Arsitektur Taiwan

Dari rumah batu tulis hingga pencakar langit: perjalanan melintasi waktu arsitektur sebuah negara kepulauan

Arsitektur Taiwan: Puisi Tiga Dimensi dari Persilangan Budaya

Ikhtisar 30 detik: Arsitektur Taiwan merupakan penampang lapisan geologis yang ditinggalkan oleh pertemuan berbagai peradaban. Dari kearifan pegunungan dalam rumah batu tulis suku Paiwan, bangunan bata merah raksasa karya Matsunosuke Moriyama pada masa pemerintahan Jepang (日治時期), hingga Wang Da-hong yang berbekal pendidikan Harvard meletakkan fondasi arsitektur modern Taiwan, dan Huang Sheng-yuan yang membangun fasilitas publik tanpa dinding di tengah persawahan Yilan pada masa kini—setiap zaman telah mengukir tata bahasa arsitekturnya sendiri di negara kepulauan ini. Biennale Arsitektur Venesia pernah memuji arsitektur Taiwan karena “mempertahankan kelokalan di tengah globalisasi”. Sifat persilangan budaya inilah yang memberi arsitektur Taiwan karakter khas di panggung dunia.

Selama 400 tahun, Taiwan telah menyaksikan pengetahuan arsitektur masyarakat adat (台灣原住民族歷史與正名運動), orang Belanda, orang Jepang, dan orang Han bertemu serta berpadu di sini. Rumah batu tulis, kuil, Istana Kepresidenan, dan Taipei 101 (台北101)—setiap bahasa arsitektur merupakan kalimat dari suatu zaman. Memahaminya berarti memahami riwayat negara kepulauan ini.

Rumah Batu Tulis: Ingatan Pegunungan, Potensi Dunia

Di pedalaman pegunungan Wutai, Kabupaten Pingtung, terdapat sebuah desa tua yang nyaris terlupakan bernama Kucapungane. Setelah masyarakat Rukai direlokasi pada 1977, rumah-rumah di sana tidak lagi dihuni, tetapi dinding batunya tetap berdiri. Dinding yang disusun dari batu tulis itu justru tampak semakin kukuh setelah bertahun-tahun diguyur hujan dan diselimuti lumut. Pada 2009, Kementerian Kebudayaan memasukkan Kucapungane ke dalam daftar situs potensial Warisan Dunia Taiwan. Dari 18 situs dalam daftar tersebut, Kucapungane merupakan salah satu dari hanya dua lokasi yang terpilih sebagai permukiman masyarakat adat; lokasi lainnya ialah kawasan sakral suku Tsou di Alishan. Pengakuan ini bukan sekadar perlindungan suatu tempat, melainkan sebuah pernyataan: rumah-rumah batu tanpa sekrup di pegunungan itu adalah warisan peradaban manusia.

Rumah batu tulis Kucapungane merupakan puncak pengetahuan arsitektur masyarakat Paiwan dan Rukai. Seluruh bangunan disusun dari batu tulis dengan teknik pasangan batu kering, tetapi mampu bertahan tegak selama seratus tahun tanpa goyah. Batu tulis di Pegunungan Tengah menjadi sumber bahan bangunan alami. Sifat batu yang hangat pada musim dingin dan sejuk pada musim panas menjaga kenyamanan suhu di dalam rumah sepanjang tahun, sedangkan atap miring memungkinkan air hujan pada musim panas Taiwan yang basah segera mengalir. Hal yang lebih penting ialah prinsip strukturnya: tumpang tindih lempeng batu menghasilkan penopang lentur yang memungkinkan seluruh bangunan bergoyang ringan ketika gempa tanpa runtuh. Inilah intuisi kuno yang baru kemudian dapat dipahami para insinyur modern melalui perhitungan matematis.

Perapian di dalam rumah adalah jantung keluarga. Para tetua menyelesaikan perselisihan di sana, sementara kaum muda mendengarkan kisah roh leluhur di tengah asap. Ukiran pada dinding bukanlah hiasan, melainkan sandi pewarisan keluarga: motif ular seratus langkah melambangkan perlindungan, motif kepala manusia menandai jasa dalam pertempuran, dan motif belah ketupat perempuan melambangkan kesuburan. Rumah kepala suku di permukiman Taromak, Taitung, dibangun pada 1920-an dan masih terpelihara dengan baik hingga kini. Penempatan setiap lempeng batunya memiliki aturan tersendiri, yang mencerminkan pengetahuan termodinamika hasil akumulasi praktik hidup selama ribuan tahun. Sebuah rumah batu tulis adalah silsilah yang disusun dengan batu.

💡 Tahukah Anda?
Rumah batu tulis Kucapungane menggunakan “teknik pasangan batu kering”—tanpa bahan perekat apa pun dan hanya mengandalkan bobot serta kaitan antarlempeng batu tulis untuk mempertahankan strukturnya. Setelah diuji, para insinyur modern menemukan bahwa teknik pasangan lentur ini justru lebih mampu menyerap energi gempa daripada mortar semen. Tanpa rumus perhitungan, masyarakat adat Taiwan telah menemukan melalui pengalaman sebuah bentuk awal konsep modern “isolasi seismik”.

Benteng San Domingo: Benteng dengan Empat Pemilik

Pada 1628, orang Spanyol membangun sebuah benteng kayu di dataran tinggi dekat muara Sungai Tamsui untuk menghadang orang Belanda yang mungkin bergerak ke selatan. Upaya itu tidak berhasil: pada 1642, tentara Perusahaan Hindia Timur Belanda menaklukkan benteng tersebut, membongkar struktur kayunya, lalu membangunnya kembali dengan bata merah dan kapur serta menamainya Fort Antonio. Bangunan yang kemudian disebut orang Taiwan sebagai “Benteng San Domingo” ini pun memulai perjalanan ganjil selama 350 tahun dengan empat kali pergantian penguasa.

Orang Belanda membangunnya dengan kukuh. Ketebalan dindingnya melampaui 1,5 meter, sedangkan sudut-sudut selekohnya diperhitungkan agar para penembak meriam dapat menjangkau medan tembak ke segala arah. Sistem selekoh (bastion system) merupakan teknologi arsitektur militer Eropa paling maju pada abad ke-17, dan Benteng San Domingo adalah satu-satunya contoh sistem tersebut di Taiwan. Setelah Koxinga mengusir orang Belanda, benteng ini tidak dihancurkan, tetapi dialihfungsikan. Seusai Dinasti Qing mengambil alih, tempat ini pernah digunakan untuk memenjarakan tahanan; moncong meriam Belanda mengarah ke laut di utara, sedangkan rantai besi Dinasti Qing mengikat orang-orang di negara kepulauan ini.

Pada 1867, Britania Raya memperoleh hak penggunaan melalui perjanjian sewa dan membangun sebuah kediaman resmi bergaya Victoria dari bata merah di sebelahnya untuk dijadikan konsulat. Langkah ini berkaitan langsung dengan Perjanjian Tientsin 1858: perdagangan teh dan kapur barus di Taiwan utara menggiurkan Britania Raya, dan setelah Pelabuhan Tamsui dibuka, negara itu membutuhkan pos diplomatik resmi. Konsul John Gibson mengawasi pembangunan kediaman tersebut. Dindingnya menggunakan bata Amoy, kayunya diimpor dari Asia Tenggara, dan rancangan arkadenya meniru arsitektur kolonial tropis di India Britania pada masa itu. Kosakata arsitektur yang melintasi tiga benua pun berakar di muara sungai di ujung utara Taiwan.

Ketika hubungan diplomatik antara Britania Raya dan Republik Tiongkok (Taiwan) terputus pada 1972, pemerintah Britania Raya mula-mula menyerahkan kunci Benteng San Domingo kepada Kedutaan Besar Australia untuk dikelola. Pemerintah Republik Tiongkok (Taiwan) baru mengambilnya kembali secara resmi pada 1980. Bangunan ini berturut-turut pernah dimiliki Spanyol, Belanda, Britania Raya, dan Taiwan. Jika Taiwan adalah tempat persilangan budaya, Benteng San Domingo merupakan bukti fisiknya yang paling nyata: setiap lapisan dinding bata mencatat pemilik, zaman, dan logika imperium yang berbeda.

Matsunosuke Moriyama: Legenda Arsitek Imperium di Taiwan

Pada 1907, seorang arsitek Jepang berusia 38 tahun tiba dengan kapal di Pelabuhan Keelung. Namanya Matsunosuke Moriyama. Ia berguru kepada Tatsuno Kingo, “bapak arsitektur Jepang”, dan membawa surat penugasan untuk merancang Kantor Gubernur-Jenderal Taiwan. Ia tidak mengetahui bahwa dirinya akan menetap selama 14 tahun di negara kepulauan ini ataupun meninggalkan lebih dari 20 bangunan yang terus membekaskan pengaruhnya pada cakrawala Taipei bahkan satu abad kemudian.

Istana Kepresidenan—ketika itu Kantor Gubernur-Jenderal Taiwan—adalah mahakaryanya. Pembangunan dimulai pada 1912 dan baru rampung tujuh tahun kemudian dengan biaya lebih dari 2,8 juta yen, setara kira-kira NT$5 miliar saat ini. Denah berbentuk seperti aksara "kembali" (回) membuat menara tengah setinggi 60 meter terlihat dari segala arah. Inilah bahasa arsitektur kolonial yang lazim: membuat kekuasaan tampak dan terasa hadir di mana-mana. Namun, kecemerlangan Moriyama terletak pada detailnya. Ia menambahkan arkade tropis pada bagian bawah bangunan agar sinar matahari tidak langsung menerpa koridor, menyesuaikannya dengan iklim subtropis Taiwan yang panas dan lembap. Di tangannya, klasisisme Eropa diolah menjadi versi yang sesuai dengan iklim selatan. “Estetika arsitektur negeri selatan” ini menjadi titik awal sesungguhnya bagi kosakata arsitektur modern Taiwan.

Kantor Prefektur Taichung, yang rampung pada 1934, merupakan perwujudan paling matang dari gagasan desain Moriyama pada periode akhirnya. Bangunan tersebut menerapkan pendekatan “penjajaran gaya Jepang dan Barat”: satu sisi berupa ruang perkantoran bergaya Barat, sedangkan sisi lainnya merupakan ruang pertemuan bergaya Jepang. Kedua gaya itu tidak berbenturan karena Moriyama tidak berupaya menghapus salah satunya. Ia membiarkan masing-masing mempertahankan tata bahasanya secara utuh dan hidup berdampingan di bawah satu atap. Ini adalah politik arsitektur sekaligus pratinjau awal dari watak budaya “persilangan yang hidup berdampingan” di Taiwan selama seratus tahun berikutnya.

Wang Da-hong: Bapak Arsitektur Modern Taiwan

Pada 1952, seorang arsitek yang baru pulang ke Taiwan dari Universitas Harvard membangun sebuah rumah untuk dirinya di Jalan Jianguo Selatan, Taipei. Rumah itu kecil dan hanya memiliki dua lantai, tetapi bahasa ruangnya sama sekali berbeda dari bangunan lain di Taipei pada masa tersebut: garis-garisnya bersih hingga nyaris terasa kejam, sedangkan cahaya yang menembus jendela berkisi kayu bukan dimaksudkan untuk memamerkan kemegahan, melainkan menciptakan ketenangan. Para tetangganya di Taiwan tidak terlalu memahami apa yang “dikatakan” rumah itu. Sejarah arsitektur kemudian menunjukkan bahwa bangunan tersebut merupakan rumah modern pertama di Taiwan dalam arti yang sesungguhnya.

Arsitek itu bernama Wang Da-hong. Ia lahir di Beijing pada 1917 dan merupakan putra Wang Ch’ung-hui, Menteri Luar Negeri Republik Tiongkok. Riwayat pendidikannya menyerupai versi ringkas sejarah pendidikan Timur dan Barat pada abad ke-20: belajar teknik di Universitas Cambridge, kemudian arsitektur di Universitas Harvard di bawah bimbingan Walter Gropius, pendiri Bauhaus dan maestro arsitektur modern. Dengan bekal tersebut, ia kembali ke Taiwan dan menerima sebuah penugasan penting yang penuh batasan: Balai Peringatan Sun Yat-sen. Pemberi tugas menginginkan atap besar bergaya istana tradisional yang megah, sementara masyarakat mengharapkan kesan agung dan abadi.

Rancangan pertama Wang Da-hong nyaris tidak memiliki unsur tradisional dan ditolak. Rancangan yang telah direvisi menambahkan bubungan atap melengkung ke atas pada struktur modern. Namun, lengkungan itu bukan tiruan, melainkan bentuk yang telah diabstraksikan ulang: orang dapat melihat bahwa bentuk tersebut “merujuk” pada tradisi, tetapi bukan salinan tradisi. Balai Peringatan Sun Yat-sen rampung pada 1972 dan menjadi salah satu tengaran terpenting di Taipei.

“Prinsip desain saya adalah: arsitektur harus mampu mencerminkan budaya sezamannya. Bukan meniru masa lalu, bukan menyalin Barat, melainkan tumbuh dari kehidupan dan tanah tempat kita berpijak saat ini.” —Wang Da-hong, dalam wawancara dengan majalah Taiwan Architect (1985)

📝 Catatan kurator
Wang Da-hong adalah sosok yang kurang dihargai. Di antara para arsitek sezamannya, sebagian menyalin istana Barat, sementara sebagian lain membangun struktur bata bertulang Taiwan dengan biaya semurah mungkin. Wang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih sulit: mencerna bentuk tradisional dengan bahasa modern. Atap melengkung Balai Peringatan Sun Yat-sen tampak “sangat Tionghoa”, tetapi jika proporsi garisnya diukur dengan cermat, skalanya sama sekali bukan skala Dinasti Tang ataupun Qing—itu adalah skala Wang Da-hong.

Wang Da-hong terus berkarya tanpa henti hingga wafat pada 2018 dalam usia 101 tahun. Pada 2017, rumah pribadinya di Jalan Jianguo Selatan dibangun kembali di samping Museum Seni Rupa Taipei. Bangunan aslinya telah hilang akibat pembangunan kembali kawasan perkotaan; rekonstruksi tersebut menjadi penghormatan sekaligus kompensasi. Ketika memasuki rumah kecil hasil rekonstruksi itu, orang dapat merasakan keyakinan yang dipegangnya seumur hidup: arsitektur bukanlah pameran kekuasaan, melainkan percakapan antara manusia dan ruang.

Arsitektur Kuil: Balairung Seni Rakyat

Untuk memahami kuil-kuil Taiwan, pertama-tama kita harus melupakan artefak dalam museum. Kuil bukan ruang pamer masa lalu; ia hidup. Pada pukul lima pagi, orang-orang telah membakar dupa di Kuil Longshan, Mangka. Pada hari raya kalender lunar, kerumunan di luar Kuil Lukang Tianhou, Changhua, dapat memenuhi seluruh jalan. Bangunan-bangunan ini menampung kebutuhan paling nyata dalam kehidupan sehari-hari: memohon, bersyukur, berduka, dan berdamai.

Kuil Longshan dibangun pada 1738 dan pada awalnya merupakan tempat para pendatang dari Fujian memuja Guanyin. Kuil itu hancur akibat topan pada 1867. Ketika dibangun kembali pada 1920-an, para perajin Taiwan mengambil keputusan berani: aula utama mempertahankan tata ruang tradisional Minnan, tetapi aula depan mengadopsi gevel dan ornamen bergaya Barok. Penjajaran kedua gaya tersebut bukan khayalan sesaat seorang perancang, melainkan cerminan nyata masyarakat Taiwan kala itu. Para perajin Taiwan pada masa pemerintahan Jepang bersentuhan dengan banyak gambar dari Eropa. Mereka tidak menganggap sesuatu yang “berasal dari luar” pasti buruk; jika berguna, hal itu dapat mereka terapkan. Atap kuil dipenuhi jiannian—hiasan tiga dimensi dari pecahan porselen yang direkatkan—dan tembikar Koji, yakni patung keramik berwarna yang dibakar pada suhu rendah. Setiap detail dibuat dengan tangan dan setiap adegan merujuk pada cerita yang hidup di tengah masyarakat. Nama para pemahat kayu dan pelukis mungkin tidak lagi diingat, tetapi keterampilan mereka tetap tinggal di atas atap dan terus berbicara dalam asap setiap upacara.

Kelompok ukiran kayu di Kuil Lukang Tianhou dijuluki “yang terbaik di Taiwan”. Bagian paling memukau di aula utama ialah langit-langit berkubahnya: ratusan potong kayu yang disambung dengan purus membentuk spiral dari pusat ke arah luar. Tanpa satu paku pun, susunannya membentuk langit-langit yang berputar seperti galaksi. Inilah akumulasi keterampilan seumur hidup para perajin, diwariskan dari tradisi pertukangan kayu wilayah Quanzhou dan Zhangzhou di Fujian, lalu menyeberangi laut ke Taiwan dan menumbuhkan coraknya sendiri di atas tanah estetika setempat. Kuil Kaiyuan di Tainan mewakili sistem lain: tradisi arsitektur warisan masa pemerintahan Koxinga di Taiwan. Tata letaknya lebih ketat dan sumbu utamanya lebih tegas, seakan-akan pandangan Konfusianisme mengenai tatanan ruang dipahat langsung pada lempeng batu di tanah. Dari Mangka ke Lukang hingga Tainan, ketiga kuil ini memiliki zaman dan bahasa perajinnya masing-masing. Namun, semuanya menyampaikan hal yang sama: kemampuan orang Taiwan untuk mewujudkan kepercayaan melalui arsitektur tidak pernah berhenti.

Taipei 101: Jawaban Taiwan Senilai NT$60 Miliar

Pada 1999, pembangunan dimulai di sebidang lahan di Kawasan Perencanaan Xinyi, Taipei. Arsitek C.Y. Lee menerima tugas untuk menjadikan bangunan tersebut “kartu nama internasional Taiwan pada abad ke-21”. Jawabannya ialah seruas bambu setinggi 508 meter: delapan ruas yang mengecil secara bertahap dan ditutup bentuk menyerupai bunga di puncaknya. Proporsi keseluruhannya sengaja menggemakan citra tradisional Tionghoa tentang “terus naik setahap demi setahap”. Namun, agar citra tersebut dapat berdiri nyata, sebuah persoalan kelangsungan harus diselesaikan lebih dahulu: zona gempa di Cekungan Taipei, ditambah musim topan setiap musim panas dan gugur, membuat para insinyur sulit tidur.

Pembangunannya dikerjakan oleh perusahaan patungan KTRT, yang terdiri atas Kumagai Gumi Taiwan, Hwa Hsiung Construction, Ret-Ser Engineering Agency, serta Daewoo Engineering & Construction dan Samsung C&T dari Korea Selatan. Proyek ini berlangsung selama lima tahun, dari dimulainya pembangunan pada 1999 hingga rampung pada 2004, dengan biaya akhir mencapai NT$60 miliar. Hal yang paling sering disebut para insinyur selama pengerjaan ialah penemuan struktur geologis yang lebih rumit daripada perkiraan ketika menggali ruang bawah tanah. Permukaan air tanah Cekungan Taipei tinggi dan lapisan aluvialnya tebal; setiap satu meter penggalian ke bawah menjadi perundingan dengan lapisan bumi.

Hal yang membuat bangunan ini benar-benar berdiri stabil ialah bola peredam yang dipasang di antara lantai 88 dan 92. Bola baja seberat 660 ton tersebut digantung pada empat rangkaian peredam hidraulis. Ketika angin kencang atau gempa membuat gedung bergoyang, bola baja berayun ke arah berlawanan untuk mengimbangi energi kinetik. Ini adalah peredam angin terbesar di dunia sekaligus bagian paling jujur dari bangunan tersebut: sistemnya tidak disembunyikan, tetapi dijadikan benda pameran di dalam gedung agar setiap pengunjung dapat melihat secara langsung kejujuran seberat 660 ton itu.

Ketika rampung pada 2004, Taipei 101 menjadi gedung tertinggi di dunia. Rekor tersebut bertahan hingga Burj Khalifa di Dubai melampauinya pada 2009. Namun, pada 2011 gedung ini meraih sertifikasi lain: LEED Platinum, peringkat bangunan hijau paling ketat di dunia. Sertifikasi ini mengharuskan bangunan memenuhi standar yang ketat dalam berbagai aspek, termasuk energi, sumber daya air, material, dan mutu lingkungan dalam ruangan—tantangan yang nyaris bertentangan dengan intuisi bagi sebuah pencakar langit perkantoran. Taipei 101 berhasil mencapainya dan hingga kini tetap menjadi salah satu dari sedikit bangunan sejenis di dunia yang mampu memadukan ketinggian dengan sertifikasi keberlanjutan.

Teater Nasional Taichung: Kelahiran 58 Dinding Lengkung

Pada 2009, Biro Pekerjaan Umum Kota Taichung menerima satu set gambar desain. Setelah gambar itu diletakkan di meja para insinyur, tidak seorang pun tahu cara membangunnya.

Desain tersebut berasal dari arsitek Jepang Toyo Ito. Ia merancang sebuah gedung opera untuk Taichung yang disebutnya “arsitektur gua”. Seluruh bangunannya terdiri atas 58 dinding lengkung tak beraturan. Tidak satu pun dindingnya tegak lurus dan tidak satu pun garis strukturnya lurus. Seluruh logika konstruksi konvensional tidak lagi berlaku: beton seperti ini tidak dapat dicor menggunakan cetakan standar, dan strukturnya tidak dapat diverifikasi dengan metode perhitungan biasa. Beberapa perusahaan konstruksi Taiwan yang pertama kali meninjau desain itu memilih tidak mengikuti tender. Dalam wawancara setelahnya, Toyo Ito mengatakan bahwa ia telah memperkirakan kesulitan pembangunan sejak tahap desain, tetapi proyek di Taichung membuatnya benar-benar memahami bobot konkret di balik kata “sulit”.

⚠️ Pandangan kontroversial
Biaya dan masa pembangunan Teater Nasional Taichung—NT$4,36 miliar dan tujuh tahun pengerjaan—menimbulkan cukup banyak kontroversi kala itu. Sebagian pengkritik berpendapat bahwa dana tersebut seharusnya digunakan untuk membangun lebih banyak ruang budaya berbasis komunitas, bukan sebuah bangunan elite yang hanya dapat dimasuki segelintir orang. Toyo Ito kemudian berkata, “Ketika merancangnya, saya tidak pernah menyangka para pekerja Taiwan benar-benar mampu membangunnya. Saya selalu mengira mereka pada akhirnya akan datang dan meminta saya berkompromi. Mereka tidak melakukannya.” Pernyataan ini merupakan pujian sekaligus ungkapan keterkejutan seorang arsitek.

Rekayasa struktur diserahkan kepada perusahaan konsultan Britania Raya, Arup, lembaga yang sama yang pernah membantu mengatasi tantangan teknis Gedung Opera Sydney dan Stadion Sarang Burung Beijing. Perusahaan Taiwan Lee Ming Construction akhirnya menerima pekerjaan pembangunan tersebut. Para insinyurnya menghabiskan dua tahun penuh untuk mengembangkan teknik “pengukuran tata letak 3D”: model tiga dimensi setiap dinding lengkung dibuat secara presisi dalam sistem BIM, kemudian model itu diterjemahkan menjadi koordinat konkret di lokasi pembangunan. Setiap titik konstruksi memiliki nilai presisinya sendiri. Ketika beton dicor, cetakan harus dibengkokkan bagian demi bagian mengikuti kelengkungan dinding. Setiap bagian berbeda dan harus dihitung secara terpisah.

Proyek tersebut dimulai pada 2009, berlangsung selama tujuh tahun, dan baru dibuka secara resmi pada 2016 dengan biaya NT$4,36 miliar. Kalangan arsitektur Taiwan kemudian menyebut proyek ini sebagai “evolusi industri konstruksi Taiwan”, bukan karena menghasilkan keuntungan—mengingat tingkat kerumitannya, proyek itu nyaris tidak menguntungkan—melainkan karena memaksa para insinyur Taiwan mempelajari bahasa teknis yang sama sekali baru. Masing-masing dari 58 dinding lengkung itu merupakan soal ujian, dan para pekerja Taiwan menjawab semuanya dengan benar.

Huang Sheng-yuan dan Fieldoffice: Pelopor Arsitektur Puitis

Huang Sheng-yuan, lahir pada 1963 dan meraih gelar magister arsitektur dari Universitas Yale, mengambil keputusan yang tidak dipahami banyak teman sekelasnya pada 1994: ia melepaskan kesempatan untuk terus tinggal di kota besar dan pindah ke Yilan di timur laut Taiwan, lalu mendirikan Fieldoffice Architects. Filosofinya sederhana: “Biarkan arsitektur menjadi bagian dari lanskap, bukan penguasa lanskap.”

Bangunan-bangunan Fieldoffice tidak menyerupai bangunan dalam pengertian biasa. Luodong Cultural Working House (2012) menggantikan ruang berbentuk kotak tertutup yang lazim pada pusat kebudayaan tradisional dengan kanopi raksasa, plaza semi-terbuka, dan galeri udara yang digantung. Melalui struktur terbuka dan jalur layang yang dapat dilalui pejalan kaki, bangunan tersebut mengaburkan batas antara “bagian dalam dan luar arsitektur” serta “kegiatan publik”. Jin-Mei Pedestrian Bridge (2003) mengubah jalur kereta api terbengkalai menjadi jalan setapak yang seolah mengapung di tengah sawah. Orang dapat berjalan setinggi hamparan padi, sementara sudut pandang berganti-ganti di antara ketinggian yang berbeda.

“Begitu seseorang berdiri di atas atap, ia mudah memperoleh pandangan baru.” —Huang Sheng-yuan, Fieldoffice Architects (wawancara ARTouch)

Ucapan itu bukan sekadar kelakar seorang arsitek, melainkan inti dari seluruh filosofi desainnya: arsitektur seharusnya mengubah posisi manusia dalam memandang dunia, bukan hanya menyediakan wadah untuk berlindung dari angin dan hujan.

Filosofi tersebut membuatnya memperoleh perhatian besar di dunia internasional. Biennale Arsitektur Venesia mengundangnya berpameran tiga kali, yakni pada 2006, 2010, dan 2018. Pada 2019, ia menerima Penghargaan Nasional untuk Seni dalam kategori arsitektur. Pada 2024, ia dianugerahi Takamasa Yoshizaka Award dari Jepang, penghargaan yang biasanya diberikan kepada arsitek dengan sumbangsih unik bagi praktik arsitektur di Asia. Bagi Fieldoffice, Yilan bukan sekadar tempat, tetapi juga metode. Selama tiga puluh tahun, Huang menyelesaikan lebih dari empat puluh proyek di sana, dan setiap proyek terjalin erat dengan lanskap serta masyarakat Yilan. Ia menolak proyek-proyek besar di Taipei dan memilih berakar di satu tempat. Pilihan itu sendiri merupakan sebuah pernyataan arsitektur.

Bangunan Hijau: Babak Baru Pembangunan Berkelanjutan

Gerakan bangunan hijau Taiwan membentuk sistem “Label Bangunan Hijau” sendiri pada 1999, menjadikannya salah satu negara paling awal di Asia yang mendorong sertifikasi bangunan hijau secara sistematis. Hingga 2024, lebih dari 8.000 bangunan telah memperoleh Label Bangunan Hijau Taiwan, mencakup sekolah, rumah sakit, pabrik, dan hunian. Sertifikasi LEED Platinum yang diraih Taipei 101 menunjukkan bahwa pencakar langit pun dapat menjadi jawaban bagi arsitektur berkelanjutan.

Green Magic School di Universitas Nasional Cheng Kung, yang rampung pada 2011, merupakan salah satu karya utama gelombang tersebut. Bangunan ini memanfaatkan arah angin dominan di Tainan untuk merancang jalur ventilasi alami. Panel surya di atap dan sistem penampungan air hujannya secara signifikan mengurangi kebutuhan energi dari luar. Bangunan tersebut menjadi salah satu dari sedikit bangunan di dunia yang memperoleh sertifikasi “bangunan nol karbon” dalam iklim subtropis.

Arsitektur tradisional masyarakat adat Taiwan juga mulai dipahami kembali dalam konteks tersebut. Rumah batu tulis tidak pernah menjadi “cara hidup kuno yang tidak ramah lingkungan”, tetapi merupakan sistem adaptasi terhadap iklim setempat yang sangat presisi. Dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti dan perancang mulai mendokumentasikan secara sistematis pengetahuan arsitektur masyarakat Paiwan, Rukai, Puyuma, dan kelompok lainnya. Mereka berupaya menerjemahkan intuisi termodinamika yang terkumpul selama ribuan tahun itu ke dalam kosakata arsitektur modern. Arsitek seperti Kris Yao dan Lin Yu-han juga mengeksplorasi titik temu antara kelokalan Taiwan dan kosakata global dalam praktik masing-masing: tidak meniru maestro asing dan tidak pula menyalin simbol tradisional secara mentah, tetapi berangkat dari tanah, iklim, dan cara hidup mereka sendiri untuk menemukan bahasa arsitektur yang hanya dapat tumbuh di Taiwan.

Gema Arsitektur Sebuah Negara Kepulauan

Dari titik tinggi mana pun di Taipei, orang dapat melihat tiga abad perjalanan arsitektur secara bersamaan: gedung pemerintahan bata merah dari masa pemerintahan Jepang, menara air apartemen dari 1970-an, perkantoran berdinding tirai kaca dari 1990-an, serta siluet ruas bambu setinggi 508 meter di kejauhan. Tumpang tindih waktu semacam ini terdapat di banyak kota di dunia, tetapi versi Taiwan sangat padat, sangat tidak beraturan, dan begitu menyerupai jejak yang tertinggal setelah sebuah negara kepulauan mencoba segala hal hanya dalam beberapa ratus tahun.

Matsunosuke Moriyama meninggalkan tata bahasa imperium, Wang Da-hong membawa pulang semangat arsitektur modern, Toyo Ito memaksa potensi para perajin Taiwan muncul melalui 58 dinding lengkung, sementara Huang Sheng-yuan mengingatkan kita dari tengah persawahan Yilan bahwa arsitektur bukan sekadar naungan, melainkan cara mengubah pandangan manusia terhadap dunia. Di pedalaman pegunungan Wutai, Pingtung, lempeng batu Kucapungane yang tidak lagi dihuni masih tetap berada di tempatnya. Perapiannya telah dingin, tetapi masyarakat setempat berkata bahwa roh para leluhur belum meninggalkan tempat itu.

Sejarah arsitektur Taiwan bukanlah garis lurus. Ia lebih menyerupai sejumlah sungai yang bertemu di tanah yang sama: terkadang berpadu, terkadang berbenturan, tetapi tidak satu pun pernah lenyap sepenuhnya. Setiap zaman membawa bahasa arsitektur baru, dan setiap bahasa meninggalkan detail pada sela bata, atap, serta dinding lengkung yang hanya terlihat ketika didekati. Aroma yang terasa ketika berdiri di hadapan arsitektur Taiwan merupakan jejak kehidupan yang benar-benar pernah dijalani, akumulasi hayat manusia selama ratusan tahun—bukan lanskap yang dibangun demi dipamerkan.

Bacaan lanjutan:

Referensi

Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
arsitektur budaya sejarah masyarakat adat masa pemerintahan Jepang
Bagikan

Bacaan lanjutan

Anda mungkin juga ingin membaca

Budaya

Keyakinan Agama di Taiwan: Imperium Iman yang Tumbuh dari Ketakutan

Pulau dengan kepadatan kuil tertinggi di dunia dan peringkat kedua di Asia untuk kebebasan beragama; dua keyakinan utama—Wangye dan Mazu—memiliki asal-usul sejarah yang berkaitan dengan wabah dan kematian. Dari migrasi militer abad ke-17 yang membawa patung dewa melintasi Selat Taiwan, hingga skor 94 dalam laporan kebebasan tahun 2025; dari pelarangan I-Kuan Tao pada 1953 hingga legalisasi pertama saat deregulasi 1987, hingga jalan berbeda yang ditempuh oleh empat sekte Buddha utama dan Gereja Presbiteran dalam hubungan agama-negara—keyakinan di Taiwan tidak hanya ada dalam kitab suci, tetapi dalam asap dupa di setiap sudut jalan.

閱讀全文
Tokoh

Koxinga

Putra dari bajak laut blasteran Tiongkok-Jepang, yang menghabiskan 16 tahun melawan Dinasti Qing, 9 bulan menyerang Taiwan, dan 5 bulan membangun negara sebelum meninggal mendadak pada usia 37 tahun—namanya hingga kini diperebutkan oleh empat rezim berbeda.

閱讀全文
Budaya

Simbol Fonetik Zhuyin: Kode Aksara yang Unik bagi Taiwan

Sistem transkripsi fonetik yang dalam kehidupan sehari-hari kini hanya digunakan di Taiwan—bagaimana Zhuyin berkembang dari rancangan penyederhanaan aksara kuno seabad lalu menjadi kode bersama bagi 23 juta orang

閱讀全文
Masyarakat

Spektrum Unifikasi-Independensi Taiwan: Empat Sikap dan Satu Status, Peta Identitas yang Dilukis Ulang Diam-diam Selama Tiga Puluh Tahun

Pada Mei 2026, dalam tujuh hari setelah pertemuan Xi-Trump, Lai Ching-te menegaskan kedaulatan Taiwan sebanyak dua kali, namun ia menggunakan tiga nama berbeda: 'Republik Tiongkok', 'Republik Tiongkok (Taiwan)', dan 'Taiwan'. Seorang presiden yang menyatukan ketiga nama tersebut ke dalam satu kalimat 'semuanya adalah negara berdaulat' merupakan mikrokosmos dari kontroversi unifikasi-independensi masa kini. Pada tahun 1994, 'selalu mempertahankan status quo' berada di angka 9,8%, dan pada 2023 melonjak menjadi 33,2%; selama tiga puluh tahun, Taiwan yang dideskripsikan dalam kerangka biner tidak lagi ada di sini.

閱讀全文