Kue Karoen: Dari Imagawayaki pada Masa Kolonial Jepang ke Roti Merah Ketan di Wan'an, Taiwan

2026: Kontroversi 'Kue Merah Ketan' Membuat Kebocoran Perdebatan Identitas Bahasa. Camilan mahal yang berasal dari Zaman Edo dan masa kolonial Jepang, bagaimana setelah berhasil mencoba merah ketan di Pingtung, Wan'an pada 1960-an, berubah dari 'Imagawayaki' menjadi kenangan makanan jalanan yang paling populer di Taiwan.

30 detik ringkasan:
Pada April 2026, sebuah perdebatan di platform Threads tentang apakah "kue merah ketan" merupakan istilah Tiongkok memicu konflik bahasa. Padahal, kue karoen ini berakar dari masa Jepang di Edo, selama kolonial Jepang menjadi camilan mahal yang hanya dapat dinikmati kelas menengah atas. Hingga pada 1960-an, percobaan merah ketan di Wan'an, Pingtung berhasil mengubahnya menjadi makanan jalanan yang paling disukai di jalanan Taiwan.

"Kue merah ketan adalah istilah Tiongkok, orang Taiwan seharusnya memanggilnya kue karoen!"

Pada April 2026, frasa ini memicu perdebatan sengit di Threads. Seorang pegawai kantor yang menyebut kue ini sebagai "kue merah ketan" mendapat koreksi dari rekan sekaligus perdebatan yang berujung pada perpecahan emosional bagi seorang rekan perempuan yang turun air mata1. Kontroversi tampaknya berpusat pada kekhawatiran politik bahasa, namun sebenarnya mencerminkan evolusi selama lebih dari seratus tahun, melintasi tiga generasi, kue karoen ini di Taiwan.

Secara resmi, kue ini memiliki nama yang lembut berbasis budaya Jepang: Imagawayaki (今川燒).

Dari Tanah Yankee ke Jalanan Taipei

Pada akhir abad ke-19, selama dominasi Jepang, camilan yang berasal dari sekitar Jembatan Imagawa di Tanah Yankee masuk ke Taiwan. Di masa itu, ini adalah "kue khas tinggi" yang pasti.

"Selama masa kolonial Jepang, Taiwan tidak memproduksi merah ketan secara lokal, sehingga seluruhnya harus diimpor dari luar negeri dengan harga sangat mahal," ujar seorang kurator yang mempelajari budaya makanan Taiwan. Di masa itu, orang Taiwan memandang kue berlapis merah ketan dengan tepuk lapisan lembut berwarna bulat berlapis perak, menamanya "Imagawayaki" atau "Kue Gendang" (太鼓燒).

📝 Catatan Kurator
Nama sebuah kue biasanya menandai posisinya saat pertama kali masuk ke tanah air.

1960: Revolusi "Perpaduan" Merah Ketan di Wan'an

Perubahan kue karoen dari "kue khas tinggi" menjadi "makanan jalanan" terjadi pada 1960-an di Wan'an, Pingtung.

Menurut rekaman Dinas Pertanian dan Pengolahan Hasil Tani Kecamatan Wan'an, penanaman merah ketan di Pingtung dimulai pada era ke-50 Masehi (1960-an). Varietas yang diimpor berasal dari Gunung Alishan di Chiayi, disebut "Varietas Kembali Lagi"2. Setelah warga Wan'an berhasil menanamnya secara percobaan di ladang, dalam tiga tahun merah ketan menjadi tanaman pendukung ekonomi pasca panen padi kedua di wilayah tersebut.

Pada tahun 1970 (Masehi ke-59), sebuah gerai kecil dibuka di dekat Sekolah Dasar Wan'an oleh seorang pengusaha bernama Huang Guan-lai yang mulai membuat camilan menggunakan merah ketan terbaik dari lokal3.

"Pelanggan membeli kue merah ketan dan langsung mengomentasikan 'Sempurna sekali!' (enak sekali)," kata pujian sederhana itu yang membuka legenda kue merah ketan Wan'an4. Gerai kecil Huang Guan-lai kemudian berkembang menjadi "Warung Kue Merah Ketan Huang", yang kini menjadi destinasi wajib bagi wisatawan, serta meneguhkan hubungan simbolik antara "Wan'an" dan kue merah ketan.

1980: Otomatisasi cetakan dan "Kehidupan" Karoen

Meskipun kue merah ketan Wan'an sudah populer, yang benar-benar membuatnya "mekar di seluruh jalanan Taiwan" adalah inovasi industri makanan di era 1980-an.

Pada awalnya, cetakan kue merah ketan mayoritasnya adalah piring besi yang dipahat manual, dapat memanggang 10 hingga 12 buah sekaligus dengan distribusi panas yang tidak merata. Pada 1980-an, produsen Taiwan mengembangkan cetakan otomatis berbentuk lingkaran yang dapat berputar, menyerupai roda besar—dari sana istilah "kue karoen" (車輪餅) mulai tersebar di wilayah metropolitan Utara5. Cetakan ini tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan lapisan pinggir yang renyah seperti kriuk, yang berbeda drastis dengan kue lapisan lembut Jepang "Imagawayaki" yang tradisional.

📝 Catatan Kurator
Inovasi teknologi seringkali menulis ulang bahasa. Saat cetakan berputar, ia bukan lagi sekadar beban merah ketan, melainkan "roda" yang berputar di mata penonton kota.

Kesalahpahaman Bahasa dan Kedalaman Budaya

Kembali ke kontroversi April 2026 ini. Penetran menganggap istilah "kue merah ketan" adalah istilah Tiongkok, berargumen bahwa ia secara "dilegalisasi" menyebut semua varian rasa. Namun, dari konteks historis, warga Wan'an sudah menyebutnya merah ketan lebih dari 50 tahun lalu—bukan istilah asing, melainkan bentuk kebanggaan terhadap industri lokal.

"Kami sudah menyebutnya merah ketan sejak kecil, ini tidak ada hubungannya dengan politik, melainkan dengan merah ketan di desa kami," jawab seorang warga Wan'an berusia 73 tahun secara terpesona di media sosial6.

Hari ini, kue karoen tidak lagi terbatas pada rasa merah ketan. Dari klasik krim, ubi, hingga rasa khas Taiwan seperti serbuk korek, susu boba, bahkan truf putih Prancis, kue ini menunjukkan toleransi tinggi terhadap variasi rasa. Dari sudut pandang identitas budaya, penelitian akademis telah mengidentifikasi perbedaan penamaan "merah ketan/kue karoen" sebagai contoh konkret dari aliran kekuasaan lintas wilayah dan perpindahan identitas7.

Dari "Imagawayaki" yang mahal pada masa kolonial Jepang, ke "kue merah ketan" di ladang Wan'an, hingga "kue karoen" di pinggir jalan, kue ini menggambar lengkung budaya yang unik selama seratus tahun di lidah orang Taiwan. Saat mengunyah isi panas itu, mungkin kita bisa sementara melepaskan tudingan nama, hanya menikmati rasa manis yang menembus waktu.

Bacaan Lanjutan

  • Makanan Jalanan Taiwan — Jelajahi asal-usul dan evolusi makanan jalanan di Taiwan.
  • Budaya Kue Taiwan — Dari ritual adat ke kue modern, lihat transformasi abadi kue di Taiwan.
  • Budaya Pasar Malam — Posisi kue karoen dan kue merah ketan di pasar malam Taiwan serta persaingan di antara mereka.

Referensi

  1. Matahari Terbit: Asal-usul Nama Kue Karoen, Kue Merah Ketan Bikin Kontroversi — Laporan tentang kontroversi nama kue merah ketan di platform sosial April 2026, termasuk riwayat sejarahnya.
  2. Serikat Pengolahan Hasil Tani Wan'an: Profil Industri Merah Ketan dan Sejarahnya — Rekam medis resmi tentang awal penanaman merah ketan, dari percobaan pada 1960-an hingga menjadi produk khas lokal.
  3. Pemain Baru: Asal Usul Warung Kue Merah Ketan Wan'an! 49 Tahun Beroperasional — Wawancara dengan keluarga Huang tentang warung pertama yang membuat kue merah ketan di Wan'an, termasuk cerita bisnis dan rasa khasnya sejak Masehi ke-59.
  4. Berita Lokal: Rasa untuk Desa—Merah Ketan di Wan'an — Wawancara mendalam dengan warga lokal tentang bagaimana kue merah ketan menjadi kenangan bersama dan tulang punggung industri di Wan'an.
  5. Jurnal Akademis: Perbedaan Rasa Kue Karoen dan Pancake dalam Budaya Berbeda — Oleh Prof. Chiu Li-chuan, 2013, meneliti perbedaan penamaan kue karoen di Taiwan, evolusi teknologi, serta metafora budaya.
  6. Threads: Merah Ketan adalah milik Taiwan atau Jepang? — Diskusi budaya di platform sosial, mencakup respons berbagai warga lokal tentang nama "merah ketan" dan kenangan masa lalu.
  7. Tesis Magister: Budaya Kue Merah Ketan dalam Bentuk—Kekuasaan Lintas Wilayah dan Perpindahan Identitas — Tesis Magister Fakultas Ilmu Sosial Humaniora, Taiwan, yang meneliti secara sistematis perpindahan identitas kue merah ketan di Taiwan serta fenomena globalisasi.
Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
Kue Karoen Kue Merah Ketan Wan'an Makanan Jalanan Taiwan Imagawayaki Budaya Makanan
Bagikan

Bacaan lanjutan

Anda mungkin juga ingin membaca

Kuliner

Telur Besi Ah Po: Dari 'Hotel Besar Kaki Laut' di Puncak Kapal, Menuju Kenangan Kolektif yang Tahan

Pada tahun 1983, sebuah laporan di 'Min Bao Daily News' tentang telur ungu hitam di Tamsui 'membuatnya terkenal dalam satu malam.' Makanan yang karena terus-diterpa angin laut menjadi keras dan keras ini, bukan sekadar inovasi kuliner, melainkan juga saksi penuh kemajuan Tamsui, serta kasus hukum merek yang mengungkap sejarah tentang Ah Po dan Yang Bi-yun.

閱讀全文
Kuliner

Nasi Bambu: Permainan Api dan Titik Nyala di Tengah Api Unggun, Bekal Para Pemburu

Nasi bambu bukan sekadar "masakan wadah", melainkan sebuah "pertarungan air dan api" yang presisi. Memanfaatkan sifat fisika air yang mendidih pada 100°C, tabung bambu yang mudah terbakar dapat bertahan dua jam di tengah api unggun tanpa berubah menjadi abu. Kearifan yang bermula dari budaya berburu ini kini menjadi representasi kuliner masyarakat asli Taiwan.

閱讀全文
Kuliner

Teh Susu Mutiara

Dalam sebuah rapat karyawan di Taichung pada 1987, satu tindakan spontan membuat segelas minuman menaklukkan dunia. Perdebatan tentang asal-usul dan politik budaya teh susu mutiara, serta polemik kesehatan di balik segelas minuman berkalori 500 kkal.

閱讀全文
Kuliner

Turkey Rice Chiayi: Kartu Identitas Kota dengan Satu Mangkuk yang Hanya Rp30.000

Setelah Perang Dunia II, tentara Amerika Serikat membawa turkey ke Chiayi. Seorang chef bernama Lin Tianshou mengiris daging turkey, menyiramnya dengan saus bumbu, lalu menutupnya di atas nasi putih. Tujuh dekade kemudian, mangkuk nasi tersebut menjadi juara pertama dalam daftar 10 makanan khas Taiwan yang dipilih oleh Kementerian Pertanian. Warga Chiayi bisa berdebat selama Tahun Baru tentang 'makanan mana yang paling enak', tetapi ada satu hal yang tidak pernah mereka debat: Turkey Rice adalah identitas Chiayi.

閱讀全文