30 Detik Ringkasan
Zhu Yigui (朱一貴) adalah pemimpin pemberontak rakyat berskala besar pertama di Taiwan pada era Qing. Ia memanfaatkan gelar "keturunan Ming Besar" dan legenda peternakan bebeknya, dalam waktu hanya sedikit lebih dari sepuluh hari berhasil menaklukkan kota prefectur (府城) dan mendirikan diri sebagai raja. Meskipun kekuasaannya hanya bertahan dua bulan, peristiwa ini mengubah sepenuhnya strategi pertahanan dan pengelolaan kelompok etnis Qing terhadap Taiwan.
Zhu Yigui (1690–1722), orang Zhangzhou (漳州), Fujian, menyeberang ke Taiwan pada era Kangxi, bermukim di Neimen (內門), Kaohsiung (dahulu disebut Luohanmen 羅漢門). Ia hidup dari peternakan bebek, berkata ia mampu memerintah kawanan bebek berbaris, sehingga dihormati sebagai "Raja Bebek". Tahun 1721 (tahun ke-60 Kangxi), karena Gubernur Taiwan Wang Zhen (王珍) menagih pajak secara sewenang-wenang dan kejam, pejabat memaksa rakyat memberontak, Zhu Yigui bersama Du Junying (杜君英) dan lain-lain memulai pemberontakan. Karena Zhu Yigui bermarga Zhu, sama dengan keluarga kerajaan Ming, pasukan pemberontak mengibarkan panji "Ming Besar Bangkit Kembali", dengan cepat mengumpulkan puluhan ribu massa.
Kota Prefektur Jatuh dan Rezim Singkat
Pasukan pemberontak bergerak tak terhalangi, hanya dalam 13 hari berhasil menaklukkan Kota Prefektur Taiwan (kini Tainan), Zhu Yigui kemudian dipilih sebagai "Raja Restorasi" (中興王), menetapkan tahunan "Yonghe" (永和). Ia melantik pejabat dan menuntut anak buahnya memotong kumis (辮子), memakai kembali pakaian era Ming. Namun, di dalam pasukan pemberontak timbul kecurigaan karena perbedaan asal籍貫 (tempat asal) antara orang Min (閩) dan Yue (粵), Zhu Yigui (asli Zhangzhou) dan Du Junying (asli Chaozhou 潮州) pecah perpecahan internal, mengakibatkan kekuatan militer melemah.
Akhir Legenda
Pengadilan Qing kaget mendengar berita, mengirim Jenderal Lan Tingzhen (藍廷珍) dari Nanao (南澳) dan Admiral Shi Shibiao (施世驃) dari Angkatan Laut memimpin pasukan menyeberang laut menindak. Di bawah kekuatan api yang dahsyat dan strategi memecah belah kelompok etnis dari pasukan Qing, pasukan pemberontak mundur berkali-kali. Zhu Yigui akhirnya ditangkap di Gouweizhuang (溝尾莊, kini Taibao 太保, Chiayi 嘉義), dibawa ke Beijing dan dieksekusi dengan lingchi (凌遲), berusia 32 tahun.
Titik Balik Kebijakan Pengelolaan
Peristiwa Zhu Yigui adalah krisis pengelolaan terbesar bagi Qing setelah memiliki Taiwan. Sebelumnya, Qing menerapkan kebijakan "tidak membangun kota", khawatir kota jika dikuasai pasukan pemberontak akan sulit ditaklukkan kembali. Setelah peristiwa, Yushi (御史) yang diperintahkan menginspeksi Taiwan menyarankan membangun kota pagar kayu (木柵城) di Kota Prefektur, ini menjadi awal sistem pertahanan kota di Taiwan.
Perlawanan Politik Kelompok Etnis
Peristiwa ini juga menandai kompleksitas hubungan antar kelompok etnis di Taiwan. Awal pemberontak meski ada kerjasama Min-Yue, tapi perpecahan internal kemudian memicu konflik etnis yang serius. Qing dari situ memahami taktik "menggunakan Taiwan mengelola Taiwan" (以台治台), mulai memanfaatkan kekuatan orang Yue (客家) untuk menyeimbangkan pemberontakan orang Min (泉漳), hal ini menanam benih pertarungan golongan (分類械鬥) yang berkepanjangan di Taiwan kemudian.
Makna Kontemporer dan Kenangan Budaya
Dalam kepercayaan rakyat Taiwan, Zhu Yigui tidak dilupakan karena kegagalan. Wilayah Neimen hingga kini masih beredar banyak legenda tentang dia, bahkan ada kuil yang memojokannya sebagai dewa. Ia dipandang sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan dan pengejaran otonomi, citra "Raja Bebek"-nya juga sering muncul dalam drama dan karya sastra modern.
Referensi
- 維基百科:朱一貴
- 國立台灣歷史博物館:十件館藏品,帶你看東亞注目的鴨母王
- StoryStudio:省籍情結並非臺灣當代產物!從300年前的朱一貴事件中就開始
- 台灣海外網:一七二一年台灣民族英雄朱一貴大革命