ini, tempat para mahasiswa terlibat langsung dalam produksi dan operasional toko selama masa studi.7
Makna dari janji itu
Disney+ membuat film dokumenter tentang dirinya berjudul Roti Terbaik Dunia. Bukunya, Kelembutan Mencapai Yang Luar Biasa, terus terjual hingga kini. Pada 2016, ia kembali membawa tim Taiwan meraih medali perak dalam Piala Dunia Roti. Pada 2018, muridnya meneruskan ajaran sang guru dengan karya yang terinspirasi oleh ritual Guan Jiang Shou dan meraih penghargaan internasional.
Namun, pada akhirnya kisah ini tetap harus kembali kepada roti berbentuk segitiga tersebut. Ia tidak bisa berbahasa Prancis, hanya memiliki sedikit ijazah, tumbuh di perdesaan, kehilangan ayah sejak dini, dan nyaris tidak memiliki sumber daya. Ia berkata “bisa” kepada seorang anak Paiwan, lalu menghabiskan sepuluh tahun untuk membawa arak jawawut dari kampung halaman anak itu hingga membuat para juri Prancis menyebut hasilnya sebagai roti Prancis paling lezat.
Hasil itu sendiri terasa agak tidak masuk akal—kemudian, ketika diperhatikan dengan saksama, justru di situlah letak intinya.
Bacaan lanjutan:
- André Chiang — seorang maestro yang juga menaklukkan para juri Prancis dengan bahan pangan Taiwan, tetapi setahun setelah restorannya menempati peringkat ke-14 dunia, ia memilih dengan sadar untuk memadamkan lampu dan beranjak pergi
- Peta budaya 16 kelompok masyarakat adat Taiwan — konteks budaya tempat arak jawawut Paiwan dalam roti leci mawar berasal
- Budaya pasar malam — landasan kuliner rakyat Taiwan untuk memahami dari mana estetika bahan pangan Wu Pao-chun bertumbuh
- Huang Shan-liao — seorang Taiwan lain yang menjadi juara di panggung dunia, yakni Pekan Mode London, tetapi kemudian menempuh jalan yang berlawanan: meninggalkan keterampilannya dan mengubah “menjadi terlihat” menjadi karya laris
Referensi
- Wu Pao-chun — Wikipedia berbahasa Tionghoa — memuat riwayat hidup, pengalaman kompetisi, serta kisah janjinya kepada seorang anak Paiwan di Sandimen untuk membawa arak jawawut ke ajang internasional.↩
- Wu Pao-chun — Wikipedia — entri berbahasa Inggris yang menguraikan kelahirannya pada 1970 di Desa Lungchuan, Kotapraja Neipu, Kabupaten Pingtung; latar belakang keluarganya—ayah yang meninggal dini dan kedudukannya sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara; masa magang; serta proses mengikuti program EMBA NUS pada 2016.↩
- Baker returns home with silver cup — Taipei Times (7 April 2008) — laporan langsung mengenai medali perak tim Taiwan dalam Piala Dunia Roti 2008 dan pernyataan Wu Pao-chun bahwa “cita rasa ibu” merupakan inspirasi bagi roti kelengkengnya.↩
- Taiwan Litchi Rose Champion Bread — situs resmi Wu Pao-chun — halaman produk resmi roti leci mawar yang menjelaskan asal bahan—arak jawawut Sandimen, leci berdaun hitam Fenyuan, dan mawar organik Puli—serta proses fermentasi adonan dan pengembangan selama dua belas bulan.↩
- Taiwan: The winner of the Masters de la Boulangerie 2010 is… — Global Voices (9 April 2010) — laporan mengenai kemenangan medali emas Wu Pao-chun dalam Masters de la Boulangerie 2010 yang memuat komentar juri dan pernyataannya bahwa ia mewakili Taiwan, bukan dirinya sendiri.↩
- Wu Pao Chun Bakery — Wikipedia — menguraikan linimasa pembukaan gerai pertama di Kaohsiung pada 4 November 2010, Eslite Songyan di Taipei pada 2013, dan Singapura pada 2019, serta perubahan peraturan yang dikenal sebagai “Klausul Wu Pao-chun”.↩
- Peresmian “Akademi Pembuatan Roti Wu Pao-chun” di Universitas Kun Shan — Central News Agency — laporan mengenai peresmian Akademi Pembuatan Roti Wu Pao-chun di Universitas Teknologi Kun Shan pada 18 Juni 2022, pengangkatan Wu Pao-chun sebagai dekan sekaligus profesor kehormatan, serta pendirian akademi pembuatan roti berbasis kerja sama industri-akademik pertama di Taiwan.↩