Sejarah Sastra Taiwan

Dari ditanya "Apakah Taiwan memiliki sastra?" hingga Yang Kui pertama kali memenangkan penghargaan di Jepang, dari pengurungan bahasa hingga kebangkitan suara-suara majemuk—sebuah epik empat ratus tahun tentang suara mencari tulisan, tulisan mencari rumah.

Ringkasan 30 detik: 1945, setelah Pemerintah Nasionalis menerima Taiwan, dunia sastra bergemuruh dengan pertanyaan menusuk: «Apakah Taiwan memiliki sastra?» Menusuk, karena saat itu Taiwan sudah memiliki tradisi sastra empat ratus tahun. 1934, Si Pengantar Koran (《送報伕》) karya Yang K'uei (楊逵) meraih hadiah kedua di Kritik Sastra (《文學評論》) Tokyo (hadiah pertama tidak diberikan), menjadi kali pertama penulis Taiwan diakui di dunia sastra Jepang. 1977, Perang Sastra Nativis (鄉土文學論戰) memicu badai politik terbesar di dunia sastra. 1987, Garis Besar Sejarah Sastra Taiwan (《台灣文學史綱》) karya Yeh Shih-t'ao (葉石濤) secara resmi membela nama baik sastra tanah ini — Taiwan tidak hanya memiliki sastra, tetapi juga simfoni empat ratus tahun suara-suara majemuk.

Oktober 1934, saat majalah Kritik Sastra (《文學評論》) di Tokyo menerbitkan cerita pendek Si Pengantar Koran (《送報伕》) karya Yang K'uei, para juri mungkin tak menyangka, pemuda dari koloni Taiwan ini sedang menciptakan sejarah.

《送報伕》 meraih hadiah kedua tahun itu, hadiah pertama tidak diberikan. Ini adalah pengakuan pertama bagi penulis Taiwan di ranah sastra Jepang, namun majalah itu tetap dilarang dijual di Taiwan. Fenomena ironis terlahir: penulis koloni menulis dalam bahasa penjajah, mendapat penghargaan di metropole kekaisaran, tapi rakyat tanah kelahirannya tak bisa membacanya.

Sebelas tahun kemudian, 1945, Taiwan dikembalikan ke Republik Tiongkok, Pemerintah Nasionalis mengambil alih Taiwan. Dunia sastra bergemuruh dengan pertanyaan lebih menusuk: «Apakah Taiwan memiliki sastra?»

Kesombongan pertanyaan itu melalaikan fakta mengejutkan — pada saat rezim baru mengajukan pertanyaan, pulau ini sudah melahirkan tradisi sastra empat ratus tahun. Dari mitos ciptaan suku Tayal hingga Gerakan Sastra Baru (新文學運動) masa pendudukan Jepang, dari bamboo branch songs (竹枝詞) era Qing hingga tulisan-tulisan pasca-perang yang baru tumbuh, sejarah sastra Taiwan sebenarnya adalah epik panjang tentang suara mencari tulisan, tulisan mencari rumah, dan rumah mencari identitas.

📝 Pandangan Kustos
Keunikan sastra Taiwan tidak terletak pada kelanjutan tradisi tunggal, melainkan pada inovasi fusca pasca-tabrakan multi-budaya. Setiap pergantian rezim, setiap peralihan bahasa, tak pernah menghapus tradisi sastra, justru melahirkan bentuk ekspresi lebih kaya.

Suara Pertama: Sastra Lisan Masyarakat Adat (Pra-sejarah–1624)

Sebelum karakter Han tiba di Taiwan, puisi sudah bergema di sini.

Bentuk sastra paling awal di Taiwan adalah sastra lisan berbagai suku bahasa Austronesia—mitos, legenda, nyanyian ritual, dan nyanyian kerja. Suara-suara yang diwariskan turun-temurun ini adalah garis keturunan maternal sastra Taiwan, serta harta karun sastra yang paling diremehkan.

Suku Tayal dengan Ciwas (Kisah Ciptaan) menceritakan bumi bermula dari satu benih, suku Bunun dengan Pasibutbut (Nyanyian Delapan Bagian) membuat suara bergema berlapis-lapis seperti lembah. Suku Paiwan dengan Kuljaljau (Legenda Menara Tua) mencatatkan epik kemuliaan kepala suku dan pahlawan, suku Amis dengan Malisian (Nyanyian Ritual Laut) baik sebagai pujian bagi Samudra Pasifik maupun sebagai renungan mendalam tentang siklus kehidupan dan kematian.

Sastra lisan ini memiliki ciri "puisi adalah kehidupan, kehidupan adalah puisi"—tidak ada batas antara penciptaan dan kehidupan sehari-hari, setiap nyanyian adalah kelahiran kembali sastra. Ia bukan sekadar sastra, melainkan juga wadah pengetahuan ekologi, spekulasi filsafat, dan kenangan sosial.

Lebih penting lagi, suara-suara kuno ini hingga kini masih hidup kembali di pena penulis masyarakat adat kontemporer, menjadi kekuatan vital dalam melawan kelupaan budaya.

Awal Mula Penulisan Lintas Budaya (1624–1895)

Masa Belanda dan Ming-Zheng: Kedatangan Tulisan

Pada tahun 1624, orang Belanda mendarat di Anping, Tainan, dan Taiwan resmi memasuki sejarah yang memiliki catatan tertulis. «Sastra Taiwan» yang paling awal sebenarnya adalah eksperimen lintas budaya — misionaris Belanda menggunakan ejaan Latin untuk mencatat bahasa masyarakat adat, menciptakan praktik «sastra dwibahasa» paling awal di Taiwan.

Seiring dengan peningkatan imigran Han, Shen Kuang-wen (1612–1688) dijuluki «Bapak Sastra Klasik Taiwan», karyanya Wen-kai Shih-wen Chi membuka aliran sastra bahasa Han di Taiwan. Pada tahun 1662, Shen Kuang-wen bersama Chi Chi-kuang dan sebelas orang lainnya mendirikan «Tung-yin She», berdedikasi untuk menebarkan sastra Han tradisional, membuka tradisi komunitas puisi di Taiwan.

Masa Dinasti Qing: Kemakmuran Komunitas Puisi dan Benih-Benih Pelokalan

Selama lebih dari dua ratus tahun pemerintahan Dinasti Qing di Taiwan, sastra Taiwan secara bertahap membentuk karakteristiknya sendiri. Fenomena paling penting adalah kemunculan «komunitas puisi» — bermula dari «Hsinchu Yin-she» pada tahun 1752, «Hai-tung Shu-yuan Yin-she» di Tainan, «Wen-kai Shih-she» di Changhua muncul seperti jamur setelah hujan.

Satu ciri khas sastra Taiwan masa Qing adalah kemakmuran «puisi zhuzhici (chu-chih tz'u)». Bentuk puisi yang bermula dari lagu-lagu rakyat ini menggunakan bahasa sehari-hari untuk menggambarkan adat istiadat dan keadaaan Taiwan, menjadi jendela penting untuk memahami kehidupan sosial Taiwan kuno. Puisi zhuzhici dalam Ch'ung-hsiu T'ai-wan Fu-chih karya Fan Hsien dengan hidup merekam berbagai macam kehidupan pasar Taiwan masa Qing.

Hingga akhir masa Qing, tingkat karya penyair Taiwan sudah setara dengan Tiongkok daratan, nama mereka dikenal luas hingga ke daratan. Penyair lokal terkenal seperti Chen Wei-ying, Chiu Feng-chia, Shih Shih-hao dan lain-lain, karya-karya mereka sudah memiliki nuansa tanah air yang kuat dan kesadaran kebangsaan.

Revolusi Bahasa Vernakuler dan Keajaiban Kolonial (1895–1945)

Setelah Perang Sino-Jepang Tahun 1895, Taiwan diserahkan ke Jepang, perubahan sejarah masif ini membawa peluang revolusioner bagi sastra Taiwan. Masa pendudukan Jepang adalah fase percikan sastra modern Taiwan, dan juga era paling revolusioner dalam sejarah sastra Taiwan.

Perang Argumen Sastra Baru vs Lama: Kemenangan Bahasa Vernakuler

Pada 1920-an, Taiwan dilanda perang argumen sastra baru vs lama yang sengit. Aliran sastra baru yang diwakili oleh Chang Wo-chun mendorong penghapusan bahasa wenyan (klasik) dan adopsi bahasa vernakuler (baihua) untuk penulisan kreatif; aliran tradisional mempertahankan status bahasa wenyan. Perang argumen ini bukan sekadar inovasi bentuk sastra, melainkan mewakili keinginan intelektual Taiwan untuk modernitas.

Lai Ho (1894–1943) dihormati sebagai „Bapak Sastra Baru Taiwan”. Ia memulai penulisan bahasa vernakuler di lingkungan bahasa yang sangat sulit. Menurut catatan Wang Shih-lang, proses penulisan Lai Ho sangat menyiksa: „Setiap kali menulis sebuah karya, ia selalu menulis dulu dalam bahasa wenyan, lalu menulis ulang berdasarkan draf wenyan itu ke bahasa vernakuler, kemudian menulis ulang lagi agar mendekati bahasa Taiwan.”

Tahun 1925, karya Lai Ho „Pengorbanan di Bawah Kesadaran” (〈覺悟下的犧牲〉) dan novel 1926 „Kegaduhan” (〈鬥鬧熱〉), secara resmi membuka era baru sastra modern Taiwan. Ia dengan nada bahasa vernakuler Tionghoa yang diasah dengan susah payah, ditambah warna Taiwan yang tak tergantikan, menggerakkan seluruh gelombang sastra baru Taiwan.

Terobosan Internasional Kolonial

Tahun 1934, karya Yang Kui „Sang Juru Antar Koran” (《送報伕》) memenangkan penghargaan di Tokyo, menciptakan milestone internasional pertama dalam sejarah sastra Taiwan. Makna pencapaian ini tidak hanya pada penghargaan itu sendiri, melainkan pada bukti bahwa penulis kolonial mampu bersaing setara dengan penulis Jepang di ranah sastra kekaisaran.

Pada 1930-an terpengaruh aliran kiri internasional, muncul kelompok penulis bernuansa sosialis di Taiwan. Karya Lu Ho-jo „Kereta Sapi” (《牛車》), Chang Wen-huan „Ayam Jantan yang Dikastrasi” (《閹雞》), dan karya Weng Nao, meski ditulis dalam bahasa Jepang, namun isinya berakar dalam tanah Taiwan, menampilkan ketahanan budaya penulis kolonial.

Trilogi „Layar Sendirian” (「孤帆三部曲」) paling penting di masa pendudukan Jepang——karya Wu Cho-liu: „Anak Yatim Asia” (《亞細亞的孤兒》), „Buah Tin” (《無花果》), „Forsythia Taiwan” (《台灣連翹》)——membuka aliran novel aliran besar (saga) Taiwan.

Patahan Bahasa dan Bayangan Politik (1945–1960)

Pasca berakhirnya kolonialisme Jepang di Taiwan (1945), dunia sastra menghadapi peralihan bahasa masif. Banyak penulis Taiwan masa kolonial Jepang harus belajar menulis ulang dalam bahasa Tionghoa, sementara penulis waishengren dari daratan Tiongkok harus beradaptasi di Taiwan.

Pukulan lebih parah datang dari penganiayaan politik. Pasca Peristiwa 28 Februari, penulis ternama Lü Ho-jo, Chang Wen-huan, Yang K'uei, Wang Pai-yüan mengalami penganiayaan politik berjenjang; setengahnya terpaksa berhenti menulis. Sastra Taiwan yang pesat berkembang di masa kolonial Jepang tiba-tiba tergelincir ke jurang kehampaan.

Fenomena "patahan" sastra ini dikaitkan sarjana dengan kebijakan bahasa; pandangan lain menilai akibat teror politik yang merusak iklim kreasi. Sebelum 1960-an, sastra Taiwan arti sempit stagnan; yang berkembang justru sastra anti-komunis dorongan pemerintah dan sastra nostalgia penulis waishengren.

⚠️ Pandangan Kontroversial
Soal "patahan" sastra pasca-perang Taiwan, akademisi berpendapat berbeda. Ada yang kaitkan ke kebijakan bahasa, ada yang lihat sebagai evolusi alami tradisi sastra; perdebatan berlanjut hingga kini.

Era Emas Modernisme dan Perang Argumen Sastra (1960–1987)

Kebangkitan Modernisme

Dekade 1960 menyaksikan era emas modernisme dalam sastra Taiwan. Seiring pertumbuhan ekonomi yang dibawa bantuan AS dan budaya bergaya AS, sastra modernisme muncul ke permukaan.

Kumpulan cerpen Taipei People karya Pai Hsien-yung adalah karya paling penting periode ini. Dengan prosa halus dan pengukiran karakter yang mendalam, ia menggambarkan dunia batin orang-orang luar provinsi di Taiwan. Karya-karya seperti 〈Yin Hsueh-yen yang Abadi〉 dan 〈Malam Terakhir Jin Ta-pan〉 tidak hanya mencapai tingkatan tinggi secara teknik, tetapi juga secara mendalam mencerminkan dampak perubahan era terhadap nasib individu.

Novel Family Catastrophe karya Wang Wen-hsing mengeksplorasi dilema spiritual manusia modern dengan teknik narasi unik dan eksperimen bahasa. Penulis-penulis seperti Chi Teng-sheng dan Chen Ying-chen juga menciptakan varian baru sastra modernisme pada periode ini.

Perang Argumen Sastra Nativis 1977: Badai Politik Terbesar dalam Dunia Sastra

Dekade 1970 menyaksikan Taiwan mengalami peristiwa politik besar seperti keluar dari PBB dan putusnya hubungan diplomatik AS–Tiongkok, memicu kebangkitan kesadaran lokal yang kuat. Tahun 1977 meletuslah perang argumen terbesar dan paling berdampak dalam sejarah sastra Taiwan, yaitu "Perang Argumen Sastra Nativis".

Yu Kwang-chung mempublikasikan esai 〈Lang Datang〉 di United Daily News, berpendapat bahwa sastra nativis Taiwan "sampai-sampai memiliki persamaan tersembunyi" dengan sastra pekerja-petani-tentara Tiongkok daratan, dan menyingkirkan nama-nama seperti Chen Ying-chen, Wei Tien-tsung, Wang Tuo, dll. Setelah artikel ini diterbitkan, "sekali waktu, topi besar yang disebut 'pisau pembunuh' (xue di zi) membuat gempar dunia sastra".

Isu inti perang argumen ini adalah bagaimana seharusnya sastra Taiwan diposisikan, serta hubungan antara sastra dan politik. Di balik perang argumen ini, terdapat bentrokan sengit antara tiga definisi "sastra nativis":

  1. Aliran Bahasa: Sastra yang ditulis dalam bahasa lokal (Bahasa Taiwan, Bahasa Hakka, bahasa orang asli)
  2. Aliran Lokal: Sastra yang bertema masyarakat Taiwan, adat istiadat dan keadaannya (terpisah dari Tiongkok)
  3. Aliran Kelas: Sastra yang bertema penderitaan kelas menengah-bawah Taiwan, bernuansa kiri

Huang Chun-ming dan Wang Chen-ho menjadi pelopor sastra nativis. Hari-hari Melihat Laut dan Rasa Apel karya Huang Chun-ming menggunakan bahasa sederhana untuk menggambarkan nasib tokoh-tokoh di pedesaan dan kota kecil Taiwan. Mobil Sapi sebagai Mahar karya Wang Chen-ho dengan gaya humor hitam menggambarkan ketidakmasukakalan dan kesedihan desa Taiwan dalam proses modernisasi.

Pemulihan Pluralistik Pascapembubaran Hukum Darurat (1987–sekarang)

Tonggak Penegakan Status Sastra

Pada tahun 1987, Taiwan mencabut hukum darurat, penciptaan sastra memperoleh ruang kebebasan yang belum pernah ada sebelumnya. Pada tahun yang sama, Garis Besar Sejarah Sastra Taiwan (《台灣文學史綱》) karya Yeh Shih-tao diterbitkan, menegaskan sejarah sastra Taiwan sebagai sebuah kategori sastra dan membangun sejarahnya sendiri.

Karya ini akhirnya menjawab pertanyaan tajam pada tahun 1945 — Taiwan tidak hanya memiliki sastra, tetapi juga memiliki tradisi sastra yang kaya dan mendalam.

Revitalisasi Sastra Masyarakat Adat

Di bawah suasana era multikultural, sastra masyarakat adat mulai mengalami revitalisasi. Pada tahun 1971, Chen Ying-hsiung dari etnis Paiwan menerbitkan Kepala Angin Puting Beliung: Kisah Masyarakat Adat (《旋風酋長:原住民的故事》), membuka jalan bagi penciptaan sastra modern masyarakat adat.

Pada tahun 1993, Sun Ta-chuan mendirikan "Majalah Budaya Shan Hai" (「山海文化雜誌社」), membuka ruang perkembangan sastra masyarakat adat yang ditulis dalam bahasa Han. Sun Ta-chuan, Walis Nokan, Syaman Rapongan, Badai, dan penulis masyarakat adat lainnya, menggunakan bentuk sastra modern untuk menafsirkan kembali tradisi budaya dan situasi modern masyarakat adat, menginjeksikan vitalitas baru ke dalam sastra Taiwan.

Menurut statistik Jaringan Sastra Taiwan (台灣文學網), saat ini tercatat sekitar 2.500 lebih data pribadi penulis dan data publikasi karya, di mana penulis masyarakat adat menempati proporsi penting.

Para penulis ini tidak sedang "merindukan masa lalu", melainkan "menefinisikan ulang masa kini" — mereka menggunakan teknik sastra kontemporer untuk menafsirkan kembali kebijaksanaan dan nilai-nilai suku, sehingga suara masyarakat adat kembali menjadi salah satu aliran utama sastra Taiwan setelah empat ratus tahun.

Generasi Baru dan Penciptaan Lintas Disiplin

Lo Yi-chun, Hu Shu-wen, Kan Yao-ming, Wu Ming-yi, Chen Hsueh, Yi Geyan, dan penulis generasi baru lainnya, dengan metode penciptaan dan perhatian tema yang segala baru, membuka kemungkinan baru bagi sastra Taiwan. Karya-karya mereka sering memiliki ciri lintas budaya dan lintas media, mencerminkan wajah baru sastra era globalisasi.

Sastra wanita menjadi kekuatan penting di dunia sastra Taiwan. Membunuh Suami (《殺夫》) karya Li Ang dengan tema berani dan tulisan tajam mengungkap penindasan terhadap perempuan oleh masyarakat patriarki tradisional. Liao Hui-ying dengan Biji Kolza (《油麻菜籽》), Su Wei-chen, Hsia Yu, dan penulis wanita lainnya memperkaya perspektif gender sastra Taiwan.

Sastra Bahasa Ibu dan Penulisan Ekologi

Perkembangan penting pascapembubaran hukum darurat mencakup kemakmuran sastra bahasa ibu, seperti karya sastra bahasa Taiwan oleh Hsiang Yang, Lin Yang-min, Huang Chin-lien, serta karya sastra bahasa Hakka oleh Tu Pan Fang-ko, Tseng Kuei-hai, Huang Heng-chiu.

Wu Ming-yi, Liu K-hsiang, Liao Hung-chi, dan penulis lainnya mengabdikan diri pada penulisan alam, memperhatikan isu lingkungan, menunjukkan renungan sastra Taiwan terhadap krisis ekologi. "Sastra ekologi" ini tidak hanya memperkaya cakupan tema sastra Taiwan, tetapi juga merefleksikan rasa tanggung jawab sosial penulis kontemporer.

Bentuk Baru Sastra di Era Digital

Memasuki abad ke-21, sastra Taiwan menghadapi tantangan ganda globalisasi dan digitalisasi. Sastra internet bangkit, Kontak Intim Pertama (《第一次親密接觸》) karya Pi-tzu Tsai membuka era sastra asli digital. Sastra genre seperti fiksi ilmiah, misteri, fantasi, juga mengalami perkembangan pesat.

Basis Data Katalog Karya Penulis Taiwan (台灣作家作品目錄資料庫) mencatat lebih dari seribu biografi singkat penulis serta ratusan ribu katalog karya, secara konkret menampilkan hasil kreasi dan publikasi penulis modern dan kontemporer Taiwan selama hampir satu abad.

Peta Suara Empat Ratus Tahun

Dari nyanyian lisan nenek moyang orang asli hingga karya digital penulis kontemporer, sejarah sastra Taiwan adalah sebuah epik tentang suara mencari tulisan, dan tulisan mencari rumah.

Periode Penulis Perwakilan Karya Penting Terobosan Inti
Tradisi Lisan Orang Asli Nyanyian Kuno Berbagai Suku 〈創世紀〉〈八部合音〉 Pandangan Sastra: Puisi Adalah Hidup
Modernisasi Masa Pendudukan Jepang Lai Ho, Yang Kui 〈鬥鬧熱〉、《送報伕》 Revolusi Bahasa Baku, Penghargaan Internasional
Modernisme Pai Hsien-yung, Wang Wen-hsing 《台北人》、《家變》 Teknik Modern, Pengalaman Perkotaan
Realisme Tanah Air Huang Chun-ming, Wang Chen-ho 《看海的日子》、《嫁妝一牛車》 Kepedulian Lokal, Perang Sastra
Mekar Beragam Kelompok Penulis Orang Asli, Generasi Baru Berbagai Etnis, Berbagai Genre Berdampingan Lintas Budaya, Kesadaran Lingkungan

Ciri khas sastra Taiwan tidak terletak pada gaya atau tema tunggal, melainkan pada inklusivitas dan keberagamannya. Ia memiliki keindahan puitis yang mistis dari sastra orang asli, serta kedalaman yang kaya dari sastra bahasa Han; memiliki temperamen modern dari sastra bahasa Jepang, serta aroma tanah dari sastra tanah air. Simfoni suara-suara berganda inilah yang menjadi kekayaan paling berharga sastra Taiwan.

Selama empat ratus tahun, suara-suara berbeda bertemu, bertabrakan, dan menyatu di tanah ini, akhirnya berkumpul menjadi sungai sastra yang mengalir tak henti. Setiap pergantian rezim dan perubahan bahasa tidak membuat tradisi sastra hilang, justru melahirkan bentuk ekspresi yang lebih kaya.

Skeptisisme yang bergema pada 1945, 「台灣有文學嗎?」, di hadapan sejarah sastra empat ratus tahun terlihat begitu pucat. Taiwan tidak hanya memiliki sastra, sastra Taiwan terus menuliskan cerita yang milik tanah dan rakyat ini. Dari nyanyian lisan pra-sejarah hingga karya daring era digital, setiap era menambahkan babak baru untuk epik panjang ini.

Seperti yang dikatakan penyair Yu Kwang-chung: 「台灣最美的是人情」, dan kehangatan manusia itu, mengalir abadi di antara baris-baris sastra Taiwan.


Bacaan Lanjutan

  • Taiwan Travelogue — Novel pseudo-terjemahan karya Yang Shuang-zi, karya sastra Taiwan pertama yang meraih National Book Award AS 2024 dan International Booker Prize 2026, mengandung "Seruan Seabad Sastra Taiwan" sebagaimana diucapkan Yang Shuang-zi dalam pidatonya
  • Sastra Masa Pendudukan Jepang — 1895-1945 era bahasa Jepang milik Lai Ho, Yang Kui, Lu Ho-jo, Chang Wen-huan
  • Sastra Taiwan Pasca-Perang — 1945-1987 42 tahun masa hukum darurat dari kehilangan suara, modernisme, perdebatan nativis, hingga kebangkitan perempuan
  • Sastra Taiwan Pasca-Hukum Darurat — 1987-2000 generasi peralihan dengan ledakan politik, gender, dan keberagaman bahasa ibu
  • Sastra Taiwan Kontemporer — Abad ke-21 internasionalisasi, Lin Yi-han, sastra digital
  • Lin Liang — Pendiri sastra anak Taiwan pasca-perang, 1948-2019 mendefinisikan "Menulis untuk Anak-Anak" sebagai pekerjaan serius melalui "Seni Bahasa Sederhana"

Referensi

Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
Sastra Sejarah Budaya Lai Ho Bai Xianyong Sastra Pribumi Sastra Tanah Air Debat Sastra
Bagikan

Bacaan lanjutan

Anda mungkin juga ingin membaca

Seni

Teater dan Seni Pertunjukan Taiwan: Bagaimana Pulau Kecil Mengguncang Panggung Dunia

Bagaimana seorang pemuda sastra berusia 26 tahun menciptakan grup tari kontemporer pertama berbahasa Tionghoa, dan bagaimana para aktor Beijing Opera membuat Shakespeare berbicara dalam bahasa Tionghoa

閱讀全文
Budaya

Berita Gereja Taiwan: Sebuah Koran yang Bertahan 140 Tahun, dan Hariketika Ia Ditebang

Pada tahun 1885, misioner agama Kristen British Barclay menerbitkan koran pertama di Taiwan di Tainan menggunakan Pe̍h-ōe-jī. Koran ini pernah dihentikan penerbitan oleh pemerintah Jepang, dilarang penggunaan bahasa ibunda oleh Partai Kuomintang, dan pada tahun 1987 dibekukan seluruhnya oleh pusat keamanan karena melaporkan Kejadian 228. Setiap kali ditekan, koran ini tetap bertahan. Pada tahun 2025, usianya mencapai 140 tahun, bagian sampingnya membahas AI generatif.

閱讀全文
Seni

Li Poetry Society: Sekelompok Orang yang Dipaksa Melupakan Bahasa Jepang, Menopang Majalah Puisi Tionghoa Terlama di Taiwan

Pada tahun 1958, seorang prajurit Jepang beretnis Taiwan berusia 36 tahun menerbitkan puisi Tionghoa pertama pasca-perang dengan nama pena "Huanfu", 11 tahun setelah ia berhenti menulis dalam bahasa Jepang. Enam tahun kemudian, ia bersama sebelas orang lainnya di ruang tamu di tengah Taiwan, mengubah pengalaman kehilangan bahasa generasi mereka menjadi sebuah perkumpulan puisi bernama "Li" — 60 tahun terbit tanpa henti, membawa puisi lokal dari pinggiran ke dalam buku teks SMP.

閱讀全文
Seni

Sastra Taiwan Pasca-Pembebasan Hukum Darurat

Tiga puluh delapan tahun penjara dibebaskan dalam semalam, penciptaan sastra mengalami ledakan besar——namun kebebasan tidak berarti tanpa batasan, tantangan baru diam-diam hadir

閱讀全文