Perkembangan FinTech di Taiwan

Seorang 'anak emas' Wall Street kembali ke Taiwan untuk mendirikan pembayaran seluler, namun sembilan tahun kemudian perusahaannya disita dan saldo rekeningnya kurang dari seribu yuan—ini bukan sekadar kisah satu orang, melainkan dekade perkembangan teknologi finansial di seluruh pulau yang terombang-ambing antara 'keterbukaan' dan 'hilangnya kendali'.

Ringkasan 30 Detik: Pada 10 Juli 2025, induk perusahaan dari "Jiekou Pay", platform pembayaran seluler terbesar di Taiwan, disita oleh pengadilan dengan saldo lima rekening bank yang terkumpul kurang dari seribu yuan. Sembilan tahun sebelumnya, saat pendirinya, Hu Yijia, kembali ke Taiwan dari Wall Street, ia menyatakan ingin membuat sistem pembayaran di Taiwan menjadi semudah di Tiongkok. Apa yang terjadi di antaranya? Sejak buku putih kebijakan tahun 2015, teknologi finansial (FinTech) Taiwan telah melewati fase sandbox regulasi, perang pembayaran seluler, tiga bank online murni dengan akumulasi kerugian 9 miliar yuan, hingga uji coba mata uang digital baru oleh Bank Sentral—setiap langkahnya adalah berjalan di atas tali tipis antara "membiarkan inovasi berlari" dan "jangan biarkan ia jatuh".

Anak Emas Wall Street Kembali

Pada tahun 2015, seorang pemuda berusia awal 30-an kembali ke Taiwan dari Tiongkok dan mendirikan Jiekou Pay.

Namanya adalah Hu Yijia (胡亦嘉), lulusan Departemen Matematika Terapan di National Yang Ming Chiao Tung University dengan gelar magister dari Columbia University. Ia pernah bekerja sebagai analis dana lindung nilai di Wall Street dengan gaji tahunan melebihi sepuluh juta TWD. Media menjulukinya sebagai "Anak Emas Wall Street". Namun, yang membuatnya kembali ke Taiwan bukanlah rasa rindu kampung halaman: ia menghabiskan beberapa tahun di Suzhou, Tiongkok, dan menyaksikan sendiri bagaimana Alipay dan WeChat Pay mengubah kebiasaan konsumsi miliaran orang, sehingga ia ingin membawa hal serupa ke Taiwan.1

Latar belakang keluarganya pun tidak sederhana: kakeknya, Hu Xin, adalah kepala pengawal Chiang Kai-shek, dan ayahnya, Hu Dingwu, pernah menjabat sebagai Ketua Direktur Pengembangan Keuangan dan Ketua Direksi Taipei 101. Hubungan di lingkaran keuangan sudah dimiliki oleh Hu Yijia sejak lahir.2

Jiekou Pay memperoleh lisensi pembayaran elektronik pada tahun 2018 dan resmi diluncurkan dengan strategi insentif tinggi untuk merebut pasar. Pada tahun 2020, Jiekou telah menjadi merek pembayaran seluler terbesar di Taiwan dengan lebih dari 6 juta pengguna. Hu Yijia secara terbuka menantang LINE Pay dan menyatakan akan membawa Jiekou melantai di bursa pada tahun 2024 dan 2025.3

Kemudian, keadaan mulai berbalik.

Hari di Mana 3,6 Miliar Lenyap

Pada tahun 2023, Ketua Direksi Taishan Enterprise, Zhan Jingchao, mengakuisisi 40% saham Jiekou Financial Technology senilai 3,6 miliar yuan. Namun, konflik internal mengenai hak manajemen kemudian meletus di dalam Taishan, dan tim baru yang mengambil alih dewan direksi mengajukan gugatan atas transaksi tersebut.

Pada Juli 2025, pengadilan memutuskan bahwa transaksi tersebut tidak sah, dan Jiekou FinTech harus mengembalikan 3,6 miliar yuan. Saat pelaksanaan penyitaan, petugas pengadilan menemukan satu hal: dari lima rekening bank milik Jiekou FinTech, total saldo yang tersisa kurang dari seribu yuan.4

Pada hari penyitaan, hampir 300 karyawan diberitahu secara mendadak untuk bekerja dari rumah, dan papan nama kantor dilepas. Hu Yijia kemudian didakwa oleh jaksa dengan tuduhan pengkhianatan khusus (special breach of trust), dibatasi keberangkatan ke luar negeri, bahkan sempat menghadapi pemantauan melalui gelang kaki elektronik.5

📝 Catatan Kurator
Dana pengguna Jiekou Pay sendiri tetap aman—berdasarkan Peraturan Manajemen Institusi Pembayaran Elektronik, semua dana yang didepositokan disimpan secara independen oleh bank wali dalam akun perwalian, terpisah sepenuhnya dari keuangan induk perusahaan. FSA (Financial Supervisory Authority) berulang kali menekankan poin ini. Namun, pemandangan "saldo rekening kurang dari seribu yuan" telah merusak basis kepercayaan terhadap startup finansial di Taiwan.

Ini bukan pertama kalinya Hu Yijia berkonfrontasi dengan otoritas pengawas. Sejak 2020, FSA telah menjatuhkan denda sebesar 3 juta yuan karena produk "Tuofubao" yang terlibat dalam tujuh pelanggaran: menyesatkan investor dan merusak tata kelola perusahaan; ia juga dicopot dari jabatan direktur di Jiekou Investment Trust. Responsnya saat itu adalah membalas kritik FSA melalui pernyataan publik.6

Kisah Jiekou adalah mikrokosmos dari dekade FinTech di Taiwan: kebijakan membuka pintu, tetapi mereka yang berlari terlalu cepat belum tentu sampai dengan selamat.

Aturan Permainan yang Diubah oleh Hukum

Kembali ke tahun 2015. Pada tahun itu, FSA menerbitkan Buku Putih Strategi Pengembangan Teknologi Finansial, menyatakan bahwa Taiwan akan merangkul FinTech. Dua tahun kemudian, Peraturan Eksperimen Inovasi Teknologi Finansial disahkan di Majelis Legislatif: ini adalah undang-undang khusus pertama di Asia yang menjadikan Taiwan sebagai salah satu dari sedikit negara dengan kerangka hukum "sandbox regulasi".7

Logika sandbox sangat sederhana: Anda memiliki ide inovasi keuangan, tetapi peraturan saat ini tidak mengizinkannya? Ajukan ke dalam sandbox untuk bereksperimen dalam cakupan terbatas. Jika berhasil, undang-undang akan direvisi agar menjadi legal; jika gagal, ia tidak akan dihukum.

Terdengar indah, namun pelaksanaannya lebih konservatif daripada yang dibayangkan.

Joinvest adalah salah satu contoh sukses yang lulus dari sandbox—perusahaan ini membangun platform pembelian kolektif obligasi, memungkinkan investor ritel untuk bergabung membeli obligasi yang awalnya hanya bisa dibeli oleh profesional. Setelah masuk ke sandbox pada tahun 2021, hasilnya diakui oleh FSA sebagai "memiliki inovasi dan membantu inklusi keuangan," yang secara langsung mendorong revisi Standar Pengaturan Pialang Saham.8

Namun, angka di sisi lain tidak begitu indah. Selama tujuh tahun sejak sandbox dimulai, jumlah kasus eksperimen yang disetujui tidak banyak, dan yang benar-benar "lulus" serta mendorong amandemen peraturan jauh lebih sedikit. Kritikus mengatakan bahwa ambang batas sandbox Taiwan terlalu tinggi, proses peninjauan terlalu lambat, dan periode eksperimen terlalu singkat, sehingga menjadi sistem yang "terlihat terbuka namun sebenarnya konservatif".9

"Sandbox regulasi Taiwan adalah salah satu kerangka hukum paling lengkap di dunia, tetapi masalahnya bukan pada kerangka kerja, melainkan pada kecepatan eksekusinya."
—Chambers and Partners, Fintech 2025: Taiwan9

Perang Pembayaran dalam Ponsel

Di Taiwan tahun 2026, saat masuk ke toko kelontong mana pun, mengeluarkan ponsel untuk membayar sudah lebih umum daripada mengeluarkan dompet.

Menurut statistik FSA, hingga akhir 2025, total pengguna akun pembayaran elektronik di seluruh Taiwan mencapai 34,45 juta transaksi—di pulau dengan populasi 23 juta jiwa, angka ini menunjukkan sebagian besar orang dewasa setidaknya memiliki satu akun pembayaran elektronik. Target pemerintah untuk "tingkat penetrasi pembayaran seluler sebesar 90% pada tahun 2025" secara dasar telah tercapai.10

Namun, "penetrasi" tidak berarti "unifikasi". Pasar pembayaran seluler di Taiwan adalah medan tempur yang kacau:

LINE Pay mendominasi posisi teratas berkat basis sosial LINE dengan lebih dari 8 juta pengguna. iPASS MONEY memanfaatkan infrastruktur tiket elektronik untuk mencapai peringkat pertama dalam jumlah pengguna. Jiekou Pay memiliki lebih dari 6 juta pengguna sebelum kontroversi meletus. Ditambah lagi dengan ChuanPay, ChuanYing Pay, EasyPass, Taiwan Pay, Apple Pay, dan Google Pay—konsumen rata-rata menginstal tiga atau empat aplikasi pembayaran di ponsel mereka, dan meja kasir dipenuhi stiker kode QR dari berbagai merek.11

💡 Tahukah Anda?
Salah satu alasan mengapa pembayaran seluler di Taiwan begitu terfragmentasi adalah karena sistem toko kelontong yang mengambil posisi masing-masing: 7-ELEVEN mempromosikan OPEN Wallet dan icash Pay, sementara FamilyMart mempromosikan ChuanYing Pay. Peta pembayaran dari dua raksasa ritel ini pada dasarnya menentukan aplikasi mana yang ada di saku penduduk Taiwan.

Ini sangat berbeda dengan struktur "duopoli" Alipay dan WeChat Pay di Tiongkok. Taiwan tidak memiliki satu Super App yang mendominasi segalanya, melainkan keberagaman—atau lebih jujurnya, fragmentasi oleh banyak pemain. Konsumen merasa dimudahkan (bisa menggesek ponsel di mana saja), tetapi efisiensi integrasi rendah karena setiap perusahaan membakar uang untuk memperebutkan pangsa pasar.

Tiga Bank, Biaya Belajar 9 Miliar

Pada tahun 2021, Taiwan menyambut tahun pertama bank online murni (pure internet banks).

LINE Bank, Rakuten Bank, dan Bank Masa Depan (Jianlai Bank) dibuka secara berturut-turut. Nilai jual mereka adalah "tidak perlu ke bank"—pembukaan akun daring, deposito bunga tinggi, dan layanan 24 jam, menggunakan teknologi untuk merancang ulang pengalaman perbankan tradisional.

Empat tahun kemudian, angka di atas kertas sangatlah kejam: ketiga bank tersebut mencatat akumulasi kerugian lebih dari 9 miliar yuan.12

Namun, kisah kerugian ini dapat dibaca dengan cara yang berbeda. Jumlah akun LINE Bank melonjak hingga 2,29 juta, dengan rasio simpanan mencapai 85,93%. Pada Desember 2025, LINE Bank mencapai keuntungan pra-pajak bulanan pertama dalam sejarah bank online murni di Taiwan—jumlahnya adalah 11 juta yuan; tidak banyak, tetapi memiliki signifikansi simbolis yang besar. LINE Bank menyatakan target untuk meraih keuntungan lebih dari 100 juta dalam setahun penuh pada 2026 dan menutup kerugian akumulasi dalam tiga setengah tahun.13

Bank Masa Depan memiliki 550.000 akun, sementara Rakuten Bank memiliki 320.000 akun; perbedaan skala sangat nyata, namun keduanya juga sedang mengurangi kerugian. Rakuten telah mendekati batas penambahan modal dan sedang merencanakan putaran pendanaan baru.14

📝 Caturan Kurator
Kesulitan bank online murni bukan hanya masalah unik Taiwan. Bank penantang di seluruh dunia—seperti Monzo di Inggris atau Nubank di Brasil—pada awalnya membakar uang untuk mendapatkan skala. Masalah sebenarnya adalah: pasar Taiwan hanya berpenduduk 23 juta orang, dan kepadatan bank tradisional adalah salah satu yang tertinggi di dunia (lebih dari satu cabang per kilometer persegi). Bank online murni harus memperebutkan kelompok pelanggan yang sama dengan 38 bank komersial lainnya. Biaya belajar sebesar 9 miliar yuan adalah harga untuk mendapatkan kesempatan bertahan hidup di pasar yang sesak ini.

Mata Uang Digital Hakka: Kehati-hatian Bank Sentral

Saat bank sentral di seluruh dunia mempelajari mata uang digital (CBDC), Bank Sentral Taiwan mengambil jalan yang sangat khas Taiwan.

Pada tahun 2025, Bank Sentral bekerja sama dengan Departemen Pengembangan Digital dan Asosiasi Budaya Hakka untuk meluncurkan uji coba "Mata Uang Digital Hakka"—bukan menerbitkan New Taiwan Dollar digital sekaligus, melainkan melakukan pengujian skala kecil di 11 kabupaten/kota dan 70 zona pengembangan budaya Hakka utama. Pengguna dapat menggunakan dompet anonim yang tidak dapat diidentifikasi untuk konsumsi hingga 30 Juni 2026.15

Sikap Gubernur Bank Sentral, Yang Jin-long, tetap berhati-hati. Ia menyatakan bahwa Bank Sentral akan mengadakan beberapa sesi dengar pendapat dan forum pada tahun 2025 untuk mengumpulkan masukan dari berbagai pihak, namun "tidak ada jadwal spesifik" untuk penerbitan resmi New Taiwan Dollar digital.16

Ritme "coba sedikit dulu, dengarkan opini baru bicara" ini sangat kontras dengan kemajuan besar-besaran Yuan Digital di Tiongkok. Bank Sentral Taiwan tidak ingin menjadi pionir; ia ingin menjadi pengikut yang tidak melakukan kesalahan.

Eksperimen Finansial di Sebuah Pulau

Sepuluh tahun telah berlalu.

Sejauh mana visi dari buku putih 2015—Taiwan menjadi pusat teknologi finansial Asia Pasifik—telah tercapai? Jawabannya adalah: sebagian tercapai, tetapi dengan cara yang berbeda dari yang dibayangkan saat itu.

Pembayaran seluler memang telah merata, namun bukan karena satu Super App, melainkan melalui persaingan belasan merek. Bank online murni memang hadir, tetapi ketiganya digabungkan masih belum mencapai 3,2 juta akun, yang merupakan proporsi sangat kecil dari total rekening bank di Taiwan. Sandbox regulasi memang beroperasi, namun tingkat kelulusan yang rendah membuat orang mempertanyakan apakah itu adalah batu loncatan atau sekadar etalase pajangan.

Badai 3,6 miliar milik Jiekou memperjelas satu hal: ketegangan terbesar dalam teknologi finansial di Taiwan bukanlah masalah teknis, melainkan masalah kepercayaan. Regulasi yang terlalu longgar akan menciptakan "Jiekou" berikutnya; regulasi yang terlalu ketat akan membuat inovasi mati di dalam sandbox.

Pada Desember 2025, LINE Bank melaporkan keuntungan bulanannya yang kecil namun signifikan bagi industri. Sementara Hu Yijia mengenakan gelang kaki elektronik, LINE Bank menghitung keuntungan pertama mereka. Di pulau yang sama, dalam industri yang sama, dua hasil yang sangat berbeda sedang terjadi secara bersamaan.

Bacaan Lanjutan:

Referensi

  1. SetN News: "Bukan Mengandalkan Ayah! Anak Emas Wall Street Masuk Industri Teknologi, Hu Yijia Mendirikan Aplikasi Pembayaran Seluler" — Laporan latar belakang kewirausahaan Hu Yijia kembali ke Taiwan dari Wall Street, termasuk latar belakang pendidikan di Columbia University dan pengalaman di dana lindung nilai.
  2. ETtoday: "Latar Belakang Keluarga yang Terkemuka! 'Pelajar Teladan' Hu Yijua Meninggalkan Gaji 20 Juta untuk Mendirikan Jiekou Pay" — Latar belakang keluarga Hu Yijia: Kakeknya Hu Xin (Kepala Pengawal), ayahnya Hu Dingwu (Ketua Direktur Pengembangan Keuangan, Ketua Direksi Taipei 101).
  3. Mirror Media: "Jiekou Pay Melancarkan Tantangan, Hu Yijia Bersekutu dengan Taishin untuk Menantang LINE" — Strategi pasar Jiekou Pay dalam menantang LINE Pay dan rencana IPO.
  4. Commercial Times: "3,6 Miliar yang Hilang—Hampir Menyebabkan Efek Domino 'Satu Rugi Semua Rugi'" — Transaksi 3,6 miliar antara Taishan dan Jiekou FinTech pada tahun 2025 dinyatakan tidak sah; saat penyitaan, lima rekening hanya memiliki kurang dari seribu yuan.
  5. ETtoday: "'Anak Emas Wall Street' Jiekou Terjerat Pengawasan Gelang Kaki Elektronik, Sengketa 3,6 Miliar Disita" — Detail dakwaan Hu Yijia atas pengkhianatan khusus, pembatasan perjalanan luar negeri, dan pemantauan gelang kaki elektronik.
  6. Thought Tank: "3,6 Miliar Jiekou yang Hilang: Dari Pengalaman Pembayaran Tiongkok ke 'Eksesionisme Startup'" — Meninjau kembali sejarah denda pelanggaran "Tuofubao" dan pengawasan ketat dari FSA.
  7. ICLG, Fintech Laws and Regulations Report 2025: Taiwan — Peraturan Eksperimen Inovasi Teknologi Finansial Taiwan mulai berlaku pada April 2018 sebagai undang-undang khusus fintech pertama di Asia.
  8. Global Legal Insights, Fintech Laws and Regulations 2025: Taiwan — Platform pembelian kolektif obligasi Joinvest lulus dari sandbox dan mendorong amandemen Standar Pengaturan Pialang Saham.
  9. Chambers and Partners, Fintech 2025: Taiwan — Trends and Developments — Evaluasi komunitas hukum internasional terhadap sandbox regulasi Taiwan yang "memiliki kerangka lengkap namun kecepatan eksekusi kurang".
  10. National Development Council: "Tingkat Penetrasi Pembayaran Seluler Mencapai Rekor Baru, Menuju Kehidupan Baru di Negara Digital" — Pemerintah menetapkan target penetrasi 90% pada tahun 2025; total pengguna akun pembayaran elektronik mencapai 34,45 juta transaksi.
  11. Storm Media: "Jiekou Kalah! Pembayaran Elektronik yang Paling Disukai Orang Taiwan adalah '7,08 Juta Orang Menggunakannya'" — Peringkat penggunaan iPASS MONEY, Jiekou Pay, dan ChuanPay; transaksi bulanan mencapai 3,9 miliar yuan.
  12. Storm Media: "Tiga Bank Online Murni di Taiwan 'Mengakumulasi Kerugian Lebih dari 9 Miliar Yuan'! FSA Mengungkap Penyebab Utama Kerugian" — Hingga akhir 2025, tiga bank online murni mencatat akumulasi kerugian 9,072 miliar yuan, termasuk data jumlah akun dan rasio simpanan.
  13. PChome News: "Bank Online Murni Berharap Keluar dari Periode Bakar Uang, LINE Bank Mencapai Keuntungan Bulanan 0,11 Juta" — LINE Bank mencatat keuntungan pra-pajak bulanan pertama sebesar 11 juta yuan pada Desember 2025, dengan target profit lebih dari 100 juta dalam setahun penuh di 2026.
  14. Commercial Times: "Jumlah Akun Melebihi 3 Juta Namun Masih Rugi 8,7 Miliar... Bank Online Murni Berjuang untuk Profit, Ini yang Dinamai Paling Cepat Bangkit" — Status jumlah akun dan rencana penambahan modal dari tiga bank online murni; LINE Bank disebut sebagai yang tercepat bangkit.
  15. BlockTempo: "Laporan Industri Mata Uang Kripto Taiwan Tahun 2025" — Bank Sentral bekerja sama dengan Asosiasi Budaya Hakka untuk uji coba "Mata Uang Digital Hakka" di 11 kabupaten/kota dan 70 zona budaya Hakka hingga Juni 2026.
  16. XREX: "'New Taiwan Dollar' Datang! Bank Sentral Mendorong Platform Prototipe CBDC" — Gubernur Bank Sentral Yang Jin-long menyatakan akan mengadakan dengar pendapat untuk mengumpulkan masukan, namun "tidak ada jadwal spesifik" untuk penerbitan resmi.
Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
Teknologi Finansial FinTech Perbankan Digital Pembayaran Seluler Sandbox Regulasi Bank Online Murni Pembayaran Elektronik
Bagikan