Gunung Yushan: dari “Niitakayama” hingga Titik Tertinggi Jiwa Taiwan

Pada 1897, penguasa kolonial Jepang menamainya “Niitakayama”, yang melambangkan ambisi kekaisaran untuk melampaui ketinggian Gunung Fuji. Seabad kemudian, Gunung Yushan tetap menjadi puncak tertinggi Taiwan—dari gunung suci masyarakat adat, catatan dalam literatur Dinasti Qing, dan mahkota pada peta kolonial, hingga situs pendakian sakral yang kini diperdebatkan serta medan ujian bagi etika lingkungan.

Ikhtisar 30 detik:
Puncak Utama Gunung Yushan (secara harfiah, Gunung Giok) berada pada ketinggian 3.952,430 meter dan menempati urutan pertama dalam Seratus Puncak Taiwan. Bersama Gunung Xueshan, Gunung Xiuguluan, Gunung Nanhu, dan Gunung Beidawu, gunung ini dijuluki “Lima Gunung Agung Taiwan”. Gunung Yushan juga merupakan puncak tertinggi di kawasan Pasifik Barat, selain Semenanjung Kamchatka. Gunung ini memiliki zonasi ekologis vertikal lengkap dari kawasan subtropis hingga kawasan dingin serta menjadi “gunung suci” dalam legenda suku Bunun, Tsou, Kanakanavu, dan Paiwan. Kini, Gunung Yushan berada dalam tarik-menarik antara “gelombang pendakian massal” dan “daya dukung lingkungan pegunungan tinggi”. Lebih dari satu juta kunjungan tercatat setiap tahun, tetapi gunung ini juga menghadapi tantangan serius berupa pencemaran sampah dan perubahan perilaku satwa liar.

Pada 28 Juni 1897, Kaisar Meiji secara resmi menerbitkan maklumat yang menamai puncak tertinggi Taiwan “Niitakayama”, yang berarti bahwa gunung tersebut lebih dari 200 meter lebih tinggi daripada Gunung Fuji di Jepang. Penamaan ini bukan saja sebuah penemuan geografis, melainkan juga pernyataan politik: sejak saat itu, titik tertinggi Kekaisaran Jepang berpindah ke atas awan di gunung yang terletak di pulau bagian selatan ini.

Gunung suci dan tempat perlindungan: tujuan akhir jiwa masyarakat adat

Jauh sebelum tim survei kekaisaran tiba, gunung ini telah menjadi keberadaan sakral yang tidak boleh diganggu dalam kosmologi masyarakat adat: tempat asal-usul, tempat perlindungan, dan tujuan akhir jiwa. Statusnya sebagai titik tertinggi secara geografis hanyalah label yang kemudian dilekatkan oleh orang luar.

Bagi suku Bunun, Gunung Yushan disebut Tongku Saveq (atau Usaviah, Saviah, Saviq). “Tongku” berarti lereng puncak gunung, sedangkan “Saveq” berkaitan dengan tempat para leluhur berlindung dalam legenda banjir besar dan tempat jiwa akhirnya beristirahat, sehingga melambangkan tujuan spiritual suku tersebut. Menurut legenda, pada zaman purba banjir besar menenggelamkan daratan. Para leluhur Bunun selamat setelah melarikan diri ke puncak gunung ini dan memperoleh ruang untuk bertahan hidup melalui pertarungan antara seekor kepiting raksasa dan ular raksasa 1.

Suku Tsou menyebutnya Patungkuonʉ (atau Pattonkan), yang berarti “gunung bercahaya” atau “gunung kuarsa”. Menurut legenda, leluhur Tsou semula tinggal di puncak Gunung Yushan, lalu berpindah ke sekitar Alishan akibat banjir. Sementara itu, suku Kanakanavu menyebutnya Tanungu'incu, sedangkan suku Paiwan menyebutnya Kanasian (atau Kasetaivang/Kacalisian). Keragaman nama ini mencerminkan makna mendalam Gunung Yushan sebagai simbol asal-usul, perlindungan, dan kesucian dalam kebudayaan masyarakat adat, jauh sebelum orang luar memberinya nama 2.

Pergantian kekuasaan di balik nama: dari Gunung Morrison hingga Gunung Yushan

Pandangan orang luar melekatkan berbagai label politik dan budaya pada gunung ini. Sejak masa pemerintahan Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing pada 1685, nama “Yushan” telah tercatat dalam Kronik Prefektur Taiwan, yang menggambarkannya sebagai “gunung yang sangat tinggi, seluruh bagian atasnya diselimuti awan dan kabut……putih bagaikan perak”. Dalam literatur Dinasti Qing, Gunung Yushan juga pernah disebut “Gunung Batongguan” atau “Gunung Salju” karena salju yang terlihat dari kejauhan tampak seperti perak 3.

Pada pertengahan abad ke-19, para pelaut Barat menamainya “Gunung Morrison” (Mt. Morrison), mengikuti nama seorang kapten kapal dagang Inggris. Pada awal pemerintahan kolonial Jepang, pemerintah Jepang sempat mempertimbangkan nama lain, seperti “Chinnanzan” dan “Dainanzan”—nama terakhir mengambil makna ungkapan tentang umur panjang yang menyerupai Gunung Selatan. Pada akhirnya, Kaisar Meiji menetapkan nama “Niitakayama” karena tingginya sekitar 200 meter lebih daripada Gunung Fuji. Selama Perang Dunia II, gunung ini bahkan menjadi bagian dari sandi militer. Kode operasi serangan mendadak ke Pearl Harbor, “Daki Niitakayama 1208” atau “Daki Niitakayama 1208” (“Daki Niitakayama”—Daki Gunung Niitaka—pada 8 Desember), memanfaatkan makna simbolis puncak tertinggi kekaisaran tersebut 4.

📝 Catatan kurator: Sejarah penamaan sebuah gunung merupakan miniatur sejarah kolonisasi dan identitas diri Taiwan. Dari tempat perlindungan dalam mitologi, lambang kejayaan kekaisaran, hingga benteng spiritual Taiwan masa kini, Gunung Yushan selalu berada di sana; yang berubah hanyalah cara kita menengadah kepadanya.

Setelah perang, pemerintah Nasionalis mengembalikan namanya menjadi “Yushan”, yang merujuk pada penampilannya yang “berkilau dan murni bagaikan giok”. Penanda di puncaknya juga mengalami perubahan dramatis. Pada masa pemerintahan kolonial Jepang, pernah terdapat sisa kuil Shinto “Niitaka Jinja”, yang dibongkar setelah Taiwan kembali berada di bawah pemerintahan Republik Tiongkok (Taiwan). Kemudian, patung perunggu Yu Yu-jen pernah didirikan agar “ketinggiannya” mencapai 4.000 meter. Kini, sebuah monumen batu besar bertuliskan “Puncak Utama Gunung Yushan 3952,430 meter” beserta teks bahasa Inggris berdiri di sana, diam-diam memandang ke seluruh Taiwan 5.

Laboratorium ekologi vertikal: pulau hayati bagi spesies relik zaman es

Hal yang benar-benar menakjubkan dari Gunung Yushan tersembunyi di sepanjang jalur pendakiannya yang vertikal. Hanya dalam jarak horizontal beberapa kilometer, terdapat gradien iklim lengkap yang setara dengan perjalanan dari Taiwan hingga Siberia. Gunung Yushan menempati urutan pertama dalam Seratus Puncak Taiwan. Bersama Gunung Xueshan, Gunung Xiuguluan, Gunung Nanhu, dan Gunung Beidawu, gunung ini dijuluki “Lima Gunung Agung Taiwan”. Gugusan Gunung Yushan mencakup Puncak Utama, Puncak Timur (3.869 m dan berada di urutan pertama dalam Sepuluh Puncak Terjal), Puncak Barat, Puncak Selatan, Puncak Utara, dan sejumlah puncak lainnya. Lima puncak pertama relatif lebih mudah dicapai, sedangkan jalur menuju empat puncak terakhir lebih sulit. Gugusan ini membentuk inti pegunungan Taiwan dan dikelilingi bentang batuan unik, seperti Batu Fengwei. Gunung Yushan merupakan puncak tertinggi di kawasan Pasifik Barat selain Semenanjung Kamchatka dan memiliki prominensi topografis yang sangat tinggi 6.

Menurut data terbaru Taman Nasional Yushan, “pulau hayati bagi spesies relik zaman es” ini memiliki keanekaragaman ekologi yang luar biasa:

Kategori Jumlah dan karakteristik Spesies representatif
Mamalia Sekitar 65 spesies—74% mamalia darat Taiwan—termasuk 16 spesies satwa berukuran sedang dan besar Beruang hitam Taiwan, rusa sambar Taiwan, kambing-hutan Taiwan, babi hutan Taiwan, monyet kra Taiwan, kijang Formosa, amunin kuning
Burung Sekitar 191–233 spesies, termasuk 29 spesies endemik Taiwan Mikado pheasant, Taiwan alpine accentor, Taiwan white-browed bush robin
Kupu-kupu Sekitar 282–289 spesies, lebih dari separuh spesies kupu-kupu Taiwan Bentang “jalur kupu-kupu” di sekitar Tataka dan Batongguan
Amfibi dan reptil Salamander endemik Taiwan memiliki persebaran paling selatan di dunia Salamander Alishan
Tumbuhan Sebanyak 87% berupa hutan alami, meliputi vegetasi subtropis hingga kawasan dingin Juniper Yushan, rhododendron Yushan, edelweis Yushan, fir Taiwan, bambu Yushan

Hal yang patut diperhatikan secara khusus ialah DAS Sungai Lele merupakan kawasan dengan populasi beruang hitam Taiwan terpadat. Salamander Alishan yang endemik Taiwan juga menjadi populasi salamander dengan persebaran paling selatan di dunia. Gunung Yushan merupakan “pulau hayati bagi spesies relik zaman es”, dengan zona ekologi vertikal dari kawasan subtropis hingga kawasan dingin, sehingga memiliki nilai ilmiah yang sangat tinggi 7. Lingkungan di lereng kerikil pada ketinggian lebih dari 3.850 meter sangat keras, dengan angin kencang, suhu rendah, dan radiasi ultraviolet tinggi. Tumbuhan di kawasan ini, seperti edelweis Yushan, telah berevolusi dengan bulu tebal atau daun berlilin. Tumbuhan tersebut berakar di celah-celah batu dengan sangat lambat dan memperlihatkan daya hidup luar biasa tumbuhan pegunungan tinggi Taiwan.

Tantangan dan kontroversi: ketika gunung suci menjadi bagian dari “daftar impian hidup”

Sejarah pendakian Gunung Yushan merupakan perjalanan dari ekspedisi menuju kegiatan populer. Pada 1896, Letnan Angkatan Darat Jepang Yoshitora Nagano—atau Otosaku Saitō menurut catatan lain—melakukan pendakian pertama hingga puncak dengan memanfaatkan Jalur Kuno Batongguan. Pada 1898, warga Jerman Karl T. Stöpel menjadi orang Barat pertama yang mencapai puncak. Pada masa pemerintahan kolonial Jepang, para ilmuwan seperti Honda Seiroku, Torii Ryūzō, dan Mori Ushinosuke melakukan survei berulang kali. Setelah jalur dari Alishan menuju Gunung Yushan dibuka pada 1926, kegiatan pendakian berangsur-angsur menjadi populer 8. Seusai perang, Gunung Yushan menjadi simbol yang “wajib didaki sekali seumur hidup” bagi orang Taiwan, yang mencerminkan peralihan dari kejayaan kolonial menuju identitas lokal.

Kini, seiring penerapan kebijakan “pembukaan kawasan pegunungan dan hutan”, mencapai puncak Gunung Yushan telah menjadi bagian dari daftar “wajib didaki sekali seumur hidup” bagi banyak orang Taiwan. Namun, gelombang ini juga menimbulkan konsekuensi berat. Menurut statistik Kantor Pengelola Taman Nasional Yushan, sekitar satu juta kunjungan wisatawan tercatat di kawasan taman setiap tahun. Sampah yang dihasilkan di kawasan pegunungan mencapai 250 kilogram per tahun, belum termasuk kotoran manusia yang sulit ditangani 9.

  1. Tarik-menarik daya dukung lingkungan: Pondok Paiyun memiliki sekitar 92–116 tempat tidur, bergantung pada periode, dan peminat harus mengikuti undian. Pada musim ramai, tingkat keberhasilannya terkadang hanya 1–3%. Biayanya sekitar NT$480 per tempat tidur, sedangkan kantong tidur dapat disewa. Kondisi ini membuat banyak pendaki memilih melakukan pendakian pulang-pergi dalam sehari dari titik awal Jalur Tataka. Namun, pendakian satu hari menuntut kebugaran prima dan kemampuan beradaptasi dengan ketinggian. Pendaki yang tidak cukup bugar kerap mengalami kecelakaan di pegunungan; penyakit ketinggian serta terpeleset dan jatuh ke jurang menjadi penyebab tragedi yang paling sering terjadi di Gunung Yushan 10.
  2. Perubahan perilaku satwa liar: Di sekitar Tataka dan Pondok Paiyun, amunin kuning, Taiwan alpine accentor, bahkan monyet kra Taiwan telah menunjukkan perilaku “mengemis makanan” yang serius akibat paparan berkepanjangan terhadap sisa makanan manusia dan pemberian makan. Jika berlangsung terus, naluri alami mereka untuk mencari makan akan berangsur-angsur merosot. Konsumsi makanan manusia juga dapat merusak kesehatan mereka. Karena itu, Kantor Pengelola Taman Nasional Yushan melarang keras pemberian makan; pelanggar dapat didenda hingga NT$3.000 11.
  3. Prinsip Tanpa Jejak dan persoalan sampah serta kotoran: Kantor Pengelola Taman Nasional Yushan menerapkan secara ketat prinsip Tanpa Jejak (Leave No Trace, LNT), yang mewajibkan pendaki membawa turun seluruh sampah, kotoran, dan makanan manusia untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan. Para porter harus memanggul perbekalan ke atas gunung; para pendaki perlu menghargai kerja mereka dan bersama-sama menjaga kebersihan kawasan pegunungan 12.

📝 Catatan kurator: Kita membawa sampah ke atas gunung, tetapi membawa turun keliaran satwa liar. Mencintai gunung secara sejati berarti belajar menahan hasrat kita untuk “mendekat”.

Pandangan ke depan: bagaimana seharusnya kita menengadah kepada gunung ini?

Makna Gunung Yushan terletak pada keberadaannya yang senantiasa berdiri sebagai tulang punggung Taiwan. Gunung ini pernah menjadi benteng spiritual serta simbol penciptaan dan perlindungan bagi masyarakat adat. Gunung ini juga pernah menjadi mahkota kekaisaran. Kini, Gunung Yushan menjadi totem identitas Taiwan kontemporer, yang mewujudkan peralihan dari simbol kolonial menuju semangat lokal 13.

Ketika membicarakan “pendakian hingga puncak Gunung Yushan”, mungkin kita tidak semestinya hanya memperhatikan monumen batu bertuliskan 3.952,430 meter, ataupun angin kencang dan lereng kerikil di bagian jalur yang terbuka terhadap angin. Tantangan sebenarnya ialah apakah kita mampu belajar hidup berdampingan dengan ekosistem yang rapuh ini sembari mengejar pencapaian pribadi. Sebagaimana dianjurkan prinsip Tanpa Jejak (LNT): bawalah turun seluruh sampah, kotoran, dan makanan manusia, serta hargailah kerja keras para porter. Kunjungan terbaik tidak meninggalkan apa pun selain jejak kaki dan tidak membawa pulang apa pun selain kenangan 14.


Referensi

  1. Kampung halaman spiritual Taiwan: melintasi sejarah, menengadah ke Gunung Yushan — Taiwan Panorama: artikel khusus Taiwan Panorama
  2. Kajian Gunung Yushan: ekologi alam dan etika lingkungan — Makalah akademik Universitas Nasional Taitung: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
  3. Gunung Yushan - Wikipedia — Wikipedia: artikel Wikipedia
  4. Catatan sejarah dan kisah pendakian Gunung Yushan — Shanxing Yequ: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
  5. Taman Nasional Yushan dan konservasi ekologi — Vocus: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
  6. Puncak tertinggi Taiwan—Gunung Yushan - ArcGIS StoryMaps
  7. Ekologi - Barat Laut — Kantor Pengelola Taman Nasional Yushan: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
  8. Catatan sejarah dan kisah pendakian Gunung Yushan — Shanxing Yequ: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
  9. Satu juta orang mendaki Gunung Yushan setiap tahun dan menghasilkan 250 kilogram sampah — Public Television Service News Network: Public Television Service News Network
  10. Studi tentang lingkungan jalur Gugusan Gunung Yushan dan kecelakaan pendakian - Tesis magister Universitas Normal Nasional Taiwan
  11. Apakah berwisata ke taman nasional memengaruhi satwa? Pemantauan satwa tertabrak kendaraan dan pemberian makan di Tataka — WuoWuo: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
  12. Keselamatan pendakian dan etika lingkungan di Taman Nasional Yushan — Materi edukasi Pemerintah Kota Taipei: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
  13. Kampung halaman spiritual Taiwan: melintasi sejarah, menengadah ke Gunung Yushan — Taiwan Panorama: artikel khusus Taiwan Panorama
  14. Keselamatan pendakian dan etika lingkungan di Taman Nasional Yushan — Materi edukasi Pemerintah Kota Taipei: lihat isi pada tautan asli untuk perincian
Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
Gunung Yushan Seratus Puncak Taiwan Suku Bunun taman nasional pendakian gunung
Bagikan

Bacaan lanjutan

Anda mungkin juga ingin membaca

Alam

Ekosistem Hutan Taiwan

Sebuah perjalanan vertikal dari permukaan laut hingga puncak Gunung Yushan, melintasi spektrum hutan paling padat di bumi.

閱讀全文
Budaya

Keyakinan Agama di Taiwan: Imperium Iman yang Tumbuh dari Ketakutan

Pulau dengan kepadatan kuil tertinggi di dunia dan peringkat kedua di Asia untuk kebebasan beragama; dua keyakinan utama—Wangye dan Mazu—memiliki asal-usul sejarah yang berkaitan dengan wabah dan kematian. Dari migrasi militer abad ke-17 yang membawa patung dewa melintasi Selat Taiwan, hingga skor 94 dalam laporan kebebasan tahun 2025; dari pelarangan I-Kuan Tao pada 1953 hingga legalisasi pertama saat deregulasi 1987, hingga jalan berbeda yang ditempuh oleh empat sekte Buddha utama dan Gereja Presbiteran dalam hubungan agama-negara—keyakinan di Taiwan tidak hanya ada dalam kitab suci, tetapi dalam asap dupa di setiap sudut jalan.

閱讀全文
Seni

Arsitektur Taiwan

Dari rumah batu tulis hingga pencakar langit: perjalanan melintasi waktu arsitektur sebuah negara kepulauan

閱讀全文
Seni

Komik Taiwan

Dari Liu Hsing-chin dan Ao You-hsiang pada era kejayaan “Kerajaan Komik” tahun 1970-an, Chen Uen yang menaklukkan Jepang pada 1991 dan menjadi “Harta Karun Asia”, serta Tsai Chih-chung yang mengadaptasi filsafat klasik ke dalam komik melalui Zhuangzi Berkata, hingga Penghargaan Komik Emas pada 2010 dan CCC Creative Collection pada 2017—komik Taiwan telah melewati masa suram akibat gempuran manga Jepang dan kini sedang menemukan kembali suara orisinalnya.

閱讀全文