Taisugar: Dari Kerajaan Manis Penopang 74% Devisa Taiwan, hingga 'Tuan Tanah Nyeleneh' Berlaba Tertinggi di 2025

Pada 2025, laba bersih setelah pajak Taisugar mencetak rekor baru senilai NT$7,4 miliar, padahal perusahaan berusia seabad ini sudah lama tak lagi mengandalkan penjualan gula. Dari tulang punggung kolonial era pendudukan Jepang hingga urat nadi ekonomi pascaperang, simak bagaimana Taisugar berbalik arah dari tebu, dan mendefinisikan ulang arti 'manis' lewat anggrek, bioteknologi, serta bangunan sirkular.

Ringkasan 30 detik: Pada 1950-an, dari setiap NT$100 devisa Taiwan, NT$74 berasal dari gula Taisugar. Kini, bisnis gula Taisugar merugi setiap tahun, tetapi pada 2025 perusahaan ini justru mencetak rekor laba baru sebesar NT$7,468 miliar berkat minyak goreng, anggrek, dan pengembangan lahan. Tuan tanah terbesar di Taiwan ini sedang bertransformasi dari "perusahaan gula" menjadi pelopor "ekonomi sirkular".

"Kereta memasuki stasiun, mohon mundur, harap perhatikan langkah saat naik-turun!" Di Stasiun Wushulin, Tainan, kepala stasiun kehormatan Lin Hai-hsi yang berusia 92 tahun masih berdiri tegak sambil mengibarkan bendera merah-hijau di tangannya1. Ia bergabung dengan Wushulin sejak usia 16 tahun dan telah menghabiskan enam dekade di sana — bahkan dulu, saat mengantar seserahan pernikahan ke rumah calon istrinya, ia meminta bantuan "kereta patroli 109" milik Taisugar untuk mengantarnya dengan romantis2. Kehidupan Lin Hai-hsi terikat erat dengan Taisugar, dan bendera merah-hijaunya menjadi saksi perjalanan seabad industri gula Taiwan — dari puncak kejayaan, kemunduran, hingga transformasi gemilang.

Kerangka Manis: Menopang Separuh Devisa Taiwan

Di era "mendorong industri lewat pertanian", Taisugar bukan sekadar perusahaan — ia adalah kas negara Taiwan. Pada 1950-an, nilai ekspor gula pernah menyumbang 74% dari total pendapatan devisa Taiwan3. Kala itu, di Dataran Chianan, jalur kereta "lima-fen" yang rapat bagai jaring laba-laba menghubungkan perkebunan milik sendiri dengan ladang tebu kontrak petani, sementara pabrik gula raksasa menjulang di tengah sawah — itulah puncak kejayaan ekonomi gula Taiwan4.

Namun, manisnya ini ada harganya. Pada era pendudukan Jepang, Taisugar adalah alat yang melayani kepentingan negara induk kolonial; setelah perang, ia menjadi "mesin ATM" bagi pemerintah untuk mengendalikan ekonomi. Demi menjaga kesejahteraan petani tebu, Taisugar dalam jangka panjang membeli tebu dengan harga di atas harga gula internasional, sehingga bisnis intinya terjebak dalam siklus kerugian yang tak terhindarkan. Seiring fluktuasi harga gula internasional dan naiknya biaya tenaga kerja domestik, pabrik-pabrik gula tutup satu demi satu; dari lebih 40 pabrik gula di seluruh Taiwan, kini hanya tersisa segelintir yang masih beroperasi, seperti Huwei dan Shanhua5.

📝 Catatan kurator: Sejarah Taisugar adalah cerminan ekonomi Taiwan — dari industri primer yang bergantung pada lahan, dipaksa mencari jalan bertahan di celah pasar internasional.

Anggrek Bulan dan Ekstrak Kerang: Ketika "Usaha Sampingan" Menjadi Bisnis Utama Baru

Saat gula tak lagi manis, Taisugar mulai mencari peluang hidup dari "bisnis sampingan". Mengejutkannya, perusahaan gula ini justru menjadi pusat pembibitan anggrek bulan (Phalaenopsis) kelas dunia. Pada Pameran Anggrek Internasional Taiwan 2025, Taisugar sekaligus meraih 14 penghargaan, dengan "Nenek Taisugar" (Taisugar A-má) sebagai salah satu varietas hortikultura klasik yang tetap populer6.

Bisnis bioteknologi menjadi sorotan transformasi lainnya. Dengan memanfaatkan teknologi inti dari produksi gula dan peternakan babi, Taisugar mengembangkan ekstrak kerang (clam essence) yang pangsa pasarnya pernah melampaui 60%, bahkan mengubah limbah seperti sisik ikan dan cangkang tiram menjadi kolagen dan produk bernilai tambah tinggi melalui teknologi7.

"Ini bukan soal teknologi, ini cerita tentang kepercayaan."

Ketika skandal residu obat penambah otot "zilpaterol" mencuat pada 2024, kredibilitas merek Taisugar sempat tergoncang. Namun, setelah 84 sampel lanjutan seluruhnya dinyatakan negatif, dan pengadilan memutuskan bahwa hanya satu kotak sampel yang tercemar, kontroversi ini justru memperkuat kepercayaan konsumen terhadap daging babi produksi dalam negeri Taisugar8.

Tuan Tanah Terbesar di Taiwan: Menumbuhkan "Ekonomi Sirkular" di Atas Lahan

Dengan sekitar 50.000 hektare lahan, Taisugar memang pantas disebut "tuan tanah terbesar" Taiwan. Namun Taisugar tak lagi sekadar hidup dari menjual warisan leluhur — ia mulai mencoba hidup berdampingan dengan lahannya.

Di Shalun, Tainan, Taisugar menggagas "Kawasan Perumahan Sirkular Hijau Pintar" pertama di Taiwan. Bangunan ini bukan lagi soal jual-beli biasa, melainkan "sewa menggantikan jual" — setiap material bangunan memiliki "identitas", sehingga bisa didaur ulang setelah dibongkar di masa depan. Proyek ini bahkan tampil di Milan Design Week, Italia pada 2026, memperlihatkan kepada dunia kekuatan Taiwan dalam arsitektur berkelanjutan9.

📝 Catatan kurator: Dari menjual gula ke menyewakan rumah, Taisugar sedang belajar bagaimana tidak lagi "menghabiskan" lahan, melainkan "mensirkulasikan" nilainya.

Penutup: Gaung Perusahaan Berusia Seabad

Pada 2025, laba usaha Taisugar mencapai NT$4,698 miliar, dengan laba bersih setelah pajak mencetak rekor baru sebesar NT$7,468 miliar10. Meski sebagian besar berasal dari investasi non-inti dan pengembangan lahan, langkah Taisugar di bidang bioteknologi dan energi hijau membuat perusahaan berusia seabad ini perlahan lepas dari label "beban warisan".

Saat kita menaiki kereta lima-fen berkecepatan hanya 10 km/jam di Wushulin, menyaksikan Kepala Stasiun Lin Hai-hsi mengibarkan bendera hijau, irama hidup yang lambat itu mengingatkan kita: Taisugar mungkin bukan lagi kerajaan manis yang berkuasa seperti dulu, tetapi ia kini menjaga masa lalu dan masa depan tanah Taiwan ini dengan cara yang jauh lebih tangguh.


Referensi

  1. Buletin Taisugar: Kepala Stasiun Bahagia dari Wushulin — Data resmi situs Taisugar
  2. One Little Day: [Taisugar] Menyusuri Waktu Lama, Bernostalgia Bersama Pekerja Senior — Kolom One Little Day
  3. Majalah Taiwan Panorama: Melintasi Abad, Taisugar Mencari "Manis" Baru dalam Transformasi — Artikel Majalah Taiwan Panorama
  4. Our Island: [Sejarah Gula] Catatan Masa Senja Tebu Taiwan — Public Television Service (PTS) News Network
  5. Situs Resmi Taisugar: Skala Usaha — Data resmi situs Taisugar
  6. Situs Resmi Taisugar: Keahlian Seni Memukau Dunia, Anggrek Bulan Taisugar Raih 14 Penghargaan di Pameran Anggrek — Data resmi situs Taisugar
  7. Ekonomi Sirkular Bioteknologi Taisugar Ciptakan Prestasi Gemilang BUMN — Laporan GBI Monthly
  8. Liberty Times: Kritik terhadap Wali Kota Lu Shiow-yen soal "Zilpaterol Rugikan Taisugar" Digugat, Hakim Nilai "Berdasar Fakta", Tak Dipidana — Laporan Liberty Times
  9. Siaran Pers Kementerian Ekonomi: Rumah Sirkular Taisugar Tampil di Milan Design Week, Kekuatan Baru Arsitektur Berkelanjutan Taiwan Pukau Dunia — Siaran Pers Kementerian Ekonomi
  10. Economic Daily News: Taisugar Raup Laba NT$7,4 Miliar di 2025, Tertinggi Sepanjang Sejarah — Laporan UDN Money
Tentang artikel ini Artikel ini disusun secara kolaboratif oleh komunitas serta ditulis dan ditinjau dengan bantuan AI.
Kata kunci
Taisugar Sejarah Industri Gula Transformasi Ekonomi Sirkular Anggrek Bulan
Bagikan

Bacaan lanjutan

Anda mungkin juga ingin membaca

Ekonomi Artikel resmi

Keajaiban Ekonomi: Dari Irisan Ubi Jalar hingga TSMC, Kisah Kebangkitan yang Diperjuangkan 20 Juta Orang

Pada awal 1950-an, pendapatan rata-rata per kapita Taiwan hanya sedikit di atas 100 dolar AS. Bagi seorang anak perempuan keluarga petani, “hari yang baik” berarti menyantap irisan ubi jalar dengan campuran 30 persen beras putih. Empat puluh tahun kemudian, pendapatan per kapita Taiwan menembus 10.000 dolar AS dan negara ini masuk jajaran “Empat Macan Asia”. Namun, titik awal kisah kebangkitan ini bukanlah kawasan pemrosesan ekspor, melainkan reformasi agraria yang menukar sertifikat tanah dengan peluang—di tengahnya terdapat buruh perempuan yang bekerja 12 jam sehari, pemilik usaha yang mempertaruhkan seluruh tabungan keluarga untuk mendirikan pabrik kecil, dan pertaruhan besar senilai 200 miliar dolar Taiwan ketika cadangan devisa hanya 1 miliar dolar AS.

閱讀全文
Kuliner Artikel resmi

Kue Lapis Nanas: Dari Poin Pajak Pilihan ke Nilai Industri 250 Milyar Taiwan 'Batu Emas'

Pada tahun 1945, kios 'Yan Xin Fa' di Taichung mengubah kue pernikahan tradisional menjadi kue lapis nanas kecil. Dari campuran labu kuning yang menurun pada ekspor 1970-an hingga pemulihan rasa asam-manis nanas tanah di 'Mountain Hot Valley' pada 2009, 'batu emas' kecil ini selama 80 tahun terhubung dengan nasib pertanian Taiwan, kini mencapai nilai produksi lebih dari 250 milyar yen Taiwan baru, menjadi cita rasa paling representatif Taiwan bagi turis asing.

閱讀全文
Kuliner Artikel resmi

HeySong Soda dan Sarsaparilla: dari 'Barang Kelas Tiga' yang Dihinakan hingga Legenda Seabad yang Mengalahkan Raja Cola

Ini bukan sekadar botol minuman berkarbonat biasa, melainkan sejarah kelangsungan hidup modal etnis Taiwan di tengah penguasaan masa pendudukan Jepang dan gelombang globalisasi, bagaimana ia bertahan berkat 'aset 17 dolar' dan 'Masa Depanku Bukan Mimpi'.

閱讀全文
Kuliner Artikel resmi

Tang-tsung: Gula yang Tersembunyi di dalam Lubang Putih "Gula Perlawanan"

Pada 1940-an, petani Taiwan untuk menghindari monopoli gula tebu oleh polisi Jepang, menarik sirup coklat gelap menjadi tabung putih seperti bawang — "seni penyamaran" petani, kristal kebijakan akar rumput selama seratus tahun. Setiap potong tang-tsung memiliki 16 lubang besar dan 16 lubang kecil yang presisi, menopang perjuangan manis renyah Taiwan selama satu abad.

閱讀全文