Pada November 1946, Pusat Penelitian Malaria Chaozhou didirikan. Tsai Ing-wen (蔡英文), yang pada usia 15 tahun bekerja di Laboratorium Entomologi Institut Kedokteran Tropis Universitas Kekaisaran Taipei, kemudian menjadi tokoh inti dalam upaya pengendalian malaria Taiwan. Pada tanggal 4 Desember 1965, Taiwan memperoleh sertifikat eradikasi malaria dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).1 2 3
Ketiga tanggal ini mudah disusun menjadi biografi pahlawan: seorang pemuda bertemu guru yang baik, meneliti nyamuk, dan memimpin tim untuk memberantas penyakit. Namun, eradikasi malaria di Taiwan sebenarnya lebih mirip sebuah mesin institusional. Mesin itu menyatukan mikroskop, obat antimalaria, penyemprot DDT, kantor kesehatan daerah, militer, catatan kependudukan, dan rumah tangga warga, sebelum akhirnya mengubah suatu penyakit dari epidemi lokal menjadi risiko kesehatan publik yang harus dicegah impornya.1 4 5
Ringkasan 30 Detik: Taiwan pada masa pemerintahan Jepang pernah menjadi daerah endemik malaria, dan pasca-perang menghadapi restrukturisasi sistem medis serta kekurangan sumber daya. Pusat Penelitian Chaozhou tahun 1946 menghubungkan Yayasan Rockefeller, peneliti lokal Taiwan, dan jaringan pengendalian penyakit daerah; pada tahun 1948, ia direstrukturisasi menjadi Institut Malaria Provinsi Taiwan. Penyemprotan DDT di dalam ruangan, obat antimalaria, penelitian vektor nyamuk, dan pemantauan kasus berlangsung selama sekitar dua puluh tahun, dan Taiwan memperoleh sertifikasi eradikasi WHO pada tahun 1965. Kontras dari kisah ini adalah bahwa eradikasi tidak menghilangkan nyamuk, melainkan meninggalkan seperangkat kemampuan nasional yang harus terus dipantau.1 6 4
Taiwan Tidak Selalu Bebas Malaria
Malaria bukanlah penyakit yang tidak terkait dengan peta tropis Taiwan. Pameran sejarah dari Badan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan mencatat bahwa pada masa pemerintahan Jepang, jumlah kematian akibat malaria di Taiwan bisa mencapai ribuan orang setiap tahun. Arsip Memori Hak Asasi Manusia Nasional juga menunjukkan bahwa Kantor Pengendalian Malaria pernah didirikan oleh Pemerintahan Gubernur Taiwan untuk mendorong pemeriksaan, pengobatan, dan kebersihan lingkungan melalui sistem baojia (sistem komunal), yang sempat menekan wabah.1 4
Pengalaman masa pemerintahan Jepang ini tidak bisa disederhanakan menjadi "Jepang melakukannya dulu, lalu pasca-perang melanjutkan." Sistem baojia menyediakan jalur administratif untuk memasuki desa, tetapi juga menempatkan pengendalian penyakit di bawah struktur tata kelola kolonial. Setelah perang pecah, kina yang diproduksi Taiwan dikirim terlebih dahulu ke medan perang Nusantara, dan fasilitas medis dihancurkan oleh bom, menyebabkan lingkungan kesehatan memburuk, sehingga malaria menyebar kembali.4
Oleh karena itu, masalah pasca-perang bukan hanya kekurangan obat mujarab. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti Tsai Ing-wen (蔡姿儀) mengumpulkan sejarah pengendalian malaria dari tahun 1945 hingga 1965 menunjukkan bahwa pada saat itu, perlu menangani lembaga penelitian, pasokan obat, tenaga kesehatan, statistik kasus, dan kerja sama publik secara bersamaan. Upaya pencegahan kemudian menggabungkan dasar administratif yang ditinggalkan selama masa pemerintahan Jepang, teknologi kesehatan publik Barat, dan kondisi lingkungan lokal Taiwan untuk perlahan membentuk rencana yang berfungsi.5
📝 Catatan Kurator
Sejarah malaria di Taiwan bukanlah kisah di mana obat asing menekan tombol berhenti pada penyakit lokal. Yang benar-benar mengubah keadaan adalah seperangkat teknik yang diterjemahkan menjadi tindakan sehari-hari yang dapat dilakukan oleh petugas kesehatan daerah, peneliti, dan rumah tangga.
Chaozhou: Mengapa Pusat Penelitian Memilih Lokasi Ini?
Pada tahun 1946, lembaga eksperimen sanitasi pusat mengirim pakar untuk mengamati Taiwan, dan mereka menilai bahwa teknologi pengendalian malaria di sana tertinggal. Pada bulan November tahun yang sama, Hansung (華生) dari perwakilan Yayasan Rockefeller di Tiongkok dan peneliti Lembaga Eksperimen Sanitasi Pusat Xu Shiju (許世鉅) datang ke Taiwan untuk mencari basis yang dapat mengelola urusan pengendalian malaria secara terpusat di dekat lokasi tersebut. Akhirnya, pusat penelitian didirikan di Chaozhou, tempat dengan kepadatan penyakit tertinggi.4
Karena Chaozhou berada di lokasi dengan kepadatan penyakit tertinggi dan paling membutuhkan penelitian, pusat penelitian tidak bisa hanya melakukan eksperimen jauh dari daerah. Awalnya, pusat penelitian memanfaatkan ruang Kantor Pengendalian Malaria Chaozhou pada masa pemerintahan Jepang, kemudian pindah ke rumah milik Kuakao County yang disediakan oleh pemerintah daerah. Pada tahun 1947, pusat penelitian juga mendirikan stasiun penelitian lapangan di Shuili-keng dan Keelung, memperluas penelitian dari satu bangunan ke lingkungan geografis yang berbeda.4
Tugas pusat penelitian bukan hanya mengidentifikasi parasit malaria di atas kertas. Mereka meneliti ekologi nyamuk malaria, melatih staf pengendalian penyakit, menguji obat seperti Baraclone (白樂君) dan chloroquine, serta memperkenalkan metode penyemprotan residu DDT di dalam rumah, penanganan larva lapangan, dan flushing otomatis. Oleh karena itu, Chaozhou menjadi basis kesehatan publik yang menempatkan entomologi, uji coba obat, rekayasa sanitasi, dan pelatihan administratif dalam satu ruang.4
Pada 1 April 1948, Pusat Penelitian Malaria dilebur ke Departemen Kesehatan Pemerintah Provinsi Taiwan dan direstrukturisasi menjadi Institut Malaria Provinsi Taiwan. Kemudian, bantuan internasional dari Yayasan Rockefeller terputus karena situasi politik di Tiongkok yang menyebabkan penarikan personel dan peralatan. Namun, institut tersebut tidak menghilang; Asosiasi Pemulihan Pedesaan Tiongkok memberikan subsidi mulai tahun 1949 untuk melanjutkan tugas pengendalian malaria.4
Perubahan ini mengubah cara atribusi hasil. Hasil kesehatan publik Taiwan tidak bisa hanya ditulis sebagai "keberhasilan bantuan AS," dan juga tidak bisa ditulis sebaliknya sebagai "penyelesaian lokal." Dana eksternal membawa instrumen, obat-obatan, pelatihan, dan standar internasional, sementara lembaga lokal mengubah sumber daya ini menjadi pekerjaan yang dapat melintasi desa, rumah tangga, dan perubahan musim. Tanpa salah satu dari keduanya, pusat penelitian mungkin hanya akan menyisakan sejarah bantuan yang singkat.4 5
Tsai Ing-wen Belajar Mengetik Dulu, Bukan Memberantas Malaria
Tsai Ing-wen lahir di Dadaochang pada tahun 1927. Pada usia 15 tahun, karena kebutuhan ekonomi keluarga, ia direkomendasikan untuk bekerja di Laboratorium Entomologi Institut Kedokteran Tropis Universitas Kekaisaran Taipei, terutama bertanggung jawab atas pengetikan dan pemrosesan dokumen bahasa Inggris. Teknologi Panorama mencatat bahwa atasannya, Profesor Damori Nansaburo, memintanya berhenti mengetik saat ada tamu untuk fokus mendengarkan diskusi penelitian.2 3
Pemandangan ini lebih menunjukkan titik awalnya daripada "remaja jenius." Ia tidak menerima pelatihan akademis yang lengkap terlebih dahulu, melainkan mendengar diskusi tentang klasifikasi nyamuk, penyakit tropis, dan pengendalian penyakit di sebelah kantornya, lalu berlatih mengamati mikroskop. Atasan sementara Moriyama Tadakumi memintanya mengidentifikasi sampel larva nyamuk malaria; hasil sepuluh slide pertama dan kedua semuanya benar. Setelah itu, saat mengambil sampel kolam, ia mengidentifikasi nyamuk Aedes (nyamuk demam berdarah), yang membuatnya semakin yakin untuk mendedikasikan hidupnya pada penelitian serangga.3 7
Kisah Tsai Ing-wen memiliki satu aspek yang mudah diabaikan. Ia kemudian dijuluki "Dokter Nyamuk," bukan karena ia berada di pusat sistem penelitian sejak awal, tetapi karena seorang pemuda yang awalnya hanya bertugas mengetik bahasa Inggris secara perlahan memperoleh kualifikasi penelitian melalui mendengarkan, berlatih, mengambil sampel, dan membandingkan berulang kali. Ini adalah kisah kemampuan individu, dan juga kisah bagaimana sistem terkadang memungkinkan orang-orang di posisi pinggiran mendekati inti pengetahuan.2 3
Setelah masuk ke Institut Malaria Provinsi Taiwan, ia melakukan pekerjaan lapangan di seluruh Taiwan, berpartisipasi dalam eradikasi malaria, dan meneliti ensefalitis Jepang, demam berdarah, dan penyakit tungau. Pada tahun 1958, ia melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Tropis dan Kesehatan di London dengan dana WHO, mempelajari teknik analisis sensitivitas insektisida terhadap nyamuk. Spesialisasi ini kemudian tidak hanya digunakan untuk mengidentifikasi nyamuk, tetapi juga untuk menentukan apakah metode pengendalian masih efektif.1 3 7
📝 Catatan Kurator
Hal yang paling patut diingat dari Tsai Ing-wen bukanlah berapa banyak jenis nyamuk yang ia temukan untuk Taiwan, melainkan kemampuannya mengubah "melihat seekor nyamuk" menjadi "mengetahui bagaimana sebuah komunitas harus melakukan pencegahan."
Kekuatan DDT, Datang dari Kemampuannya Masuk ke Setiap Rumah
Bagaimana Pengendalian Penyakit Menjadi Ritme Lokal
Bagian yang paling sulit dalam pengendalian malaria seringkali bukan pada distribusi obat sekali jalan, tetapi pada membuat pekerjaan itu terjadi berulang kali sesuai dengan kondisi musiman dan geografis. Para peneliti harus tahu kapan musim hujan dimulai, petugas kesehatan harus mengingat desa di mana kasus muncul, tim penyemprotan harus kembali untuk mengonfirmasi cakupan rumah tangga yang sama, sementara penduduk lokal harus menerima pemeriksaan, pengobatan, dan sosialisasi kebersihan dalam kehidupan sehari-hari. Pekerjaan ini tidak memiliki satu gambar tunggal yang dapat mewakili seluruh hasil; ia bergantung pada banyak orang melakukan hal kecil secara cukup lama.
Nilai yang diberikan oleh Pusat Penelitian Chaozhou adalah mengubah tindakan-tindakan terpisah ini menjadi proses yang dapat diajarkan, dibandingkan, dan dilacak. Sampel serangga dapat dikirim ke laboratorium, kasus dapat dimasukkan ke dalam tabel statistik, uji coba obat dapat diumpan balikkan ke lapangan, dan penyemprotan rumah tangga juga dapat dilakukan oleh personel terlatih. Ketika kasus di suatu desa menurun, para peneliti tidak bisa langsung menyatakan keberhasilan, karena penurunan tersebut mungkin terkait dengan musim, migrasi penduduk, atau diagnosis yang kurang memadai. Rencana eradikasi harus memisahkan "tidak melihat kasus" dari "benar-benar tidak ada penularan lokal."
Ini juga menjelaskan mengapa pekerjaan pengendalian penyakit menghasilkan sekelompok teknisi yang akrab dengan daerah setempat. Mereka tahu jalan mana yang sulit dilalui setelah hujan, jenis dinding rumah apa yang tidak mudah menahan pestisida, dan penduduk desa mana yang perlu dijelaskan menggunakan bahasa atau cara yang berbeda. Rencana resmi menyediakan standar, sementara pekerja lokal melengkapi perbedaan lingkungan, sehingga eradikasi memiliki kesempatan untuk berubah dari target di atas kertas menjadi ritme yang dapat dilaksanakan setiap hari.

Gambar: Foto bersejarah penggunaan penyemprotan DDT terhadap nyamuk oleh National Malaria Eradication Program pada tahun 1958. Gambar berasal dari Centers for Disease Control and Prevention AS, domain publik. Foto ini bukan rekaman lapangan Taiwan, tetapi digunakan untuk mengilustrasikan bentuk kerja teknologi pengendalian malaria internasional saat itu. Halaman arsip gambar: 8
Salah satu alat kunci dalam pengendalian malaria pasca-perang di Taiwan adalah DDT. Badan Pengendalian Penyakit mencatat bahwa rencana pencegahan dilakukan melalui koordinasi antara unit kesehatan kabupaten/kota, militer nasional, dan warga untuk melakukan pengendalian kimia skala besar di dalam ruangan. Ini bukan menyemprot lahan yang tidak terlihat dari kejauhan, melainkan membawa petugas pengendalian penyakit ke rumah tangga, meninggalkan pestisida di dinding yang dapat bekerja secara berkelanjutan.1
Metode ini efektif karena menghubungkan kebiasaan vektor nyamuk dengan struktur tempat tinggal. Basis penelitian Chaozhou mengonfirmasi bahwa nyamuk malaria kecil adalah vektor utama dan cenderung hidup di dalam ruangan. Oleh karena itu, dinding rumah menjadi titik intervensi pengendalian penyakit, dan rumah tangga menjadi ruang yang dapat diukur, ditangani, dan diperiksa oleh kebijakan kesehatan nasional.1 4

Gambar: Foto jarak dekat nyamuk malaria Anopheles albimanus. Gambar berasal dari Public Health Image Library Centers for Disease Control and Prevention AS, domain publik. Halaman arsip gambar: 9
Namun, efektif tidak berarti tanpa harga. DDT melambangkan kepercayaan kesehatan publik pada pengendalian kimia pada saat itu, dan juga melibatkan rumah tangga dalam tindakan kolektif yang harus patuh. Penelitian menunjukkan bahwa pencegahan pasca-perang tidak hanya mengandalkan paksaan hukum, tetapi juga menggunakan propaganda, pendidikan, dan komunikasi lunak untuk meningkatkan partisipasi. Sisi lain dari pernyataan ini adalah bahwa pemerintah harus tahu siapa tinggal di mana, rumah mana yang telah disemprot, dan di mana masih ada kasus agar pengendalian dapat mencapai cakupan.5
Oleh karena itu, eradikasi malaria adalah rekayasa medis, sekaligus rekayasa tata kelola. Ia mengubah vektor nyamuk dari serangga dalam lingkungan alami menjadi objek publik yang perlu diklasifikasikan, dipantau, diperkirakan, dan ditangani. Bagi orang pada saat itu, ini mungkin hanya penyemprotan pestisida. Bagi sistem, ini adalah latihan menghubungkan ruang keluarga dengan jaringan statistik dan kesehatan nasional.1 5
Tahun 1965: Dua Cara Penulisan Tanggal Eradikasi
Daftar sertifikasi bebas malaria WHO mencantumkan Taiwan sebagai daerah yang disertifikasi pada November 1965. Pameran sejarah Badan Pengendalian Penyakit Taiwan mencatat bahwa Taiwan memperoleh sertifikat eradikasi malaria dari WHO pada tanggal 4 Desember 1965. Kedua tanggal tersebut bukanlah kesalahan yang bisa dipilih sembarangan dalam artikel, melainkan dua jenis waktu sistem: "bulan sertifikasi di daftar internasional" dan "tanggal penerbitan sertifikat."1 10
Pencapaian ini biasanya ditulis sebagai "Taiwan menjadi daerah pertama di dunia yang bebas malaria." Kementerian Luar Negeri dan artikel dari Universitas Sinitic menggunakan pernyataan ini, menempatkannya dalam konteks kesehatan nasional, pembangunan sosial, dan perkembangan ekonomi. Bagi Taiwan pasca-perang, eradikasi malaria memang berarti terbentuknya kemampuan kesehatan publik jangka panjang dan lintas departemen.2 11 10
Namun, "eradikasi" tidak berarti Taiwan tidak memiliki nyamuk lagi, juga tidak berarti semua pekerjaan terkait malaria telah selesai. Data Kementerian Kesehatan pada tahun 2015 menunjukkan bahwa nyamuk Aedes masih dapat ditemukan di Taiwan, dengan rata-rata sekitar 10 hingga 30 kasus impor per tahun. Oleh karena itu, Badan Pengendalian Penyakit terus melakukan survei vektor, pengujian kasus impor, pelacakan pengobatan pasien, dan cadangan obat antimalaria.1 6
📝 Catatan Kurator
"Eradikasi" paling mudah disalahartikan sebagai sebuah titik akhir. Bagi kesehatan publik, ia lebih seperti ambang batas: setelah melewatinya, masyarakat memiliki kelonggaran untuk mengalihkan energi dari pemusnahan total menjadi pencegahan kambuh.
Institut Chaozhou Juga dalam Bayangan Teror Putih
Sejarah Institut Malaria tidak dapat diisolasi sebagai sejarah ilmiah yang murni cerah. Arsip Memori Hak Asasi Manusia Nasional mencatat bahwa pada tahun 1948, cabang Chaozhou menggunakan Wude Hall Chaozhou yang direnovasi pasca-perang sebagai ruang kantor; setelah penggabungan markas besar dan cabang pada tahun 1952, tempat ini menjadi pusat rencana eradikasi malaria Taiwan. Pada tahun 1969, markas besar pindah ke Nangang, Taipei, dan bangunan asli kemudian dialokasikan untuk digunakan oleh Sekolah Menengah Atas Chaozhou.4
Dokumen memori hak asasi manusia yang sama mencatat bahwa Ye Shengji (葉盛吉) ditangkap oleh tentara di cabang Chaozhou pada 29 Mei 1950, kemudian diadili dan dieksekusi dengan tembakan pada November tahun yang sama. Ye Shengji awalnya adalah dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kekaisaran Taipei, dan pernah mengunjungi cabang Chaozhou untuk mengamati penyemprotan DDT dan pengambilan sampel nyamuk malaria, serta meninggalkan kesan positif terhadap peralatan penelitian di sana.4
Tumpang tindih ini bukan berarti pengendalian malaria sama dengan Teror Putih, juga bukan upaya menggunakan kasus politik untuk menyangkal pekerjaan kesehatan publik. Ini mengingatkan kita bahwa lembaga penelitian tidak pernah berada dalam ruang hampa politik. Cabang Chaozhou bisa menjadi tempat para peneliti muda melihat instrumen Amerika dan mempelajari ilmu vektor, sekaligus tempat aparat keamanan negara menangkap orang. Menempatkan kedua memori ini pada peta yang sama mencegah "modernisasi" ditulis sebagai foto di dalam ruangan tanpa bayangan.4
📝 Catatan Kurator
Sebuah institut mungkin membuat seseorang melihat nyamuk di bawah mikroskop, tetapi juga bisa membuat seseorang melihat tentara di luar pintu. Sejarah kesehatan publik Taiwan penting bukan karena ia dapat dimasukkan ke dalam narasi kemajuan murni, tetapi karena ia harus dibaca bersama dengan kekuasaan negara pada masa itu.
Setelah Eradikasi, Taiwan Membawa Pengalaman Keluar Negeri
Sejarah malaria Taiwan tidak berhenti pada tahun 1965. Tsai Ing-wen kemudian memasuki Institut Kedokteran Angkatan Laut AS dan terus melakukan penelitian entomologi medis, serta berpartisipasi dalam upaya pengendalian malaria di Bolivia dan São Tomé dan Príncipe. Data dari Universitas Sinitic dan Kementerian Luar Negeri mencatat bahwa setelah tahun 2003, ia terlibat dalam rencana pengendalian malaria São Tomé pada usia lanjut, menjadikan pengalaman eradikasi lokal Taiwan sebagai bagian dari diplomasi kesehatan publik.2 11
Dokumen resmi menggunakan angka yang berbeda untuk prevalensi di São Tomé. Artikel Kementerian Luar Negeri mencatat bahwa prevalensi turun dari 50% pada tahun 2003 menjadi 4% pada tahun 2012, dan 1,01% pada tahun 2015. Teknologi Panorama menggunakan metrik statistik rencana lain yang menggambarkan tingkat infeksi turun dari 40% menjadi di bawah 1%. Angka-angka ini tidak dapat digabungkan menjadi kurva penurunan yang akurat; artikel hanya bisa mencantumkan apa yang dikatakan oleh sumber masing-masing.3 11
Perbedaan ini justru sangat bermakna. Pengendalian malaria bukanlah mesin yang dapat direplikasi secara utuh tanpa meninggalkan daerah asalnya. Vektor nyamuk, rumah tangga, curah hujan, akses medis, pasokan obat, dan kemampuan administratif semuanya berbeda. Yang diekspor Taiwan bukan hanya metode penyemprotan, tetapi juga penelitian, pelatihan, pemantauan, dan cara menerjemahkan teknik menjadi pekerjaan lokal.1 3 11
Tanggung Jawab yang Ditinggalkan oleh Seekor Nyamuk: Pemantauan Setelah Eradikasi
Aspek eradikasi malaria Taiwan yang paling layak dibaca ulang adalah karena ia mencakup tiga skala sekaligus. Skala pertama adalah skala individu Tsai Ing-wen dalam mengidentifikasi larva di depan mikroskop. Skala kedua adalah skala institusional dari Institut Chaozhou, unit kesehatan daerah, dan petugas pengendalian penyakit yang melewati rumah tangga. Skala ketiga adalah skala antarnegara yang dibentuk oleh sertifikasi WHO, bantuan internasional, dan diplomasi kesehatan publik. Tidak ada satu pun skala yang dapat menjelaskan hasil tahun 1965 secara mandiri.1 2 4 5
Ia juga meninggalkan tiga dimensi waktu. Kantor pengendalian masa pemerintahan Jepang memberikan latar belakang administratif dan sanitasi; bantuan AS dan pusat penelitian pasca-perang membawa pengetahuan, obat, dan peralatan; sementara sistem kesehatan setelah eradikasi menganggap "tidak ada kasus lokal" sebagai status yang harus dipertahankan secara berkelanjutan. Ini bukanlah garis lurus dari keterbelakangan menuju kemajuan, melainkan serangkaian pekerjaan yang terus direstrukturisasi, disambung, dan diperbaiki.6 4 5
Hari ini, pembahasan malaria paling sering hanya menyisakan satu kalimat: "Taiwan telah bebas malaria." Tetapi jika kalimat itu tidak terhubung dengan basis penelitian Chaozhou pada tahun 1946, pengambilan sampel lapangan Tsai Ing-wen, DDT di dinding rumah tangga, dua tanggal pada tahun 1965, dan keberadaan nyamuk Aedes setelah eradikasi, maka sebuah proyek institusional akan tertekan menjadi lencana.1 3 6 10
Taiwan pernah membangun kemampuan untuk menekan penyakit hingga tidak terlihat, namun juga mampu mengidentifikasinya sebelum kembali. Kemampuan ini lebih mendekati makna sejati dari eradikasi daripada sekadar "hilangnya nyamuk." Kemampuan ini memiliki jejak bantuan asing, tangan peneliti lokal, kekuatan tata kelola negara, dan intervensi era otoriter terhadap tubuh dan ruang. Poin yang harus dipertahankan bukanlah kata "keajaiban," melainkan bagaimana kemampuan itu terbentuk, dan mengapa ia harus terus diperiksa.11 6 4
📝 Catatan Kurator
Objek terakhir yang ditinggalkan oleh eradikasi malaria bukanlah sertifikat, melainkan tabung penangkap nyamuk yang belum disimpan. Ia mengingatkan kita bahwa kemenangan kesehatan publik yang paling andal tidak pernah adalah mengumumkan akhir dari sesuatu, tetapi mengetahui ke mana harus memeriksa lagi besok.
Referensi
Bacaan Lanjutan
Jika ingin melanjutkan membaca sejarah ini, Anda dapat mengikuti tiga jalur. Jalur pertama adalah basis Chaozhou dan entomologi medis Taiwan, melacak bagaimana pusat penelitian bertransisi dari lembaga bantuan asing menjadi unit pengendalian penyakit pemerintah provinsi Taiwan. Jalur kedua adalah tata kelola negara, membandingkan penyemprotan DDT di rumah tangga, pemantauan kasus, dan manajemen tubuh selama periode Teror Putih. Jalur ketiga adalah kesehatan internasional, mulai dari sertifikasi WHO hingga rencana pengendalian malaria São Tomé dan Príncipe, mengamati bagaimana sebuah pulau menerjemahkan pengalaman lokal menjadi kerja sama lintas negara.
- Badan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, 〈【Area Pameran Lantai 3-1】Rekapitulasi dan Koleksi Gambar Eradikasi Malaria Taiwan di Berbagai Periode〉, https://www.cdc.gov.tw/Category/Page/O9l2HgL0at_mk17ww7PVzA↩2345678910111213
- Universitas Guru Nasional Taiwan, 〈Mengenang Kontribusi Tsai Ing-wen, Bapak Anti-Malaria Taiwan, oleh Alumni dan Mahasiswa〉, https://pr.ntnu.edu.tw/ntnunews/index.php?mode=data&id=20622↩23456
- Teknologi Panorama, Cai Kunxian, 〈Master Anti-Malaria—Dr. Tsai Ing-wen〉, https://scitechvista.nat.gov.tw/Article/C000003/detail?ID=cb8cec5a-00d7-4f77-82c0-126474650c83↩2345678
- Arsip Memori Hak Asasi Manusia Nasional, 〈Cabang Chaozhou Institut Malaria Provinsi Taiwan〉, https://memory.nhrm.gov.tw/NormalNode/Detail/188?MenuNode=25↩2345678910111213141516
- Cai Ziyi, 〈Studi tentang Pencegahan Malaria di Taiwan Pasca-Perang (1945-1965)〉, Perpustakaan Online Huayi, https://www.airitilibrary.com/Article/Detail/U0031-0207200917350535↩234567
- Kementerian Kesehatan, 〈50 Tahun Eradikasi Malaria di Taiwan: Pejuang Anti-Malaria Menerima Sertifikat Penghargaan, Pengendalian Vektor Beralih dari Penyemprotan Kimia ke Pengendalian Ekologis〉, https://mohw.gov.tw/fp-16-19702-1.html↩2345
- Jurnal Bulanan Alumni NTU, Cai Kunxian, 〈Dokter Nyamuk yang Selalu Terdepan—Profesor Tsai Ing-wen〉, https://ntualumnibm.ntu.edu.tw/bm.bimonthly.article/detail/sn/9392↩2
- Wikimedia Commons, 〈File:DDT spray 1958.jpg〉, Centers for Disease Control and Prevention AS, domain publik, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:DDT_spray_1958.jpg↩
- Wikimedia Commons, 〈File:Anopheles albimanus mosquito.jpg〉, Public Health Image Library Centers for Disease Control and Prevention AS, domain publik, https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Anopheles_albimanus_mosquito.jpg↩
- World Health Organization, “Countries and territories certified malaria-free by WHO,” https://www.who.int/teams/global-malaria-programme/elimination/countries-and-territories-certified-malaria-free-by-who↩23
- Kementerian Luar Negeri, 〈Ucapan Belasungkawa dan Penghormatan Mendalam dari Kementerian Luar Negeri kepada Profesor Tsai Ing-wen, Bapak Anti-Malaria Taiwan〉, https://www.mofa.gov.tw/News_Content.aspx?n=95&sms=73&s=97385↩2345